Mengenal Alkitab

Teladan Abraham Di Pengharapan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 18 March 2015 - 17:23 | Dilihat : 3182

Ibrani 6:13-20

Tanpa pengharapan, sesungguhnya iman seseorang itu sia-sia saja.  Tanpa pengharapan, kepercayaan seseorang terhadap sesuatu itu tidak ada artinya dan menjadi hambar.  Sama halnya dengan iman dan penantian pada Tuhan, akan sia-sia belaka, jika tidak dibarengi dengan pengharapan.  Sebab pengharapanlah yang tetap mengarahkan pandang orang kepadaNya.  Pengharapan yang mengondisikan orang setia kepadaNya.  Penulis Ibrani menyebut pengharapan itu bagaikan sauh bagi jiwa.  Jangkar yang membuat orang tetap ada pada posisi benar dan aman, meskipun ada begitu banyak tantangan dan halangan dalam beriman. 

Benar, berharap kepada orang, bisa mengecewakan.  Sebab orang bisa dengan mudah berjanji, tapi dengan mudah pula ingkar dan tak menepati.  Tapi bagaimana dengan Tuhan? Apakah masih perlu diragukan bahwa janji keselamatanNya Allah adalah “Ya” dan “Amin”.   Bagaimanapun tidak mungkin dipungkiri jika ada orang yang memang  ragu dengan janji itu, oleh dan dengan berbagai macam alasan dan dalihnya. Setidaknya jemaat penerima surat Ibrani adalah salah satu contoh nyatanya.  Kendatipun disebutkan mereka rajin dalam pelayanan sosial dengan menyumbang kepada orang-orang kudus (6:10), tapi nyatanya kerajinan mereka tak dibarengi dengan spirit pengharapan.  Boleh jadi apa yang dilakukan hanya memenuhi kebutuhan sosial semata, kalau enggan menyebut terjebak dalam rutinitas ritual pelayanan rohani, tanpa dibarengi spiritualitas yang mantap.  Akibatnya tentu saja berdampak pada kelambanan mereka menerima kebenaran (6:12).

Hilang pengharapan adalah masalah serius.  Karena itu penulis Ibrani perlu menegaskan sekaligus mengingatkan kembali bagaimana keseriusan Allah dalam janjinya.  Terutama bagaimana Allah setia dan memelihara janjiNya kepada Abraham dan keturunannya (6:13).  Tak sekadar berucap kata, Allah pun memberi tanda “materai” atas janji yang diberi. Yaitu sumpah kepada diriNya sendiri (6:13).  Sebab, tradisi orang yahudi dalam bersumpah adalah bersumbah mengatasnamakan orang atau sosok yang lebih tinggi dari dirinya (6:16), seperti raja atau penguasa.  Berbeda dengan Allah, dalam sumpahnya Allah bersumpah atas diriNya sendiri.  Sebab tidak ada lagi pribadi yang lebih tinggi dari Dia Sang Akbar.  

Ini adalah bukti keseriusan, sekaligus jaminan Allah atas janjiNya.  Sehingga Dia pun rela mengikat diriNya dengan sumpah (6:17).  Kalau kita coba nalar kembali, sesungguhnya Allah tak perlu sampai berjanji untuk meyakinkan orang yang berhak menerima janji.  Sebab Allah tak mungkin berdusta.  Karena hal itu bertentangan dengan diriNya sendiri, dan mustahil dilakukanNya.  Tapi demi kokohnya pengharapan orang  pada janjiNya, sehingga Dia rela mengikat diri dengan bersumpah.  Ini merupakan anugerah jaminan besar Allah kepada manusia.

Bukan tanpa kesulitan, berpegang pada pengharapan dan janji ilahi, Abraham pun tetap marasakan tantangan.  Namun demikian Abraham tetap bersabar menanti.  Karena kesabarannya itu, pada akhirnya dia memperoleh apa yang Allah janjikan kepadanya (6:15).

Pengharapan Abraham ini disitir kembali oleh penulis Ibrani untuk meneguhkan iman pengharapan pembacanya.  Menjadikan Abraham sebagai teladan sabar dalam pengharapan.   Kalau bapa mereka pernah berhasil dalam kesetiaan dan kesabaran dalam pengharapan, maka sebagai anak , para penerima surat Ibrani patut mencontohnya.

Bukan itu saja.  Sesungguhnya Abraham adalah sekaligus contoh konkrit betapa Allah bukanlah Allah pembohong.  Dia adalah Alah yang menepati semua yang pernah Dia firmankan.  Pun janji keselamatan kepada orang yang dikehendakiNya.  Dengan demikian ragu dalam pengharapan serupa dengan meragukan Allah dalam janjiNya.  Sebuah tindakan yang tentu saja teramat mengecewakan Allah yang setia dan tak berubah itu.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top