Mengenal Alkitab

Imam Besar Menurut Melkisedek

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 25 March 2015 - 09:46 | Dilihat : 4069

Ibrani 7:1-10

Pengharapan kepada Mesias haruslah tetap ada. Tidak boleh pudar, apalagi hilang.  Tanpa pengharapan itu orang akan terseret arus deras pengajaran duniawi yang bisa menjauhkan mereka dari jalan kebenaran ilahi.  Sebab pengharapan itu adalah sauh bagi jiwa orang beriman. Jangkar yang kuat dan aman bagi jiwa.  

Pengharapan itu bukanlah pengharapan biasa, tapi pengharapan besar kepada sosok agung, Kristus Yesus yang adalah Imam Besar Agung, Mesias yang dijanjikan.  Pribadi sama yang juga telah di sangsikan keimamanNya oleh penerima surat Ibrani.  Karena itu, kepada penerima suratnya yang sudah kendor iman, kendor pengharapan (6:19), penulis Ibrani merasa perlu mengingatkan kembali. 

Benar, tidak mudah menerima Kristus sebagai Imam Besar, mengingat keterikatan Yahudi dengan tradisinya yang begitu kuat.  Terkait dengan soalan Imam besar, mereka harus ekstra hati-hati.  Sebab tertanam dalam diri mereka, melecehkan Imam besar, sama saja dengan melakukan pemberontakan terhadap Allah.  Sebab tugas Imam Besar begitu sentral dalam jalinan relasi Allah dan manusia.  Imam besar adalah perantara manusia, sekaligus pelayan Allah untuk mempersembahakn korban penghapus dosa, baik bagi dirinya sendiri dan umat secara keseluruhan.  Maka dari itu urusan dengan imam besar bukanlah urusan main-main.  Lagi, klaim bahwa Yesus adalah Imam Besar Agung pun harus di buktikan kebenarannya. 

Di sinilah kemudian penulis Ibrani menunjukkan pembuktian-pembuktian itu kepada khalayak penerima suratnya.  Dimulai dengan menunjukkan, bahwa keimaman Kristus adalah keimamaman menurut Melkisedek, yang menjadi Imam Besar sampai selama-lamanya. 

Siapa Melkisedek, Dia adalah Imam yang jabatan keimamannya tidak didapatkan karena “legitimasi” suku tertentu.  Seperti kita  ketahui, bahwa orang yang menjadi pelayan Allah, termasuk imam besar, dalam konteks Israel haruslah berasal dari suku Lewi.  Diluar itu tidak diperkenankan ada.

Namun demikian, Melkisedek yang tidak dijelaskan dari mana asal usulnya itu (7:3, nyatanya dihormati oleh bapak moyang Lewi, yakni Abraham sendiri. Dikisahkan, sekembalinya Abraham  dari mengalahkan raja-raja, Melkisedek menyongsong  lalu memberkati dia. Mana lebih besar, orang yang diberkati atau yang memberkati (7:7).  Bukankah Abraham adalah pemilik janji (7:6)?  Lalu mengapa harus “merendahkan diri” dengan menerima berkat dari orang lain lagi.  Ini menunjukkan betapa lebih agungnya sosok Melkisedek dari Abraham sendiri. 

Tidak hanya menerima berkat, kepadanya (Mlekisedek), bahkan Abraham memberikan perpuluhan.  Bukankah yang mendapat (monopoli) tugas untuk menerima jabatan imam, mendapat tugas, memungut persepuluhan dari umat Israel, menurut hukum Taurat adalah dari anak-anak Lewi? (7:5)  Lalu siapakah Melkisedek ini? Bukan keturunan Lewi, atau keturunan Abraham (moyang Lewi).  Yang lebih mengejutkan, dan di luar kebiasaan, Melkisedek, yang bukan keturunan mereka itu justru memungut persepuluhan dari Abraham dan memberkati  dia, walaupun ia adalah pemilik janji (7:6).  Bukankah ini berarti Lewi, sebagai suku yang berhak menerima persepuluhan, pun dipungut juga persepuluhan, melalui perantaraan Abraham, moyang mereka (7:9).

Bagian ini menunjukkan betapa pengharapan pada Kristus Imam Besar Agung tidak didasarkan kepada suatu keyakinan kosong atau semu belaka.  Tapi didasarkan pada  firman Allah yang begitu terang dan jelas.  Betapa pengharapan kepada Kristus di penantian akhir masa, bukanlah pengharapan tanpa dasar, tapi pengharapan yang progress terpenuhi dan terlengkapinya sudah ditunjukkan melalui momentum-momentum yang ada.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top