Tokoh

Francis Schaeffer

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Wed, 8 April 2015 - 14:38 | Dilihat : 1473

Francis Schaeffer (1912 -- 1984) lahir di Philadelphia, Pennsylvania. Meskipun lahir dalam keluarga Kristen, namun ia tidak dididik secara Kristen. Pada tahun 1930, dalam usia 18 tahun, Schaeffer bertobat. Hidupnya berubah secara drastis. Ia meninggalkan sekolah dagang dan memasuki perguruan tinggi. Tahun 1931, ia mulai kuliah di Hampden-Sidney College, Virginia. Tahun 1935, ia lulus dengan predikat "magna cum laude" dan merupakan mahasiswa Kristen yang paling menonjol di kelasnya.

Pada masa itu sedang terjadi pertentangan antara golongan modernis dan fundamentalis dalam gereja Protestan Amerika. Gereja Presbiterian Utara, denominasi Schaeffer, terpecah dan golongan teologi liberal mengambil alih kepemimpinan denominasinya. Puncaknya adalah ketika diadakan ceramah dan perdebatan tentang "mengapa Alkitab bukan firman Allah dan mengapa Yesus bukan Anak Allah". Dalam perdebatan tersebut, Schaeffer membela pandangan golongan ortodoks Kristen. Pada tahun 1935, Schaeffer mulai kuliah di Westminster Theological Seminary sebagai persiapan memasuki bidang pelayanan. Di sini ia belajar di bawah bimbingan J. Gresham Machen dan Cornelius Van Til.

Pada tahun 1936, krisis teologi Gereja Presbiterian Utara berujung pada perpisahan antara golongan konservatif dan golongan modernis. Schaeffer merupakan salah seorang yang memisahkan diri. Tahun 1938, Schaeffer memulai tugas kependetaan di Gereja Presbiterian Perjanjian di Grove City, Pennsylvania. Pengalaman pelayanan pastoral Schaeffer membentuk pola kerja dalam hidupnya. Schaeffer mencoba menyajikan kebenaran dalam istilah-istilah yang dapat dimengerti semua anggota jemaatnya. Pada tahun 1943, Schaeffer dipanggil ke Gereja Presbiterian Alkitab di St. Lois, Missouri. Di sinilah ia melayani kaum muda yang akhirnya berkembang menjadi pelayanan kaum muda internasional.

Tahun 1948, Schaeffer dan keluarganya pindah ke Lausanne, Swiss, mendirikan badan penginjilan bagi anak-anak, Children for Christ. Di Eropa, Schaeffer terus berkhotbah melawan liberalisme dan aliran eksistensialisme. Tahun 1951, Schaeffer menghadapi krisis rohani. Di satu sisi, ia "merasakan beban yang kuat untuk memertahankan kekristenannya, tetapi di sisi lain, ia melihat kekristenan tidak banyak mengalami kemajuan". Masalah itu terkuak karena dua hal. Pertama, kehidupan kekristenan di kalangan ortodoks tidak terlihat jelas. Kedua, iman pribadinya bukanlah suatu pengalaman yang hidup dan penuh sukacita seperti sebelumnya.

Setelah menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari Alkitab dan perenungan, ia berkesimpulan: "Sementara saya merenungkan kembali alasan mengapa saya menjadi orang Kristen, saya melihat kembali bahwa ada banyak alasan yang memadai untuk mengetahui bahwa Allah Yang Maha Kuasa yang bersifat pribadi benar-benar ada dan bahwa kekristenan itu benar."

Pada tahun 1954, keluarga Schaeffer mendirikan sebuah tempat perlindungan orang-orang yang mencari pertolongan. Pada tahun 1955, krisis besar mengancam pelayanan ini, dan ia tetap mengajarkan kebenaran pada orang-orang dari pelbagai kalangan yang datang untuk mendengar Injil dan pengajaran.

Dalam perkembangan selanjutnya, pengajaran Schaeffer lebih bersifat sosiologis dan politis. Dia melontarkan serangkaian analisis tentang subjek besar, seperti ekologi, gereja, kemurnian doktrin, aborsi, eutanasia, perang dan damai, dan hak warga negara. Dia juga menulis banyak buku yang diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Inti pelayanan pastoral Schaeffer ialah belas kasihan pribadi yang disertai dengan sistem apologetika seutuhnya. Caranya adalah mendengarkan keluhan orang secara saksama dan simpatik. Ia disiapkan untuk "menghapus air mata yang sesungguhnya" bagi orang-orang yang dilukai oleh masalah-masalah kontemporer dan bagi masyarakat yang terhilang dan terjebak untuk melakukan aborsi.

Menurutnya, prapenginjilan diperlukan sebagai persiapan bagi seseorang untuk menerima Injil, dan hanya dengan mendengarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, seseorang dapat memberikan jawaban yang tepat. Para pakar atau orang yang buta huruf pun harus menjalani rute pertobatan yang sama dengan iman dalam karya Allah di dalam Kristus. Prapenginjilan ialah membawa orang-orang untuk mengenal kebutuhan tersebut.

Schaeffer tidak pernah berhenti membina kemurnian gereja, dan dalam akhir masa hidupnya, ia tetap mengkritik penginjilan kontemporer. Ia membimbing rekan-rekannya yang ikut memisahkan diri untuk memerlihatkan kasih dan juga membela kebenaran. Ia juga memasuki suatu pengertian baru tentang hubungan antara berjuang untuk memertahankan iman dan dipimpin Roh Kudus. Schaeffer banyak mempengaruhi perkembangan gereja-gereja Presbiterian konservatif di Amerika.

Lihat juga

Komentar


Group

Top