Mengenal Alkitab

Lagi, Keimaman Yesus Unggul Dari Lewi

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 8 April 2015 - 14:42 | Dilihat : 2232

(Ibrani 7:19-28)

Salah satu alasan mengapa perlu Imam lain di luar keturunan Lewi sudah disinggung minggu lalu.  Yaitu, karena Imam-imam Lewi tidak dapat melakukan dengan sempurna tugas yang  ditambatkan di pundak mereka (7:11). Karena itu perlu sosok Imam lain yang jauh lebih sempurna, baik kualitas  personalnya, maupun kualitas karyanya.  Sosok itu, seperti disinggung minggu lalu adalah sosok Imam yang keimamamnnya sendiri tidak mengikuti pola tradisi yang biasa (berasal dari suku Lewi), tapi mengikuti pola Melkisedek yang jauh lebih tinggi dari pada Abraham, yang notabene adalah Bapak Moyang Lewi sendiri. Sosok yang dimaksudkan oleh penulis Ibrani ini mengarah kepada satu pribadi tunggal, yaitu Yesus Kristus sendiri. 

Sosok Imam Agung itu harusnya menjadi pengharapan yang jauh lebih baik bagi kaum Ibrani, yang akan mengarahkan mereka kembali mendekat kepada Allah.  Mengingat, tugas yang sama, yang dipercayakan kepada para Imam nyatanya telah gagal, tidak bisa dilakukan dengan  sempurna.  Begitu pula Hukum yang mereka pegang teguh dan ikuti, nyatanya juga tidak bisa diikuti dengan sempurna dan tidak membawa kepada kesempurnaan (7:19). 

Maka dari itu diperlukan sosok imam baru yang memiliki kualifikasi sempurna.  Dan itu tidak lain kecuali Tuhan/ Allah sendiri, yaitu Tuhan Yesus Kristus.  Kualifikasi sempurna, yang tentu saja jauh lebih unggul dari para imam Lewi ditunjukkan dalam beberapa hal berikut:

  •  Yesus diangkat menjadi imam dengan sumpah, sementara para imam Lewi tidak dilakukan (21). 

"Tuhan telah bersumpah dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya"

Soal sumpah pun juga telah disinggung beberapa minggu lalu, menunjukkan betapa seriusnya suatu persoalan.  Sekaligus menunjukkan jaminan atas janji yang diucapkan.  Sumpah, dalam Ibrani disebut dengan “syevu ‘a” berasal dari kata ‘tujuh’, alias bilangan keramat, terkait dengan upacara penyumpahan. Mengandung arti pengutukan atas seseorang yang mengingkarinya. 

  • Imam Lewi adalah makhluk biasa yang hidupnya akan dibatasi oleh maut. Karena itu mereka perlu memiliki jumlah yang banyak (tapi juga terbatas dalam kesukuan) agar jabatan mereka langgeng (23).  Sama sekali berbeda dengan Yesus yang jabatannya akan terus Langgeng, Abadi selamanya, tanpa perlu ada yang menggantikan Dia, karena Dia adalah sang empunya semesta.  Sang Awal dan Akhir (24). 

Dengan begitu, tugasNya untuk menyelamatkan orang-orang yang datang kepada Allah melalui Dia, dan untuk mengajukan permohonan kepada Allah bagi orang-orang itu, dapat berlangsung tanpa ada batasan ruang pun waktu (selama-lamanya) (25).

  • Yesus adalah Imam Agung yang Suci kudus adanya.  Karena tidak terdapat kesalahan dan dosa apapun (26).  Pun ketika Dia dicobai atau ketika menghadapi permasalah berat menjalani tugas penyelamatan. 

Sama sekali berbeda dengan para Imam Lewi yang penuh dengan noda dosa, sehingga harus memohon ampun dosa bagi dirinya terlebih dahulu, dengan mempersembahkan kurban, sebelum memohonkan ampun dengan mempersembahkan korban, bagi  dosa-dosa umat (27).

  • Yesus bukan lagi mempersembahkan kurban pengampunan dosa bagi umat-umatNya, tapi justeru menjadi korban itu sendiri.  Pengorbanan sempurna yang dilakukan hanya sekali saja, untuk selama-lamanya, ketika Ia mempersembahkan diri-Nya sendiri sebagai kurban.

Dengan keunggulan-keunggulan itu, besar harapan penulis Ibrani agar para pembacanya dapat kembali ke Pangkuan Kristus, dan bukannya malah lari dan mengarahkan pandang mereka kembali pada wawasan dunia lama (hukum Yahudi) yang tidak membawa kepada kesempurnaan. Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top