Sapaan Gembala

Sangkal Diri Dan Pikul Salib

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 8 April 2015 - 17:13 | Dilihat : 20363

Panggilan Kristiani tertinggi dalam hal mengikut Yesus Kristus adalah menyangkal diri dan memikul salib (Matius 16:24). Ah, siapa yang suka? Dapat dipastikan, tidak akan ada yang menyukainya. Sekalipun dalam basa basi agama hal ini sering terucap. Namun, dalam kenyataan hal itu susah terlihat. Manusia sangat mencintai dirinya. Bagaimana mungkin dia diminta untuk menyangkalinya? Narsis, individualis, egois, adalah natur berdosa yang sering kali mencolok dalam kehidupan ini. Karna itu, menjadi pertanyaan penting sejauh mana kita mencintai DIA dan mengikuti perintah NYA.

Sangkal diri, bukanlah menyiksa diri (askese) seperti yang banyak dilakukan umat diabad pertengahan. Atau ritual puasa yang dijalankan untuk menunjukkan penyesalan atau sebaliknya, yaitu kesalehan. Sangkal diri adalah penguasaan diri atas keinginan diri. Ada banyak keinginan kita yang tak bertepi. Mulai dari materi yang tak pernah cukup sehingga kita melegalisasi segala cara. Keinginan tubuh yang yang tak pernah puas, yang membuat kita rela menghabiskan uang yang tidak sedikit. Namun jika soal pelayanan kita bisa jadi sangat perhitungan untung rugi. Pakaian, makanan, hiburan, gaya hidup yang berubah menjadi identitas dan harga diri. Belum lagi soal emosi yang seringkali tidak terkendali. Mengumbar marah, dan selalu mau menang sendiri. Sangkal diri, adalah penguasaan diri dengan pertolongan Roh Kudus sebagai buah hidup orang percaya yang sudah semestinya ada dan nyata. Sehingga, setiap keinginan yang ada dapat diredam dan kita belajar hidup cukup dalam rasa syukur. Tak hidup memuaskan diri, melainkan rela berbagi dengan sesama. Dengan sangkal diri hidup tak lagi self oriented, melainkan Christ oriented (Filipi 2:5-8). Dengan sangkal diri kita membangun hidup yang penuh arti, dan selalu menjadi saksi NYA.

Sementara pikul salib, juga bukan penderitaan, atau aniaya, karena kesalahan sendiri. Itu adalah konsekwensi logis sebab akibat. Pikul salib adalah penderitaan karena kebenaran. Itu sebab dalam khotbah di bukit Tuhan Yesus berkata; Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, sebab merekalah yang empunya Kerajaan sorga (Matius 5:10). Kebenaran memang membawa kita pada situasi tidak nyaman. Terasing dari jalan dunia yang memuaskan kedagingan. Tak bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai yang diinginkan. Dan, cemooh atau fitnah yang menghujam deras, mencabik harga diri, namun harus tetap menahan diri. betapa tidak nyamannya. Pikul salib bukan tak boleh hidup kaya, atau tak boleh makan enak, melainkan hidup berbeda dengan nilai dunia. Semua yang kita lakukan harus mencerminkan kebenaran yang seutuhnya. Nah, konsekwensi yang datang dari hidup benar, itulah pikul salib. Sudah bisa dibayangkan betapa beratnya hidup benar diantara orang tidak benar, atau hidup terang dikegelapan hidup. Namun inilah panggilan Kristiani yang harus kita jawab.

Dikematian NYA diatas kayu salib, Yesus Kristus telah mengalahkan dosa. Namun jangan lupa, untuk itu DIA menyangkal ke Illahian NYA, menjadi sama dengan manusia. Dan, DIA telah rela diolok dan memikul salib menuju bukit Golgota. Banyak perempuan Sion yang menangisi diri NYA, namun dengan tegas Yesus berkata; Tangisilah dirimu sendiri! Kebenaran menjadi kekuatan utama menjalani perjalanan salib. Karena itu sangkal diri dan pikul salib bukan malapetaka, melainkan panggilan bahagia. Ada kekuatan yang luar biasa, yaitu kasih Kristus yang menyukakan hati. Seorang ibu menjadi kuat membesarkan anaknya, bahkan dikesendiriannya, itu karena kasih pada anaknya. Terlebih lagi kasih Yesus Kristus yang maha besar dan tak terhingga itu.

Kasih dalam kematian diatas kayu salib, dan kuasa kebangkitan yang mutlak telah nyata didalam Yesus Kristus. Giliran kita mendemonstrasikan kuasa salib Kristus sebagai panggilan Kristiani, tapi bukan demo keagamaan.

Ketika kematian bukan lagi masalah, maka hidup semestinya adalah pengabdian tiada henti.

Lihat juga

Komentar


Group

Top