Sapaan Gembala

Kesabaran Hidup Orang Percaya

Penulis : Pdt Netsen | Thu, 3 October 2019 - 14:49 | Dilihat : 34
Tags : Kesabaran Netsen Orang Percaya Sabar

Di dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita pasti akan diperhadapkan dengan ujian kesabaran. Kita hidup di dunia yang dapat menyajikan segala sesuatu dengan mudah dan cepat. Sehingga tidak salah kalau ada orang yang menamakan dunia kita adalah dunia yang tidak memiliki kesabaran. Segala sesuatu sebisa mungkin dilakukan dengan segera dan cepat. Hal ini akan memberi dampak kepada manusia dalam berpikir dan bertindak. Mereka yang memiliki kesabaran dikaitkan dengan orang-orang yang tidak terlalu berhasil dan karena itu mempunyai banyak waktu dalam hidupnya. Ada harga yang harus dibayar akhirnya untuk menghidupi ketidaksabaran ini. Kekecewaan, frustasi, stress, ketidakbahagiaan adalah beberapa hal yang akan menyertai kebudayaan tidak sabar. Di sisi yang lain, orang-orang percaya juga tidak kebal dengan kekacauan ini. Ya, di sisi yang satu kita sangat tidak sabar untuk mendapatkan apa yang kita mau, sementara di sisi yang lain, ironisnya kita bahkan terlalu sabar untuk mengejar apa yang dikehendaki Tuhan dalam pimpinan Tuhan.

Mungkin kita akan bertanya, apa perbedaan antara kesabaran yang merupakan salah satu kebajikan dan karakteristik Kristen dengan sikap acuh tak acuh? Dan memang kita perlu untuk bisa membedakan antara kedua hal tersebut sehingga tidak terjebak dengan fenomena yang muncul yang menyerupai kesabaran sebagai kebajikan Kristen. Yang jelas bahwa, acuh tak acuh secara fenomena bisa sangat menyerupai kesabaran, suatu sikap yang tak terganggu dengan sesuatu yang tak kunjung tiba. Namun ini bukanlah kesabaran yang diajarkan dalam kitab suci. Alkitab mengajarkan bahwa kesabaran sebagai kebajikan Kristen merupakan buah Roh (Gal. 5:22), hasil pembaharuan dalam diri orang berdosa yang dikerjakan oleh Allah. kesabaran sebagai berkat, anugerah dari Tuhan.

Kesabaran tidak berhenti pada apa yang Allah kerjakan, sehingga selanjutnya orang percaya menjadi pasif dan tidak berbuat apa-apa untuk bertumbuh dalam kesabaran. Kesabaran perlu terus dipelihara melalui perenungan akan Firman sehingga orang percaya terus bertumbuh dalam kesabaran. Kejarlah kesabaran (I Tim. 6:11). Dalam kesabaran ada penantian dan pengharapan, bahkan kasih (1 Kor 13:7). Sementara orang yang acuh tak acuh memang tidak ada ekspektasi. Kita dapat dikatakan memiliki kesabaran jika itu adalah kesabaran untuk menantikan apa yang kita sungguh-sungguh dambakan. Alkitab juga mengajarkan bahwa kesabaran tidak bersifat pasif. Yesus dengan tekun dan sabar menanggung bantahan dari orang-orang berdosa yang melawan Dia dan tidak menjadi lemah dan putus asa (Ibr. 12:3). Yakobus juga mengajarkan bahwa ujian iman kita menghasilkan karakter ketekunan atau kesabaran (Yak. 1:3-4).

Kita sangat memerlukan kesabaran, mengapa? karena kesabaran adalah teladan yang diberikan oleh Tuhan Yesus. Yesus mengalirkan kehidupan kesabaran yang sempurna yang teruji melalui penolakan serta kekerasan yang dialamiNya selama berada di dunia. Belajar bersabar berarti belajar untuk menjadi seperti Yesus. Selanjutnya perlunya bersabar adalah kita belajar untuk mengerti dan mengalami saat yang ditentukan oleh Allah yang membuat segala sesuatu indah pada waktunya masing-masing. Termasuk ketika mengalami penderitaan, kesabaran berarti menaklukan diri pada kehendak Allah, tidak mencari jalan sendiri secara duniawi, melainkan memohon tuntunan dan kekuatan dari Tuhan. Orang yang mengalami kairos Allah akan menikmati berkat yang lebih besar daripada mereka yang menentukan waktu mereka sendiri. Selain mengerti dan mengalami saat yang ditetapkan Allah, kesabaran juga membuka pengalaman yang lebih dalam akan kemahakuasaan Allah, kasih pemeliharaan serta kebaikanNya. Kita akan mendapati bahwa Tuhan senantiasa mencukupkan apa yang kita perlu dan butuhkan.

Alasan berikut mengapa perlunya kesabaran bahwa kita akan mengenal indahnya proses yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan hidup kita mengikut Dia. Banyak orang ingin segera mendapatkan, segera mau sampai di tempat tujuan. Memang tidak ada salah memiliki tujuan dalam hidup ini, namun obsesi untuk tiba pada tempat tujuan itu bisa menghindarkan kita untuk menghargai betapa pentingnya proses yang sedang terjadi. Sesungguhnya pembentukan Tuhan atas diri kita terjadi dalam proses dan bukan hanya pada saat kita tiba pada tujuan yang kita mau capai. Selain beberapa alasan di atas, maka alasan lain perlunya kesabaran adalah akan terjadi koreksi terhadap arah yang salah ketika kita belajar sabar. Mereka yang tidak sabar akan begitu gampang menabrak dan mengabil tujuan yang salah. Setelah sadar koreksinya jadi jauh lebih sulit. Sebaliknya, orang yang memiliki kesabaran tidak mudah tersesat, karena di dalam ketenangannya ia akan mengenal dan peka akan pimpinan Tuhan. Di dalam hal ini kita dapat melihat bahwa kesabaran menggambaran sikap hidup yang bijaksana (2 Kor. 11:19), kesabaran mencegah kesalahan-kesalahan besar (Pkh. 10:4)

Kesabaran bukanlah tujuan akhir bagi dirinya sendiri, melainkan ini berkaitan dengan esensi yang lebih tinggi daripada sekedar karakter manusiawi. Kesabaran membawa kita ke dalam keserupaan dengan Kristus. Dengan mempelajari kesabaran Yesus Kristus, kita semakin dipersatukan dengan pribadi Yesus Kristus sehingga kita semakin mengenal Dia. Selanjutnya kesabaran mengerjakan ketekunan dan stamina untuk berjalan di dalam jalan Tuhan. Dan dengan kesabaran kita akan menuai keberhasilan yang sejati dalam menggenapkan rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Banyak orang gagal bukan karena tidak tahu apa yang harus dikerjakan, juga bukan karena tidak ada modal, bakat atau kemampuan melainkan karena tidak memiliki kesabaran yang cukup. Akhirnya semua pekerjaan yang dipercayakan Tuhan dalam hidupnya akan menjadi terbengkalai. Pada akhirnya orang yang belajar sabar akan menuai sukacita yang sejati. Yesus mengatakan agar kita meminta sehingga kita menerima dan di situ sukacita menjadi penuh (Yoh. 16:24).

Mau melatih kesabaran, berlatihlah melalui berdoa. Berdoa adalah sikap menanti apa yang Tuhan akan lakukan atas permohonan kita. Doa merupakan suatu latihan rohani yang akan menjauhkan kita dari sikap acuh tak acuh, ketidakpedulian yang akhirnya lambat laun mematikan gairah kita untuk berharap. Doa sekaligus melatih kita untuk bersabar dalam penantian kita akan jawaban Tuhan, apa pun jawaban doa kita dari Tuhan. Di sisi yang lain bukan hanya doa yang membentuk kesabaran kita, melainkan kesabaran akan mengarahkan kita kepada sikap berdoa. Orang yang tidak suka berdoa adalah orang-orang yang tidak sabar, mereka mau segera mendapatkan dengan cara dan waktu mereka sendiri. Biasanya orang-orang seperti ini tidak akan membuang-buang waktu dengan menantikan Tuhan di dalam doa-doa mereka. Mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Ketidaksabaran tidak mungkin kompletible dengan kehidupan doa. Sebaliknya, mereka yang sabar akan lebih mudah untuk tergerak ke dalam pengharapan yang berdoa. Karena kesabaran Kristen adalah kesabaran menantikan dan berdiam di hadapan Tuhan, maka ini tidak mungkin tidak membawa seseorang ke dalam sikap berdoa di hadapan Tuhan. Kesabaran yang asalnya dari Tuhan ini mendorong kita untuk terus mencari, meletakan pengharapan di dalam dan bergantung kepada Tuhan. Mencari, berharap dan bergantung pada Tuhan, semuanya tercakup dalam kehidupan doa.

Kiranyan Tuhan terus menolong setiap kita untuk bertumbuh dalam kesabaran yang dianugerahkan Tuhan sehingga nama Tuhan dipermuliakan dan hidup kita dimurnikan. Selamat menjalan hidup dalam penuh kesabaran untuk menanti datangnya hari Tuhan. Amin

Lihat juga

Komentar


Group

Top