Mengenal Alkitab

Jalan Langsung Menuju Allah

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 21 April 2015 - 16:56 | Dilihat : 1614

Ibrani 9:1-10

Bagian sebelumnya telah dijelaskan bagaimana perjanjian yang baru lebih unggul dari Perjanjian Sinai.  Perjanjian Sinai tidak dapat menyelesaikan tuntas masalah dosa umat Tuhan di PL (ayat 7). Karena keberdosaan umat yang tidak mampu setia kepada Allah (ayat 9), karena itu teramat diperlukan Imam Besar Kristus untuk menyelesaikannya. Kedua, Perjanjian Sinai dengan perangkat ritualnya dicatat dalam Hukum Taurat, merupakan bayang-bayang dari pelayanan pendamaian sejati yang hanya mungkin dilakukan oleh Allah sendiri (ayat 5). 

Di pasal ke sembilan ini penulis Ibrani masih melanjutkannya dengan menunjukkan perbedaan yang tajam antara peraturan yang lama dengan yang baru, khususnya terkait aturan tentang bait Allah.  Penulis Ibrani menyinggung kembali, bahwa perjanjian lama pun mengatur soal tata letak kemah suci.  Yang terdiri dari, suatu kemah yang terletak di bagian depan, di dalamnya berisi kaki dian  dan meja  dengan roti sajian, yang  disebut tempat yang kudus (9:2). Kemudian di belakangnya terdapat tirai pembatas pada suatu kemah lain lagi yang disebut tempat maha kudus (9:3), di dalamnya terdapat mezbah pembakaran ukupan  dari emas, dan tabut perjanjian yang seluruhnya disalut dengan emas. Di dalam tabut perjanjian itu tersimpan buli-buli emas berisi manna,  tongkat Harun yang pernah bertunas  dan loh-loh batu yang bertuliskan perjanjian (9:4).  Lalu di atasnya terdapat dua kerub kemuliaan  yang menaungi tutup pendamaian (9:5). 

Di tempat pertama (yang paling depan/ ruang kudus) para Imam bisa masuk ke dalamnya dan melakukan melakukan ibadah mereka (9:6).  Tapi tidak untuk ruang maha kudus, yang hanya boleh dimasuki oleh Imam Besar saja, itu pun hanya sekali dalam satu tahun.  Sebelum memintakan permohonan ampun bagi pelanggaran-pelanggaran umat yang dibuat secara tidak tidak sadar (9:7), Imam besar harus mempersembahkan korban yang mengandung unsur darah untuk memohon ampun bagi dosa dirinya sendiri terlebih dahulu. 

Aturan dan ritual itu kembali disitir penulis Ibrani untuk menunjukkan bahwa segala aturan dan ritual itu sesungguhnya adalah kiasan semata, atau bayang-bayang semata dari suatu ritual yang lebih sejati, suatu pengorbanan yang benar, yang tidak saja bisa mengubah status umat Allah, tapi juga memberi akses kepada Allah yang maha kudus, yang sebelumnya tidak dimungkinkan.  Sebab hati nurani manusia belum dibersihkan secara sempurna, masih mengemban status berdosa (ayat Ibr 9:8-9). 

Itu semua adalah pelambang atau simbolis dari karya pendamaian yang dibuat Allah melalui Anak-Nya, dalam suatu karya pendamaian yang terwujud penuh dan nyata saat Kristus menjadi Imam Besar, yang mempersembahkan Diri-Nya sendiri sebagai kurban pendamaian di kayu salib.  Melalui karya-Nya itu  tirai pemisah antara ruang kudus dengan ruang mahakudus tersingkap (Mat. 27:51). Dengan demikian, melalui Kristus, manusia  dapat memiliki akses langsung beribadah kepada Allah. Tanpa perlu lagi perantara, orang bisa berhubungan langsung dengan Bapa, memohon ampun dan berdoa. Bukankah ini adalah anugerah yang begitu besar bagi manusia.  Tapi sayang, hal itu sepertinya tak berpengaruh besar terhadap penerima surat Ibrani.  Buktinya, meereka lebih senang beromantisme dengan ritual masa lalu daripada memiliki hubungan pribadi yang khusus dengan Allah sendiri. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top