Tokoh

Gladys Aylward

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Thu, 30 April 2015 - 13:07 | Dilihat : 1320

Gladys A. lahir di London tahun 1902. Suatu hari, dia menghadiri sebuah KKR. Pengkhotbah dalam KKR itu mengajak pengunjung agar mempersembahkan hidupnya untuk melayani Allah. Gladys menanggapi pesan tersebut, dan segera setelah itu dia merasa yakin bahwa dia dipanggil untuk memberitakan Kabar Baik di China. Saat berusia 26 tahun, dia menjadi calon penginjil di China Inland Mission Center di London, tetapi gagal lulus ujian.

Misionaris wanita, Jeannie Lawson (73 tahun), sedang mencari wanita muda untuk melanjutkan pekerjaannya. Gladys menulis surat lamaran kepadanya. Ibu Lawson mau menerimanya jika dia bisa sampai ke China. Tak menunggu lama Gladys pun berangkat menuju kota Yangchen di pedalaman, sebelah Selatan Peking (Beijing). Sebagian besar penduduk Yangchen belum pernah melihat orang Eropa selain Ibu Lawson dan Aylward. Mereka tidak memercayai kedua wanita itu sebagai orang asing, dan tidak bersedia mendengarkan mereka. Bermodalkan tempat penginapan, ia memperkenalakan Injil kepada tamu-tamu yang ada. Gladys berlatih bahasa China berjam-jam setiap hari dan menjadi fasih dan nyaman menggunakannya. Dengan meninggalnya Ibu, Gladys Aylward selanjutnya menjalankan misi sendirian dengan bantuan seorang Kristen asal China, Yang, seorang tukang masak.

Suatu waktu, Gladys bertemu dengan seorang pejabat asal Yangchen, disana Pemerintah membutuhkan seorang pemeriksa kaki, seorang wanita (sehingga dia dapat memeriksa bagian kaki wanita tanpa skandal), yang akan berpatroli ke daerah-daerah untuk menegaskan keputusan pemerintah itu. Menurutnya, Gladys adalah satu-satunya kandidat yang mungkin untuk pekerjaan itu. Gladys menyanggupinya dan dia menyadari bahwa pekerjaan itu akan memberinya kesempatan untuk menyebarkan Kabar Baik.

Tahun berikutnya Gladys kembali dipanggil pejabat Yangchen untuk membantu menyelesaikan konflik yang terjadi dalam penjara. Perseteruan antar narapidana mengakibatkan banyak kematian disana. Hal itu disebabkan karena tempat narapida yang sesak dan jarang mendapat makanan, sehingga, setiap keluarga atau kerabat yang datang membawa makanan, pasti akan menjadi perebutan satu dengan yang lainnya. Disinilah Gladys tampil untuk menengahi dan mengajar para sipir penjara untuk melatih narapidana bekerja dengan memberikan fasilitas yang dapat menghasilkan, sehingga kebutuhan mereka tercukupi. Sikap, tindakan Gladys membuat, orang-orang mulai memanggil Gladys Aylward "Ai-weh-deh", yang berarti "Orang Benar". Dan tahun 1936, Gladys akhirnya, secara resmi diangkat menjadi warga negara China.

Pada musim semi tahun 1938, pesawat-pesawat Jepang mengebom kota Yangchen, menewaskan banyak orang. Akibat perang, dia memutuskan untuk pergi ke panti asuhan milik pemerintah di Sian, dengan membawa anak-anak yang telah dikumpulkannya. 12 hari menempuh perjalanan, tetapi seluruh lalu lintas kapal dihentikan, dan semua perahu warga disita untuk mencegah mereka keluar dari penguasaan Jepang. Anak-anak bertanya, "Mengapa kita tidak menyeberang?" Jawab Gladys, "Tidak ada perahu." Mereka berkata, "Allah dapat melakukan apa saja. Mintalah pada-Nya untuk menolong kita menyeberang." Mereka semua berlutut dan berdoa. Kemudian mereka bernyanyi. Seorang tentara China yang mendengar mereka menyanyi, menghampiri mereka, mendengarkan kisah mereka dan berkata, "Aku pikir aku dapat mencarikanmu perahu." Setelah mereka menyeberang, Gladys menyerahkan anak-anak asuhannya kepada pihak-pihak yang kompeten di Sian.

Kemudian, Gladys mendirikan gereja Kristen di Sian. Tetapi luka yang diterimanya selama perang mengakibatkan kesehatannya semakin memburuk. Tahun 1947 dia kembali ke Inggris untuk menjalani pengobatan. Dan sisa hidupnya, ia tidak berhenti untuk menjadi pengajar yang baik bagi banyak orang. /jm/dbs

 

Lihat juga

Komentar


Group

Top