Sapaan Gembala

Tiga Dalih

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 12 May 2015 - 15:41 | Dilihat : 1195

Selama satu jam orang disuguhi dengan “diam”. Kesunyian menjadi warna seluruhnya. Tidak ada musik latar yang memberi kesan kuat. Hanya sesekali terdengar bunyi jangkrik di kesunyian malam, suara deru motor, atau senandung lagu melayu yang didendangkan tanpa memperhatikan tepatnya nada. Itulah warna keseluruhan film dokumenter ini.  “Senyap”,  sesuai dengan judulnya. 

Bagi penyuka film laga, satu jam menyaksikan film “Senyap” ini niscaya akan membuat anda hampir gila. Tapi itu semua akan berbalik 180 derajat ketika anda mau “menyalibkan” kesukaan itu dan coba masuk menyelami emosi yang muncul dan begitu jelas terbaca di raut muka mereka.  Film karya Joshua Oppenheimer ini menceritakan sebuah peristiwa gelap yang pernah terjadi di Indonesia.  Pembunuhan yang konon dilakukan dengan atas nama bela negara, dengan jutaan orang menjadi korban. Genosida, begitu Joshua menyebut peristiwa yang terjadi antara tahun 1965-1966 itu. Disorot lebih dekat dari salah satu keluarga yang memperoleh informasi tentang bagaimana anak mereka dibunuh dan siapa yang membunuhnya.  Lalu adik bungsu korban bertekad untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan kakaknya itu satu persatu.  Berharap ada secuil kata maaf saja terucap di sana.  Tapi tidak satu pun terlontar dari mulut para pelakunya yang beberapa masih punya taji di negeri ini.  Kalaupun ada, itu pun sanak-keluarga yang bersuara, karena yang diharapkan memunculkan satu kata itu telah tiada, atau kondisinya tidak memungkinkan sadar mengucapkan.

Tanpa bermaksud masuk terlalu jauh ke dalam polemik benar dan salah terhadap peristiwa yang melekatkan korbannya pada sebuah gerakan yang konon diidentifikasi sebagai tindakan makar G30S. Peristiwa yang diteropong oleh Joshua telah memberi perspektif historia berbeda, dari yang biasa dislentingkan di telinga.  Dan diajarkan oleh cerdik pandai para cendikia dan alim-ulama.  Film yang berisi wawancara adik korban terhadap pelaku berhasil menangkap alasan dibalik kesadisan para pelaku yang dengan bangganya, penuh semangat heroisme, menceritakan bagaimana mereka memperlakukan para korban.   Beberapa diantaranya seperti, katanya orang yang mereka bunuh itu anti agama dan tidak bermoral, “istri ku istrimu juga, istri orang juga istriku,” kata salah seorang yang diwawancara.  Katanya lagi, orang-orang itu akan melakukan pemberontakan.  Dalih bahwa negara merestui juga menjadi dasar bagi mereka untuk ikhlas lagi beringas mengeksekusi.  Belum lagi  keyakinan iman dan buku suci yang di-eisegese-kan sebagai legitimasi. 

Ya, tiga dalih ini: opini masyarakat, restu pembesar, dan legitimasi buku suci sepertinya cukup membuat orang berlaku yang bahkan berlainan sekali dari prinsip asli buku suci itu sendiri. Setidaknya ini yang terungkap di film dokumenter ini, terwakili oleh salah satu pernyataan pelaku yang diwawancara.  Ironi ini coba diangkat oleh Joshua, tapi lagi-lagi jawabnya adalah “pokoknya”.  Asal keyakinan bahwa tindakan itu benar, cukup sudah, tanpa ada sedikit upaya untuk coba bertanya, apalagi mengkritisinya. 

Tanpa bermaksud membanding-bandingkan hal itu dengan peristiwa di buku suci, tiga dalih serupa yang disebutkan itu juga pernah menjadi legitimasi pembunuhan dan penganiayaan terhadap jemat kristen mula.  Dengan Saulus (di kemudian hari berganti menjadi Paulus) yang disebutkan pernah menjadi aktor utamanya.  Opini masyarakat yang berkembang luas, bahwa pengikut Kristus adalah sekte berbahaya, ditambah keyakinan Paulus bahwa apa yang dilakukannya adalah “DEMI TUHAN”, demi menyelamatkan wibawa ilahi agar tidak ada yang mengangkangi, berhasil memantik militansi untuk beraksi.  Apalagi ada restu pembesar, restu sang pemimpin agama, seperti kian mempertebal keyakinan Paulus, bahwa apa yang dilakukannya itu benar adanya.   Sampai akhirnya Tuhan Yesus  sendiri memberi pencerahan kepadanya.  Itu semua dilakukan bukan oleh orang yang tak berpendidikan, tapi oleh seorang cendikia yang dididik langsung oleh guru besar tersohor, Gamaliel.  Kalau orang yang berpendidikan seperti Paulus saja, atas nama keyakinan diri yang di teguhkan oleh Tiga Dalih, bisa membuahkan aksi yang tak terlebih dahulu dikritisi, bagaimana dengan aksi-aksi lain yang melibatkan jumlah masa yang besar dan awam belaka.  Kiranya Tiga Dalih ini di kemudian hari tidak lagi menjadi alat untuk tindakan anarki. Semoga orang mau rendah hati melirik sejarah, melihat Tiga Dalih ini dan berusaha mengkritisi agar peristiwa-perisitiwa yang tak diingini batal terjadi.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top