Sapaan Gembala

Tanda Dan Makna

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 16 June 2015 - 14:52 | Dilihat : 1898

Suara keras dari langit terdengar di beberapa negara.  Bunyinya terdengar mirip Syofar, terompet tradisional Yahudi.  Kita lebih mengenalnya dengan sebutan serunai atau sangkakala. Rilis berita dari  Tech Times menyebutkan, setidaknya ada empat negara yang warganya mendengar fenomena audible  tak biasa ini, yakni Amerika, Australia, Kanada dan Jerman.

Tanpa butuh waktu panjang, kabar tentang fenomena aneh itu langsung menyebar ke seluruh penjuru bumi.  Bukan sesuatu yang mengherankan lagi di jaman internet seperti sekarang ini.  Sedikitnya ada 150 video yang diunggah ke situs berbagi video Youtube.com yang menayangkan fenomena aneh ini.  Respons orang pun beragam. Sebagian orang tidakpercaya tentang fenomena ini, lalu menyebut video itu hanya editan.  Sebagian orang lain  lagi  heran dan takjub menyaksikan fenomena aneh tersebut. Tak ketinggalan orang  Kristen, meski tidak semua, segera mengaitkan fenomena itu dengan akhir zaman.  Ya, fenomena alam dilihat sebagai penada sebuah akhir kehidupan. Bukan satu, ada banyak hamba Tuhan yang kemudian memposting atau membagikan ulang video-video tersebut ke dunia maya, dengan dibubuhi opini singkat mereka: “Ini Tanda Akhir zaman”. 

Segera sesudah fenomena aneh itu gempar di masyarakat, kabar rilis berita dari nasa segera terdengar, bahwa itu bukanlah suara dari langit, apalagi suara sangkakala penanda kiamat, seperti dipercaya banyak orang.  Nasa menyebut, itu sebenarnya adalah suara  dari Planet Bumi sendiri, dan bukan sekali ini terjadi, namun orang kurang menyadari terjadinya.  Alih-alih menjadi berkat atau dapat segera menolong umat untuk bertobat dan benar-benar memuliakan nama Allah, opini yang terburu-buru tentang sebuah tanda dari sebuah fenomena justru menjadi batu sandungan, sindiran, bahkan cacian terhadap kekristenan.

Benar, orang yang mengaitkan fenomena itu sebagai penanda kiamat memang bukan kita.  Tapi bagaimanapun juga itu adalah gambaran  model beragama kita, umat Tuhan yang selalu mengaitkan diri dengan “tanda, simbol atau visualisasi dari rupa benda sebenarnya”.  Model beragama yang selalu butuh simbol, untuk mengekspresikan iman diri. 

Benar, simbol atau tanda dalam beragama bukanlah sesuatu yang keliru.  Apalagi dalam simbol terkandung sebuah identitas.  Dalam simbol terdapat imanensi dari Dia, Allah maha besar yang dekat dengan manusia.  Pada simbol juga terdapat sebuah romantisme pada Sang Ilahi, sehingga ketika melihat simbol itu, pandang mata hati orang dapat segera menuju kepada Dia.  Simbol memang penting.  Tapi bagaimanapun pentingnya sebuah simbol, dia  tak akan pernah me njadi lebih besar dari yang disimbolkan.  Bagaimanapun pentingnya sebuah simbol, perlu sebuah interpretasi yang tepat dan benar, agar orang tidak keliru menangkap makna sebenarnya di balik sebuah simbol.  Sama halnya  dengan “fenomena sangkakala”.  Orang akan mendapatkan kesimpulan yang keliru dibalik tanda, kalau tidak  rendah hati menyikapi, dan bijak mengobservasi, sehingga mendapatkan  maksud sebenar-benarnya dari sebuah tanda.  Bagaimanapun pentingnya sebuah simbol atau tanda,  dapat berpotensi menjadi  “berhala” ketika pemaknaannya  menggeser substansi yang ditandakan. 

Bukan tandanya yang salah atau keliru. Tapi subyek yang memaknainya yang justru seringkali keliru menginterpretasi. Karena bagaimanapun juga simbol itu tak lebih dari sebuah bayangan dari realitas yang sebenarnya.  Bagaimanapun juga roti dan anggur perjamuan, yang adalah simbol dari tubuh dan darah Tuhan Yesus itu tak akan mungkin berubah seketika menjadi substansi lain  dari yang ditandakan, benar-benar menjadi tubuh dan darah Yesus (transubstansi).  Roti dan anggur perjamuan Itu semua dimaknai sebagai tanda pengingat bagi pengorbanan Yesus yang menyerahkan tubuh dan darahNya untuk menebus dosa manusia.  Bukan sekadar tanda untuk mengingatkan, tapi juga diimani bahwa melaluinya Tuhan Yesus hadir secara spiritual memberkati dan menguatkan iman umat. Bukan substansi Yesus yang hadir dalamrupa tubuh dan darah Dia yang sesungguhnya. 

Simbol dan tanda memang berguna, tapi seyogyanya dapat dimaknai dengan bijak dan benar.  Simbol dan tanda memang berguna, tapi kiranya hati kita tidak terpancang atau terkait hanya pada simbol, tapi kepada yang disimbolkan. Kiranya simbol dapat menolong kita untuk mendekat kepadaNya, dan bukan sebaliknya, justru menggeser Dia.   Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top