Tokoh

Soetirah Paulina Van Magelang

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Tue, 16 June 2015 - 14:57 | Dilihat : 1263

Soetirah lahir pada tanggal 4 Mei 1908 dari keluarga Sastrokarjo. Selama tiga tahun, ia bersekolah di Zendingsschool Kalipenten. Kemudian, ia melanjutkan ke Sekolah Guru Keucheniusschool, Purworejo, yang pada tahun 1906 dipindahkan ke Yogyakarta. Di Eerste Afdeling Keuchenius School Yogyakarta.

Bekerja menjadi pembantu penginjil di resort Magelang untuk waktu yang cukup lama, khususnya pada lingkungan Pasamoewan Kristen Djawi Gereformeerd Magelang. Perubahan nasibnya terjadi ketika ada dua orang pekerja utusan Zending GKN yang datang dari Belanda dan bekerja di Magelang. Mereka adalah dr. G.J. Dreckmeier dan Ibu Barbee. Mereka datang ke Indonesia karena adanya gagasan Ds. A. Merkelijn yang mulai berpikir tentang adanya sarana pelayanan berupa Rumah Sakit Zending di Magelang, seperti yang sudah ada di Yogyakarta, Surakarta, Purworejo, dan sebagainya. Melalui dana yang berhasil dikumpulkan oleh Ds. A. Merkelijn, maka berdirilah sebuah Zending Ziekenhuis Magelang yang diresmikan pemakaiannya pada tanggal 26 Mei 1932. Dr. G.J. Dreckmeier pun ditunjuk sebagai direktur medisnya.

Selaku penginjil Soetirah mulai dilibatkan dalam penginjilan di kalangan pasien rumah sakit. Khususnya penginjilan anak-anak dan wanita di Rumah Sakit Zending di Magelang). Kesungguhan, ketekunan, dan kemampuan Guru Soetirah menjadi modal utama dalam menjalankan tugas pelayanannya.

Tahun 1934, Soetirah belajar di Theologische Opleidingsschool Jogjakarta dan posisinya menjadi guru Injil perempuan yang sejajar dengan para zendingzuster Eropa. Dalam kegiatan ini, Soetirah bekerja bahu-membahu dengan Ibu Cornelia Barbee dan Ibu Martinah. Mereka tinggal di Panti Wara untuk melakukan penginjilan sekaligus pelayanan sosial kepada para ibu dan gadis di Magelang.

Masalah besar yang terjadi adalah ketika Jepang menguasai Indonesia tahun 1942. Kesulitan, tekanan, dan larangan mulai membelenggu pekerjaan gereja dan zending. Namun, semangat pelayanan yang luar biasa tidak pernah menciutkan langkah mereka. Ketegaran hati Ibu Soetirah menjadi landasan untuk tetap menyelenggarakan pemeliharaan iman kaum gereja di Kota Magelang.

Namun, setelah Dokter Dreckmeier dan Ibu Barbee ditahan, serta Rumah Sakit Zending Magelang dan Rumah Panti Wara ditahan secara berturut-turut oleh pemerintah pendudukan Jepang, Ibu Soetirah menjadi kehilangan penopang kekuatan dan pendorong kegigihan kerjanya.

Ibu Soetirah dan teman-temannya pada saat itu harus tinggal di "ground" (lantai bawah) Gereja Bayeman Magelang, dan kembali menjadi tenaga penginjil Pasamoewan Kristen Djawi ing Djawi Tengah Sisih Kidoel di Magelang sampai tahun 1956. Pengalaman tersebut menjadi landasan bagi tugasnya untuk mempersiapkan para gadis menjadi pekerja gereja, untuk memperkenalkan Injil Kerajaan Allah kepada orang lain.

Dengan lahirnya Badan Contact yang merupakan organisasi bersama para penginjil perempuan yang melayani dan bekerja di Jawa Tengah pasca zaman Zending, maka bersama dengan Klasis Kedu yang semula berniat mendirikan Kursus Kader Pekabaran Injil untuk perempuan, melahirkan Sekolah Wanita Kristen, yang resmi berdiri pada tanggal 25 September 1956 di GKJ Bayeman.

16 tahun menjadi Kepala Sekolah, ia pensiun pada tanggal 1 Juli 1972, tetapi ia masih terus mengabdikan dirinya melayani Kristus. Beliau meninggal 1 Mei 1977. Seorang wanita yang hebat, disegani dan sangat dihormati karena jasa-jasa perjuangannya./jm/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top