Mengenal Alkitab

Mematikan Iman

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 16 June 2015 - 15:01 | Dilihat : 1302

Ibrani 10:25

Kalau Kristus sudah membuka jalan bagi persekutuan kembali manusia dengan Bapa, maka seyogyanya manusia menyikapi atau meresponis hal itu dengan baik. Minggu lalu sudah di sebutkan tentang repons tiga respons yang penulis Ibrani usulkan agar dilakukan.  Yakni, berkenan menghadap  Allah  dalam kerendaham hati  dan ketulusan (10:22); Tetap teguh berpegang pada pengakuan  tentang pengharapan (10:23) dan saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik (10:23).  Pada bagian itu penulis Ibrani tidak saja menunjukkan kepada pembacanya tentang betapa penting berelasi denga Allah, sebagai respons atas karya Tuhan, tapi juga betapa penting berelasi dengan sesama, sebagai sarana bagi ekspresi beriman dan penunjang keimanan.  Sehingga dengan berelasi iman seseorang dapat terdorong maju.  Dan ketika ada yang mulai imannya melempem, saudara lain dapat menolong. 

Meski ada anjuran yang demikian bagusnya, tapi toh tetap saja ada orang-orang yang sengaja melawan anjuran itu dengan menunjukkan sikap sebaliknya.  Bukan mengeratkan diri dengan liyan dalam sebuah persekutuan umat Tuhan, orang-orang itu justru menjauhkan diri dari persekutuan. 

Undur dari persekutuan bukanlah melulu tindakan yang sadar dilakukan seketika.  Tapi juga dimulai dari tindakan yang menganggap suatu hal penting sebagai sesuatu yang biasa saja.  Misalnya, ketidakhadiran dalam pertemuan ibadah, dipandang sebagai sesuatu yang tak banyak  pengaruhnya terhadap diri seseorang.  “Toh, cuma sekali tidak datang,” begitu biasa dalih yang terdengar di telinga.  Tapi anggapan enteng terhadap sesuatu yang penting (pertemuan ibadah) itu berpotensi besar akan berulang di hari-hari berikutnya, dan kelamaan menjadi suatu hal yang biasa. Ini yang diwanti-wanti penulis Ibrani agar tak diikuti. 

Sebab dengan menjauhkan diri dari persekutuan bahaya kerohanian orang semakin besar.  Ada begitu banyak bahaya dan masalah besar di luar sana, tapi ketika orang ada dalam sebuah persekutan umat Tuhan, niscaya umat lain dapat berempati dan menguatkan satu dengan lainnya.  Ketika ada saudara sepersekutuan yang bertindak keliru, maka umat lain dapat menasihati.  Dengan demikian keberimanan seseorang dapat terjaga “apinya,” dalam sebuah persekutuan. 

Undur dari persekutuan bukan saja berdampak buruk bagi progress keberimanan seseorang, tapi juga bentuk tindakan yang  tidak menghargai karya pengorbanan Tuhan.  Tuhan Yesus telah berkorban demi membuka tabir yang memungkinkan orang bersekutu dengan Allah. Beriman dengan benar dalam pengharapan yang besar kepadanya.  Tapi ketika orang berada diluar persekutuan, sama artinya dengan secara sadar membuat imannya menjadi luntur.  Alih-alih menjaga iman itu agar tetap terjaga, yang ada justru secara sengaja membiarkannya perlahan menghilang dan lenyap sama sekali.

Menjauhkan diri dari persekutuan umat Tuhan juga berarti membiarkan diri “mati”.  Tindakan dosa aktual terus berhaya, sementara diri dibiarkan tidak diasupi dengan nutrisi dari Firman di Buku Suci. Bukankah ini bukan saja tidak menghargai, tapi juga melecehkan pengorbanan dan anugerah keselamatan dari Tuhan.  Bukankah tindakan seperti ini adalah bentuk penekanan terhadap suara Roh Kudus.  Dan jika itu di lakukan terus-menerus sampai akhir hidupnya, bukankah itu adalah bentuk dari ekspresi dosa yang tak terampuni: “Menghujat Roh Kudus”.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top