Tokoh

Clive Staples Lewis

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Wed, 15 July 2015 - 17:09 | Dilihat : 1232

1898 -- 1963, Novelis, Penyair, Akademisi, Kritikus Sastra, Teolog.

Clive Staples Lewis lahir di Belfast, Irlandia, pada tanggal 29 November 1898. Ia merupakan anak kedua dari Albert Lewis, yang adalah seorang pengacara, dan Flora Hamilton Lewis, putri seorang pendeta gereja Anglikan Irlandia. Pada tahun 1908, ibu Lewis meninggal karena kanker. Kemudian mereka, kakak beradik Lewis dikirim ke sekolah Wynyard di Watford, Inggris, untuk memulai pendidikan mereka di sekolah berasrama.

Lewis dididik di Wynyard selama 2 tahun, sebelum kembali lagi ke Belfast pada tahun 1910. Pada tahun 1913, ia kembali bersekolah di Malvern College, Inggris, tetapi ia hanya tinggal di sana kurang dari setahun, sebelum akhirnya belajar secara privat bersama William T. Kirkpatrick, mantan pembimbing ayahnya dan kepala sekolah Lurgan College. Pada masa-masa itulah, Lewis mulai meninggalkan iman kristennya dan menjadi ateis.

Pada tahun 1916, Lewis berhasil mendapat beasiswa di University College, Oxford. Kemudian  Lewis kembali ke Oxford pada tahun 1920 untuk melanjutkan studinya. Pada tahun 1923, Lewis lulus dengan predikat sangat baik di bidang bahasa Yunani dan Sastra Latin, Filsafat dan Sejarah Kuno, serta Sastra Inggris. Ia tetap berada di Oxford selama 29 tahun, sebelum akhirnya menjadi seorang profesor sastra abad pertengahan dan renaissance di Magdalene College, Cambridge, pada tahun 1955.

Di Magdalene College, Lewis bergabung dengan kelompok yang dikenal sebagai The Inklings, sebuah kumpulan informal dari sesama penulis dan intelektual. Melalui percakapan dengan anggota kelompok itulah, Lewis kembali menghidupkan iman kristennya setelah bertahun-tahun menjadi seorang ateis.

Lewis mulai menerbitkan karyanya pada tahun 1926 dengan buku pertama yang berjudul "The Satirical Dymer". Kemudian, karya besarnya yang pertama, "The Pilgrim’s Regress" (1933), menjadi buku yang mengetengahkan perjalanan rohani imannya kepada Kristus. Pada tahun 1938, ia merilis karya fiksi-ilmiah pertamanya, "Out of Silent Planet", yang merupakan bagian pertama dari trilogi novel yang bersifat subtekstual, dengan konsep tentang dosa dan keinginan.

Ia juga dikenal karena teks apologisnya yang kaya, tempat ia menjelaskan keyakinan rohaninya melalui platform logika dan filsafat. Argumennya yang berbasis agama, seperti terdapat dalam teks-teks seperti "The Great Divorce" (1946) dan "Miracles" (1947) dijunjung tinggi oleh banyak teolog, sarjana, dan pembaca umum.

Karyanya yang lain, "The Screwtape Letters" (1942), bercerita tentang iblis tua yang menyarankan anak didiknya yang lebih muda tentang bagaimana menjerat manusia ke dalam kesalahan. Awalnya, karyanya ini diterbitkan secara mingguan dalam surat kabar gereja Inggris, "The Guardian". Karya Lewis kemudian langsung habis terjual setelah dicetak dalam bentuk buku.

Awalnya, penerbitnya dan beberapa temannya mencoba menghalangi Lewis ketika ia mulai menulis buku untuk anak-anak. Mereka berpikir bahwa hal tersebut akan merugikan reputasinya sebagai penulis karya serius. J.R.R. Tolkien bahkan mengkritik buku Narnia yang pertama, "The Lion, The Witch, and The Wardrobe", yang dianggap memiliki terlalu banyak elemen yang tidak serasi. Untunglah, Lewis tidak mendengarkan semua itu.

Narnia merupakan rangkaian buku yang berfokus pada empat bersaudara selama masa perang dunia kedua, yang berjalan melalui lemari untuk memasuki dunia magis di Narnia, negeri yang megah dengan makhluk mitos dan hewan yang berbicara. Bagian yang berbeda dari seri ini mewakili berbagai tema Alkitab, di mana satu karakter yang menonjol adalah Aslan, singa dan penguasa Narnia, yang juga ditafsirkan sebagai sosok Yesus Kristus.

Menyusul buku "The Lion, The Witch, and The Wardrobe" pada tahun 1950, Lewis dengan cepat menulis 6 buku Narnia lagi, dengan "The Last Battle" sebagai judul terakhirnya. Meskipun pada awalnya buku-buku tersebut tidak diterima dengan baik oleh para kritikus dan pengulas, karya Lewis kemudian mendapatkan popularitas dari mulut ke mulut. Hingga saat ini, Narnia telah terjual lebih dari 100 juta kopi di seluruh dunia, dan merupakan salah satu buku sastra klasik anak-anak yang paling disukai.

Clive Staples Lewis meninggal pada 22 November 1963 di Headington, Oxford. Namanya tetap dikenang oleh para penggemarnya hingga kini, yang menyukai dan mendapat inspirasi dari karya-karyanya.

 

Lihat juga

Komentar


Group

Top