Mengenal Alkitab

Bertekun Sedikit Lagi, Di Sana Upah Menanti

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 15 July 2015 - 17:15 | Dilihat : 5395

Ibrani 10:35-39

Jangan lepaskan kepercayaanmu.  Sekalipun janganlah pernah.  Bukan saja karena fatalnya akibat dari tindakan itu, tapi juga besarnya kerugian yang akan diterima.  Akibat meninggalkan percaya kepada Kristus, seperti sudah disinggung minggu lalu adalah maut yang kekal.  Dan kerugian besarnya adalah kita menyia-nyiakan upah besar dari Allah yang menanti di depan (10:35). 

Ketika membaca ajakan dan dorongan semacam ini orang mungkin akan bertanya, sampai kapan menantinya.  Bukannya menunggu adalah aktifitas yang membosankan.  Apalagi menunggu dalam konteks jemaat penerima surat Ibrani ini.  Menunggu dalam kemakmuran sandang dan pangan, kendati membosankan juga, mungkin masih tetap nyaman dijalankan.  Tapi ketika menunggu sesuatu di dalam penindasan berkepanjangan, dikucilkan, dianiaya dan harta semua dirampas, seperti dialami penerima surat Ibrani, bukan saja membosankan, tapi juga menakutkan dan penuh kecemasan.  Menanti dalam penganiayaan yang dialami semakin membuat waktu itu serasa lebih panjang dari biasa.  Maka sebagian orang mahfum mengapa kelompok penerima pertama surat ibrani ini ingin kembali ke ajaran lama.  Setidaknya dengan begitu mereka terhindar dari aniaya, lokalisasi, diskriminasi  dan intimidasi sosial.

Kepada komunitas yang berhasrat undur diri dari imannya itu penulis Ibrani mengingatkan, bahwa mereka sudah ada di bagian akhir perjalanan iman mereka.  Sebab tidak lama lagi Dia, Kristus, Tuhan dan juru selamat yang hidup, yang berjanji akan kembali itu akan segera datang, tanpa menunggu-nunggu lagi.  Tanpa menangguhkan atau mengulur-ulur waktu lagi  (10:37).  Hanya perlu sedikit lebih ketekunan.  Perlu sedikit upaya diri melawan segala hal yang bisa membuat diri ini undur iman.  Sedikit lagi kekuatan untuk berdiri teguh menghidupi iman kendati dalam tantangan yang berat.   Agar ketekunan menjaga diri selaras dengan  kehendak Allah yang  selama ini sesudah dilakukan itu tidak sia-sia belaka, tapi dari sana dapat diperoleh berkat  yang Allah janjikan (10:36).  Semua ini akan menjadi sia-sia kalau di ujung perjuangan iman itu akhirnya mereka menyangkal Kristus juga. Di sinilah penulis Ibrani kembali mendorong agar mereka setia pada iman percaya dan pengharapan mereka.  Terus bertahan dan bertekun dalam iman, kasih, dan pengharapan itu, dengan percaya bahwa Dia tidak pernah meninggalkan mereka. Bagi penerima surat Ibrani, ini merupakan penghiburan yang “menyejukkan”, karena penderitaan mereka akan segera berakhir, tapi di sisi lain juga memberikan tekanan dan teguran keras kepada mereka, tidak ada alternatif lain bagi keselamatan kekal, selain tetap setia dan bertekun di dalam Tuhan sampai akhir. 

Bagi orang yang ada di luar Dia, kedatangan Kristus akan sangat menakutkan.  Sebab Kristus lah yang akan menghakimi semua orang, memberikan hukuman kekal kepada siapa saja yang tidak di dalam Dia.  Tetapi kepada orang-orang yang diperkenanNya, orang-orang  Benar, yang senantiasa hidup dalam iman, meskipun banyak derita nestapa dialami, Allah akan sangat mengasihi dan berkenan kepada mereka.  Kepada orang-orang yang diperkenananya itu Allah juga memberikan kehidupan kekal kepada mereka (10:38).  Sementara kepada yang mengundurkan diri, bukan saja Allah tidak berkenan, tapi Dia juga mengganjar maut kepada mereka sebagai hukuman kekal.  Di bagian ini penulis buku Ibrani juga membesarkan hati penerima suratnya, kiranya mereka bukanlah orang yang undur dan binasa (10:39). Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top