Mengenal Alkitab

Sia-sia Pengorbanan Orang Yang Sangkal Iman

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 30 July 2015 - 12:59 | Dilihat : 1325

 Ibrani 10:32-35

Sia-sia orang yang telah mendapat anugerah boleh “mengecap” keselamatan, mengenal Tuhan, lalu undur dari iman percayanya.  Sepertinya orang itu terlihat begitu “hebatnya” hingga bisa mempermainkan keselamatan Tuhan.  Padahal Allah sedang memberi pelajaran berharga, betapa orang bukan pilihan itu memang tidak layak mendapat anugerah.  Orang-orang seperti itu sengaja dibiarkan Allah sebentar saja berbangga diri dan jumawa, karena sepertinya telah berhasil “mempermainkan Tuhan” dengan menolak atau menyia-nyiakan anugerah keselamatan. Padahal Tuhan sedang memberi pelajaran berharga kepada dirinya dan umat tuhan betapa orang seperti itu tengah menjustifikasi sekaligus melegitimasi dirinya, menunjukkan dirinya kepada orang, bahwa dia  betul-betul orang yang bukan pilihan, orang yang berdosa yang tak layak mendapat anugerah Tuhan.  Tiada lain upah yang cocok bagi orang yang demikian kecuali maut.   Orang-orang durhaka yang kelak akan mengalami kematian abadi yang teramat mengerikan. Akan mengalami penghakiman dan api yang dahsyat yang  menghanguskan (10:27).  

Itu kesia-sian abadi  orang yang menyia-nyiakan anugerah Tuhan, seperti yang terjadi pada penerima surat Ibrani ini.   Mereka, para penerima surat Ibrani itu memang sudah pernah mendengar kebenaran, bahkan sempat ikut masuk dalam ritual iman gereja mula-mula.  Bukan hanya maut yang akan menanti pilihan sikapnya itu, tapi pada akhirnya mereka juga rugi waktu.  Ya, hanya buang-buang waktu saja. Sudah  bersusah payah mengikuti aturan yang benar, berharap tindakannnya tidak menyimpang dari kebenaran, tapi nyatanya toh mereka menyangkali itu semua dan kembali pada iman yang lama.  

Pilihan sikap mereka kembali kepada ajaran lama bukan hanya keliru, tapi salah besar.  Sebab mereka menyianyiakan sesuatu yang maha besar.  Tentang hal itu penulis ibrani telah menyuguhkan komparasi-komparasi antara iman kepada Kristus dengan kembali kepada ajaran mereka yang lama di pasal-pasal sebelumnya.  Terbukti iman kepada Kristus jauh lebih unggul dari iman mereka yang lama.  

Penulis Ibrani sebenarnya sangat menyayangkan pilihan sikap yang gegabah seperti demikian.  Sebab itu di bagian pasal 10 suratnya ini, penulis Ibrani kembali mengingatkan mereka tentang kerugian lain, selain rugi waktu dan upah maut yang akan mereka dapat.   Rugi yang dimaksudkan rugi berkorban.  Sejak mereka mengenal kebenaran, banyak hal mereka korbankan demi percayanya itu.  Sesudah menerima terang mereka banyak menderita aniaya.  Baik waktu mengalami sendiri bagaimana dijadikan tontonan dan cercaan orang.  Dan juga turut merasakan pahit getirnya orang yang mengalami penderitaan dan diperlakukan tidak semestinya karena percaya mereka (10:34).  Bukan hanya nyawa yang menjadi taruhan, nyawa terancam, tapi harta benda yang sedikit  menunjang berlangsungnya kehidupan pun ikut dirampas habis (10:34).  Bukankah sia-sia saja.  Bukankah rugi besar kalau sudah habis-habisan berkorban demi iman, lalu di kemudian hari menyangkali sendiri percayanya itu.

Bukan hanya menunjukkan kerugian-kerugian dan kesia-siaan mereka, di bagian ini penulis surat Ibrani sebenarnya juga sekaligus mengetuk pintu hati para penerima suratnya itu agar mau menilik kembali, merefleksikan lagi, apa yang dulu pernah mereka rasai. Meskipun aniaya berat mereka alami.  Meskipun banyak menderita dan dicerca, tapi toh ada sesuatu berbeda yang membuat mereka mampu melaluinya.  Menarik, meski sudah ditekan, dibuat susah, tapi toh mereka bisa menerima hal itu dengan sukacita (10:34).  Mereka rela mengalami itu semua demi  memperjuangkan iman percaya mereka kepada Kristus, meski untuk itu para penerima surat Ibrani harus bertahan dalam perjuangan yang berat  (10:32).

Menarik lagi, meskipun seluruh harta dirampas, namun itu semua tak menggoyahkan iman mereka.  Sebab mereka sadar, bahwa itu semua sifatnya sementara saja.  Waktu itu mereka mengerti benar ada harta yang lebih baik dan sifatnya lebih menetap yang akan mereka terima kelak (10:34). Dari mana rasa yang begitu menguatkan itu.  Dari mana asalnya percaya yang begitu besar. Dari mana datangnya kedewasaan diri dan spiritual sehingga mampu memunculkan perspektif yang luar biasa dalam memandang harta dunia.  Bukankah itu semua datangnya dari Sang Maha Besar, melalui Roh KudusNya yang menghibur dan memberi kekuatan.  Untuk penulis Ibrani kembali mengajak penerima suratnya agar  janganlah melepaskan kepercayaan mereka, karena sesungguhnya besar upah yang menantinya (10:35).  
Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top