Tokoh

Grace Livingston Hill

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Thu, 30 July 2015 - 13:05 | Dilihat : 1239

Grace Livingston Hill dikenal sebagai "Ratu Novel Kristen". Anak tunggal seorang pastor Presbiterian dan istrinya ini lahir sehari setelah peristiwa penembakan Lincoln. Grace memutuskan untuk berkarier sebagai penulis. Novel pertamanya, "A Chautuqua Idyl" (1887), menjadi awal dari karier panjangnya. Ia mampu menghasilkan rata-rata dua novel dalam setahun. Dikesulitan hidupnya,  Grace secara alamiah berpaling kepada Alkitab untuk mencari pertolongan. Ia menemukan pertolongan itu di Ulangan 33:25 dan mengambil ayat itu sebagai motto hidupnya: "Selama umurmu kiranya kekuatanmu." Menyebut ayat itu setiap hari, membantunya untuk percaya bahwa Tuhan akan memberikan kekuatan yang ia perlukan.

Menulis adalah alatnya untuk menafkahi dirinya dan dua orang putrinya, Grace merasa bahwa menulis itu adalah panggilan dari Tuhan. Karena itu, ia menulis untuk menyampaikan dasar-dasar teguh mengenai kehidupan dan komitmen Kristen. Yang ia tulis memang sederhana, tetapi dengan keyakinan yang dalam. Sebuah novel yang berjudul "The Witness" (1939) menarik perhatian Sunday School Herald dan disoroti oleh Sunday School Herald selama beberapa waktu. Buku itu menjadi alat yang membuat banyak orang menjadi percaya kepada Kristus dan memperbarui komitmen kehidupan Kristen.

Grace tidak menulis buku-buku yang "best-seller" pada masanya, namun hal itu tidak mengusiknya. Penerbit sukses dan diakui, J.B. Lippincott Publishers di Philadelphia, berjanji akan menerbitkan salah satu bukunya, tetapi dengan syarat bahwa ia harus merevisinya. Ia terkejut. Tak lama kemudian, Tuan Lippincott menemuinya. Lippincott berbicara dengan lembut namun serius tentang apa yang buku -- juga penulis -- perlukan agar bisa sukses. Grace mendengar hal itu dengan perasaan takut. Maksud Lippincott sangat jelas, dan hal itu bertentangan dengan apa yang Grace ingin dengar. Menurut penerbit, tidaklah menjadi masalah untuk menulis sebuah novel dengan karakter yang bermoral tinggi dan baik menang atas yang jahat pada akhir cerita, namun novelnya tidak boleh memiliki "hal-hal yang ada sangkut pautnya dengan sekolah minggu". "Hal itu tidak akan membuat novel laku," kata penerbit itu tegas. "Buang Injilnya."

Grace terlihat kecewa. Ia sudah menyetujui memberi Lippincott dua buku lainnya, dan ia harus menghargai kontrak itu. Namun, ia ingin membantu pembaca menemukan Juru Selamat dan menguatkan iman mereka. Ia berkonsentrasi menulis beberapa novel sejarah, namun tak pernah mengabaikan pesan kristiani yang harus disampaikannya. Ia bekerja keras menulisnya, menggabungkan roman dan petualangan, dan kadang misteri. Lippincott terus menerbitkan buku-buku Grace, dan namanya dimasukkan dalam daftar buku wajib baca.

Di sela-sela kesibukannya, Grace mulai menghadiri serangkaian kelompok pemahaman Alkitab, dan ia mulai melihat Alkitab dalam sebuah cahaya baru. Hal ini membawa Grace kepada hubungan baru yang lebih mendalam dengan Tuhan dan sebuah keinginan untuk melayani Dia lebih lagi. "Tuhanlah yang memberiku talenta-talentaku," katanya. "Aku akan melakukan semua yang aku mampu untuk menunjukkan betapa aku bersyukur pada-Nya. Aku akan lebih banyak memakai waktu dan usahaku untuk menyebarkan Injil Kristus.

Sebelum akhir dari hidupnya, ia pernah diwawancarai dan menanyakan,  bagaimana ia mampu merangkul pembaca dari beberapa generasi, ia menjawab, "Karena saya tidak menulis hanya demi menulis. Saya berusaha menyampaikan sebuah pesan, yang telah Tuhan berikan, dan mengerahkan semua kemampuan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikannya. Apapun yang sudah dapat saya selesaikan, semuanya adalah karya Tuhan. Saya mencoba menuruti ajaran Tuhan dalam semua tulisan dan pemikiran saya."

Grace Livingston Hill tak memiliki cukup umur untuk membaca hasil wawancara yang diterbitkan itu. Pada tangagl 23 Februari 1947, /jm/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top