Mengenal Alkitab

Iman, Landasan Pengharapan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 30 July 2015 - 13:11 | Dilihat : 1389

 Ibrani 11:1-3

Sesak benar hidup orang yang ada dalam penderitaan dan aniaya karena iman dan percayanya.  Besar hasrat diri untuk mengabdi, teguh berdiri dan terus mengimani.  Tapi sakit dan kecemasan yang diderita oleh diri seringkali tak kuasa dirasai.  Sekali atau dua kali dianiaya, mungkin masih bisa tegar menerima.  Tapi ketika sepanjang hari didera aniaya, tubuh disiksa, didiskriminasi oleh tetangga, dianggap warga nomor dua, lalu harta benda untuk sedikit penahan hidup turut pula dirampas, lalu bagaimana menjalani.  Tak heran kalau sebagian orang lalu undur dari imannya.  Sama seperti terjadi dalam jemaat pembaca perdana surat Ibrani.  

Bagian sebelumnya menunjukkan, kepada mereka yang undur iman dan ingin berbalik kepada Yudaisme ini penulis Ibrani memberi dorongan dan semangat kembali.  Membesarkan hati mereka agar jangan sampai undur iman.  Sebab kerugian besar menanti dan ganjaran hidup kekal pun lenyap sia-sia.  Penulis surat Ibrani mendorong pembacanya itu agar bersabar sebentar lagi.  Bertekun dalam iman sedikit lagi.  Sebab iman merupakan instrumen penting dalam spiritualitas.  Menolong orang untuk tetap tegar menjalani yang dipercaya, kendati aral dan hambatan begitu besar menghadang.  

Pada bagian ini penulis Ibrani memberikan penegasan kembali tentang apa itu iman.  Iman bukan sekadar soal percaya.  Kata “Pistis” yang digunakan penulis Ibrani memiliki arti yang lebih luas.  Di dalamnya ada unsur kesetiaan, keyakinan dan bukti dari sesuatu yang dipercayai.  Iman adalah dasar dari sesuatu yang diharapkan (11:1).  Tanpa ada iman, sulit rasanya membayangkan orang punya pengharapan.  Tanpa didasari oleh iman, maka kalaupun ada pengharapan itu pun tak lebih dari harapan pada undian atau lotere saja.  Kalau dapat angkanya bersyukur, tapi kalaupun tidak ya biasa-biasa saja.  Bagaimana kalau pengharapan seperti demikian dilekatkan kepada harapan seseorang pada Kristus. Bukankah pengharapan itu tidak memiliki greget dan target yang kuat.  Pengharapan itu akan hambar.  Seperti yang pengharapan tak memiliki landasan, arah dan tujuan yang diharapkannya dengan tegas.  

Iman itu teramat penting bagi kehidupan keberagamaan.  Iman itu semacam bukti awal dari sesuatu yang diharapkan, dari sesuatu yang dipercaya, namun tidak terlihat (11:1).  Pengharapan serupa yang dipercaya dan nantikan oleh tokoh-tokoh penting Perjanjian Lama.  Meskipun mereka belum pernah tahu dan melihat sosok Mesias, yang adalah Imam sekaligus Raja itu, namun mereka memiliki harapan besar kepadaNya.  Hal seperti itu tidak akan mungkin bisa dilakoni tanpa adanya iman yang memberi landasan.  Tak mungkin dilalui tanpa adanya iman yang mencerahkan dan memberi jalan mengarahkan.  Iman itu yang memberi kesaksian kepada nenek moyang Ibrani tentang segala karya yang Allah lakukan dan penebusan Agung yang Allah kerjakan bagi umat manusia secara umum dan Israel pada khususnya (11:2).  

Memalui iman juga orang bisa mengerti dan memahami bagaimana Allah telah menjadikan alam semesta dari firman yang diucapkanNya.  Penggunaan kata Firman di sini bukanlah logos, seperti dalam Injil Yohanes, tapi Rhma, yang penekanannya lebih kepada firman yang terucap. Sehingga semesta yang kemudian terlihat  begitu gamblang oleh manusia itu dijadikan dari sesuatu yang tak nampak, yaitu  Firman yang terucap.

Bagian ini adalah bagian penting di mana penulis ibrani ingin menyegarkan ingatan pembaca suratnya tentang bukti karya dan peranan iman yang besar bagi kehidupan spiritualitas nenek moyang mereka di masa lalu.  Menunjukkan tentang betapa luarbiasanya iman itu bekerja. Untuk itulah penulis surat Ibraani mendorong penerima suratnya agar tetap teguh memegangnya.  Jangan sekalipun ada hasrat untuk lari, keluar dari iman itu.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top