Mengenal Alkitab

Karena Iman Habel

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 19 August 2015 - 11:26 | Dilihat : 5381

Ibrani 11:4

Bagian mula pasal sebelas penulis Ibrani telah memberikan landasan penting tentang apa itu Iman.  Di sana dia menegaskan kembali tentang apa itu iman.  Iman bukan sekadar soal percaya.  Kata “Pistis” yang digunakan penulis Ibrani memiliki arti yang lebih luas.  Di sana ada unsur kesetiaan, keyakinan dan bukti dari sesuatu yang dipercayai. 

Tokoh pertama yang dipuji dan dijadikan teladan beriman oleh penulis Ibrani adalah Habel.  Siapakah Dia?  Tentu kita semua sudah sangat familiar dengan  anak kedua dari Adam dan Hawa ini (kej 4:2 ).   Entah dengan alasan apa Adam dan Hawa memberi nama anaknya yang kedua itu dengan Habel, yang mengandung arti  negatif itu “nafas,” “uap,” atau “kesia-siaan”.   Beberapa penafsir mengaitkan nama habel dengan kemungkinan  cerminan perasaan kecewa Hawa dengan kondisi yang dialaminya, paska jatuh dalam dosa.  Atau juga menjadi semacam ingatan buat dia (manusia) tentang prediksi mengenai kependekan dari kehidupannya. 

Meskipun namanya tidak mengandung arti yang baik, namun Alkitab (ibrani)  mencatat dengan begitu jelas tentang teladan Imannya.  Karena Imannya itu Habel mempersembahkan korban yang lebih baik kepada Allah dari korban Kain.  Mengapa lebih baik? Bukan karena jenis apa yang dipersembahkannya (biji-bijian seperti persembahan Kain, atau Binatang, seperti persembahan Habel).  Bukan pula kuantitas, berapa banyaknya jumlah yang dipersembahkan.  Di sini Allah tidak sedang melihat persembahan dari keduanya yang satu lebih tinggi dari yang lain.  Yang mengandung “darah” lebih baik dari korban yang tidak (buah, sayur dan biji-bijian).  Tapi yang Allah lihat adalah bagaimana (sikap) iman seseorang, si pemberi korban, bukan korbannya itu sendiri.

Sebagian komentator menafsirkan yang menjadi pembeda antara Kain dan Habel adalah “Terbaik”.  Alkitab mencatat, Kain membawa beberapa dari hasil pertaniannya (Kej 4:3), sementara Habel membawa yang terbaik dari ternaknya, “anak sulung kambing dombanya”.  Kata kuncinya ada pada kata “sulung”, yang menunjukan suatu sikap iman dan hormat yang teramat tinggi kepada Allah.  

Sementara komentator lain lebih menyoroti respons Kain yang hatinya menjadi sangat panas, dan mukanya muram, ketika persembahannya tidak diterima. Menunjukkan sikap yang tidak baik dalam memberikan persembahan.  Alih-alih mengintropeksi diri dengan melihat apakah ada yang keliru atau salah ketika dia mempersembahkan persembahan itu, tapi justru melampiaskan kekesalan dan kemarahannya kepada Allah, ke Orang lain (Habel). Sorotan lain lagi diarahkan bukan soal persembahan atau orangnya, tapi soal “keberpihakan,” soal hak prerogatif Allah dalam memilih mana yang dikehendaki dan mana yang tidak. 

Karena Perkenan Allah terhadap persembahannya (dalam sikap iman yang benar), Habel masih berbicara, sesudah ia mati.  Bagian ini seyogyanya dipahami dalam konteks peneguhan iman seseorang ketika menghadapi kematian yang kemudian menang atasnya.

Penulis Ibrani menyuguhkan kembali kisah Habel kepada para penerima suratnya untuk menjadikan Habel sebagai teladan.  Bukan saja dalam beriman yang benar; tetapi juga dalam meresponi imannya itu di kehidupan sehari-harinya pun termasuk menanggung risiko iman, kematian sekalipun.  Kepada Para pembacanya yang sebentar lagi hendak mengundurkan diri karena  penganiayaan yang dialami, penulis Ibrani mendorong mereka agar memiliki iman yang tangguh seperti habel.   Bagian ini juag sekaligus menjadi bukti betapa penting peranan iman dan betapa luarbiasanya iman itu bekerja dalam hidup Habel. Untuk itu penulis surat Ibrani tak kurang-kurang mendorong penerima suratnya agar teguh memegangnya.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top