Sapaan Gembala

Pengajaran Minus

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 19 August 2015 - 11:35 | Dilihat : 1114

Umat Yahudi terkenal dengan pola didikannya yang ketat dengan disiplin tinggi.  Model didikannya banyak diteliti dan diadopsi sebagai model atau metode didikan kepada anak di masa kini. Tentu saja upaya serius yang patut diacungi jempol.  Pola didikan yang dianjurkan oleh Musa agar dilakukan kepada generasi satu ke generasi selanjutnya, terus berlanjut berulang-ulang. 

Pola didikan Musa dicatat dengan begitu terang dalam kitab Ulangan pasal 5 dan 6.  Di sana dikisahkan setelah Musa menjelaskan seluruh ketentuan Hukum Taurat yang didapatkannya langsung dari Allah, lalu menandaskan ketentuan itu dengan menegaskan kepada umat Israel agar “memperhatikan” (Ul 6:6) dan “mengajarkannya berulang-ulang” kepada anak cucu mereka dan “membicarakannya” apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun (Ul 6:7).

Betapa hebat model didikan seperti itu.  Tidak saja ada unsur disiplin di dalamnya, tapi juga ada pengondisian dan pembentukan pola pengajaran yang menetap, dengan pembiasaan tertentu yang menjadikan topic pengajaran menjadi bagian keseharian anak didiknya. Dalam berbagai kondisi dan keadaan.  Entah saat di rumah atau dalam perjalanan, saat berbaring, atau saat bangun.  Dalam pola didikan seperti dianjurkan Musa ini, bukan sekadar untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan “teologis” anak-anak, lebih dari itu untuk pembentukan mental dan spiritualitas yang mantap.  Sehingga apa yang diajarkan, yang dikondisikan dan di biasakan itu bermanfaat bagi kerohanian anak, bagi hubungan pribadi anak dengan Tuhannya.  

Bukan mudah menjalaninya, sebab dibutuhkan pendisiplinan diri, tidak hanya kepada anak, tapi juga orangtua yang wajib mengajarkan pengajaran penting Firman Tuhan itu berulang-ulang dalam segala suasana dan kesibukan yang berbeda-beda. Bukan sekadar mengajar, tapi juga memastikan apa yang diajarkan berpengaruh kepada spiritualitas anak, membawa anak bisa merasai hubungan dengan Tuhannya secara pribadi.

Pola atau metode didikan yang bagus dan patut dijadikan contoh, baik orang di masa lalu maupun masa kini ini diharapkan menghasilkan buah yang bagus pula.  Tapi realita seringkali berkata berbeda.  Jatuh-bangunnya umat Israel, dari generasi ke generasi, seperti tercatat dalam kitab suci, menjadi indikasi ada sesuatu yang kurang tepat dalam pengaplikasian model pengajaran yang sudah sangat bagus itu. 

Kitab Hakim-hakim 2:10-11 mencatat ketika generasi Tua yang percaya kepada Allah meninggal, generasi selanjutnya dikatakan tidak lagi mengenal TUHAN dan perbuatan yang dilakukanNya bagi orang Israel (Hak 2:10). Bahkan mereka melakukan apa yang jahat di mata TUHAN dan mereka beribadah kepada para Baal (Hak 2:11).  Bagian ini tentu saja mengundang Tanya.  Bagaimana mungkin kecenderungan menyeleweng dari Allah itu bisa terjadi, kalau setiap hari anak-anak Israel dicekoki dengan ajaran tentang Allah dan HukumNya (taurat).  Rasanya sulit membayangkan, ketika setiap hari anak dididik tentang pengetahuan tentang Allah dan Hukum-hukumNya, lalu ketika generasi ayah mereka semua meninggal, anak-anak itu disebutkan tidak mengenal Allah sama sekali.  Ini juga menunjukkan ada sesuatu yang hilang dari pola pengajaran yang baik itu. 

Setidaknya ada beberapa indikasi mengapa ajaran atau didikan yang benar menghasilkan sesuatu yang menjauh dari yang diharapkan.  Pertama, Apa yang diajarkan tak lebih dari sekadar “Legalitas Hukum atau Etika” saja. Yang diajarkan hanya ketentuan Allah dengan segala ancaman hukumannya.  Allah sang pemberi Hukum dan sekaligus yang berkarya (berjasa) besar bagi kehidupan jasmani dan spiritualitas mereka, tidak lagi diwartakan sebagaimana mestinya.  Terbukti dari ketidakmengertian generasi setelah Yosua tentang TUHAN dan perbuatan yang dilakukanNya bagi orang Israel (Hak 2:10). Kedua, Ketiadaan Teladan, dari orang yang mengajarkannya (orangtua).  Tidak memberi contoh yang sesuai dengan apa yang dikatakan membuat pengajaran yang diajarkan tidak mendarat tepat sasaran.  Membuat pengajaran itu tak lebih dari sekadar tambahan informasi atau pengetahuan.  Di benak anak-anak, atau generasi selanjutnya, ajaran penting tentang ketentuan Allah itu akan dipahami tak lebih sebagai anjuran, jika tidak ada teladan.  Ketiga, adalah “hilangnya Spirit Ajaran”, ketika spirit dari suatu ajaran itu hilang, dalam hal ini adalah prinsip spiritualitas, maka maksud dan tujuan dari ajaran itu juga sulit tersampaikan dengan baik.  Maksud dan tujuan Musa menganjurkan pola didikan seperti dijelaskan diatas adalah untuk membangun spiritualitas.  Alih-alih spiritualitas itu terbangun, kitab hakim-hakim justeru menyebut generasi selanjutnya semakin tidak mengenal Allah, yang berperan penting dalam kehidupan fisik dan spiritualitas mereka, karena apa yang diajarkan terindikasi tidak lagi mengacu pada spirit ajaran mula-mula.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top