Mengenal Alkitab

Iman Mendahului Perkenanan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 19 August 2015 - 11:39 | Dilihat : 1177

Ibrani 11:5-6

Kitab suci mencatat bahwa Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. (Roma 3:11). Tidak satupun orang yang mungkin dan bisa menjangkau Allah.  Tidak satu hal pun yang bisa membawa manusia menuju Allah.  Dan dengan demikian tidk ada satu bagian dalam hidup orang bisa dijadikan sebagai bahan pertimbangan Allah untuk menyatakan bahwa dirinya layak.  Atau satu hal yang membuat orang itu bisa diperkenan Allah.  Sebab seluruh bagian hidup manusia telah rusak oleh dosa.  Hal ini sepertinya berbeda dari apa yang bagian kitab Ibrani ini sajikan.   Ibrani mencatat bahwa ada satu orang yang diperkenan Allah oleh karena imannya.  Adalah Henokh yang diperkenan Allah.  Dia disebutkan penulis Ibrani telah mendapat kesaksian dari Allah karena imannya.  

Pertanyaannya, kalau pada dasarnya seluruh bagian hidup manusia,  pun termasul spiritualitasnya sudah rusak,  lalu hal apa yang bisa membuat manusia bisa meresponi Allah.   Benar,  manusia,  termasuk Henokh memang mendapat bagian penting dalam hidupnya sebagai akibat kesegambarannya dengan Allah,  yakni natur spiritualitasya.  Yang dengan natur itu manusia punya kerinduan untuk dekat kepada Allah.  Tapi seperti kita semua tahu,  bahwa natur itupun telah rusak atau korup oleh keberdosaan manusia.  Sehingga mustahil dapat menjangkau atau menjalin relasi dengan Allah.  Karena Allah adalah kudus adanya.  Tak mungkin Allah berdampingan atau bersekutu dengan orang yang berstatus dosa.   Kalau demikian dari mana kekampuan atau kemungkinan daya manusia bisa berpaling dan beriman pada Allah, sampai kemudian bisa diperkenan oleh Allah? 

Bukan manusia yang menjangkau Tuhan. Bukan pula manusia yang punya kemampuan untuk meresponi.  Ketika manusia, seperti  juga Henokh, bisa memiliki relasi dengan Allah, karena mereka mendapat anugerah dari Allah terlebih dahulu.  Allah yang berprakarsa, bukan manusia.  Allah yang mendahului, dan bukan manusia.  Allah yang memilih, orang atau bangsa tertentu, dan bukan manusia.  Karena itu Henokh yang diperkenan Allah karena imannya pada dasarnya adalah karena Allah yang terlebih dahulu memberi anugerah kepadanya.  Allah yang memilih dia untuk tujuan atau maksud tertentu. 

Namun demikian iman tidak berhenti hanya pada bisa meresponi.  Tapi iman yang terus menerus dihidupi.  Iman itu bertumbuh dan bisa dirasai.  Seperti Henokh yang diperkenan Allah karena Imannya, begitu juga penulis surat Ibrani berharap agar para penerima suratnya dapat beriman sepenuhnya kepada Allah.  Bukan sekadar iman yang pernah ada di waktu mula saja, tapi iman yang terus menerus dihidupi, terekspresi; dan dijalani.  Karena ketekunan iman dalam beriman itu niscaya Allah berkenan kepadanya.  Iman seperti ini adalah iman yang tetap setia dan bertahan, sampai titik nadir kehidupan. Entah seperti apa dan bagaimana caranya nanti akan mati.  Atau seberat apa hidup harus dijalani, yang jelas iman itu harus terus disiram dan pupuk agar bertumbuh sampai akhir nanti. 

Itulah iman yang dalam bahasa Yunani disebut dengan “Pistis”.  Kata ini diterjemahkan menjadi tiga kata yang saling melengkapi, yaitu: “iman,” “percaya,” dan “kepercayaan.” yang fokusnya, seperti disebut Bob Utley, tidak hanya pada fakta kognitif saja, namun juga kepercayaan pribadi dalam percayanya pada Allah; dan mengimani kesetiaanNya! Hal ini bukan sekedar peneguhan percaya saja, tapi menjadi bagian dari seluruh aspek hidup orang, atau gaya hidupnya.

 

Ibrani 11:5-6 (TB)  Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah.
Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.

Lihat juga

Komentar


Group

Top