Mengenal Alkitab

Beriman Dalam Kemustahilan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 26 August 2015 - 10:48 | Dilihat : 1127

Ibrani 11:7

Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan --dengan taat mempersiapkan bahtera  untuk menyelamatkan keluarganya;  dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.

Sulit benar pergumulan penerima surat Ibrani. Permasalahan pelik yang membuat mereka menjauh dari Tuhan.  Seperti kita tahu, itulah latar penulisan surat Ibrani ini.  Menjawab kebutuhan umat atas penghiburan dalam iman dan peneguhan iman mereka kembali, yang entah karena alasan pragmatis (ingin segera keluar dari kesesakan), atau karena lasan lain.  Setelah begitu banyak penghiburan, perbandingan dan penegasan dilakukan penulis surat Ibrani, di Pasalnya yang ke sebelas ini dia ingin memperlihatkan kepada penerima suratnya tentang teladan iman yang teramat penting dari pendahulu mereka, dari moyang mereka dan tokoh-tokoh alkitab penting lainnya. Sebelumnya ada beberapa nama penting seperti Habel dan Henokh, kini tiba pada giliran tokoh penting lain, yaitu Nuh.

Nama tokoh ini sudah begitu familiar ditelinga kita.  Bukan saja karena kehebatannya dalam membangun bahtera, tapi juga ada sisi lain yang menjadi dinamika dalam hidupnya, dan  Alkitab pun mencatatnya juga.  Di pasalnya yang ke sebelas ini bukan sekadar itu yang ingin penulis Ibrani tonjolkan, tapi betapa hebat dan besar teladan Imannya.  Seorang petani anggur biasa (Kej 9:20-27), bukan seorang yang maha hebat dan sempurna, tapi diperkenan Allah untuk menjadi alatNya (Kej 6:8).  Tapi Alkitab mencatat betapa hebat dan penting imannya untuk diteladani. 

Karena imannya Dia tidak menganggap ringan atau enteng peringatan dari Tuhan, sama seperti kaum atau bangsanya yang menganggap rendah Tuhan dan segala perintahNya dengan melakukan kejahatan yang begitu luar biasa. Manusia yang kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kej 6:5).  Kepada mereka semua Allah betul-betul menyesal dan ingin memusnahkan mereka semua dari muka bumi (kej 6:13).

Untuk tujuan itu selanjutnya Allah memerintahkan Nuh untuk membangun sebuah Bahtera yang teramat besar.  Allah juga sudah menetukan berapa besar dan ukuran-ukuran tepatnya.  Bagi para pembuat kapal tentunya hal itu mudah dilakukan, karena itu adalah bidangnya.  Meski begitu pun tetap membutuhkan tenaga dan sumber daya yang besar, lebih dari tenag satu keluarga saja.  Apalagi seorang Nuh yang hidupnya sebagai petani anggur jauh dari bersentuhan dengan dunia kemaritiman seperti membuat perahu yang maha besar itu.  Belum lagi berbicara soal bagaimana ejekan dan cemooh orang yang diterimanya dengan tangan terbuka, kalau melihat interpretasi dari banyak film tentang Nuh.  Simpulannya, hal itu hampir mustahil dilakukan oleh Nuh. 

Menjadi pertanyaan bagi kita adalah, mengapa Nuh mau mengindahkan perintah Allah, padahal perintah itu hampir mustahil dilakukan Nuh? Alkitab mencatat Nuh melakukan semuanya itu tepat seperti yang diperintahkan  Allah kepadanya (Kej 6:22).  Jawabannya ada pada bagian surat Ibrani ini. Itu semua dilakukan Nuh karena imannya. Sesuatu yang belum pernah dilihatnya, bayhkan belum pernah ada sebelumnya.  Sehingga tidak ada pernah ada pengalaman membuatnya, atau tutorial bagaimana membuat bahtera.  Tapi Alkitab mencatat dia mengincahkan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan itu dengan taat mempersiapkan bahtera  untuk menyelamatkan keluarganya (Ibr 11:7).  Karena iman itu pula, Nuh dipakai Allah sebagai alat hukuman bagi umat manusia yang semakin menjauh dari Allah.  Dan iman yang sama juga menghantar dia dimuliakan oleh Allah dalam dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran.

Sebuah status yang didapat bukan karena anugerah Allah itu yang otomatis membuatnya benar dan beriman.  Tapi anugerah itu menolong Nuh untuk bertumbuh dalam kebenaran Allah.  Anugerah yang menjadi satu dengan dirinya dan berproses dan progress, bertumbuh oleh karena pergaulan Nuh yang akrab dengan Allah (Kej 6:9).

Dengan menyitir kembali kisah nuh, penulis Ibrani sangat menginginkan bahwa penerima suratnya itu dapat tetap ada di jalur keselamatan Allah, dengan tetap berpegang pada iman mereka, sama seperti Nuh yang beriman kepada Allah, meskipun dia belum pernah mengalami atau memahasi sebelumnya apa yang diperintahkan Allah. Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top