Sapaan Gembala

Beribadah Dengan Benar

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Wed, 26 August 2015 - 10:54 | Dilihat : 1603

            Ibadah dalam bahasa Ibrani adalah Avoda, Yunani; Latreia, yang berarti pekerjaan budak atau hamba. Itu sebab kata ibadah dipakai dalam konteks umat yang mengungkapkan rasa takut yang penuh hormat, kekaguman, pujian dan penyembahan, kepada Allah pencipta alam semesta. Umat harus mampu menempatkan diri sebagai budak. Budak yang tidak memiliki hak, bahkan atas dirinya sendiri, karena telah dibeli dan menjadi milik tuannya. Hidup dan matinya hanyalah untuk tuannya, sampai tuannya berkenan membebaskan dirinya.

Lukisan ini sangat tepat dan teliti dalam menggambarkan detail-detail ibadah itu. Pertama, umat seharusnya menyadari bahwa dalam ibadah, dia mengahadap Allah yang suci, maka sudah seharusnya umat memiliki hati yang suci. Hati yang tak berselubung berbagai motivasi yang tak murni. Hati yang hanya mengarah pada keinginan melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Disini kita dituntut untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin, bukan hanya persiapan jasmani tetapi juga rohani. Yang terakhir ini seringkali terlupakan. Kedua, dalam ibadah umat dipanggil untuk memuji dan menyembah DIA, Allah sang pencipta. Memuji dan menyembah Allah, bisa dalam bentuk doa atau nyanyian. Doa dan nyanyian menjadi wadah penting dalan mengekspresikan pujian dan penyembahan umat. Karena itu, dalam berdoa dan menyanyi sudah seharusnya tiap kta menjadi perhatian serius kita. Tak ada alasan untuk asalan, bahkan sebaliknya harus serius, terarah dan sesuai dengan ajaran Alkitab. Kita perlu belajar dengan baik dan tepat, seperti kata Paulus, “latihlah dirimu beribadah, agar tak terjebak pada dongeng atau paham yang salah (1 Tim 4:7)”.

Berdoa tak sekedar kencangnya suara, sementara menyanyi tak sekedar terbawa emosi. Semua harus dilakukan dengan baik dan benar. Untuk ini gereja selalu menyeleksi dalam memilih lagu yang akan dinyanyikan. Bahkan membuat seminar khusus sebagai bagian dari pembinaan untuk kebenaran pemahaman makna. Tentu, sangat menyedihkan jika kita hanya terbawa arus dalam memuji, terjebak pada nada, dan saat yang bersamaan kehilangan banyak makna. Untuk itu gereja dituntut untuk senantiasa memperkaya ibadah dalam menggali makna. Ketiga, tentu saja dalam merenungkan kebenaran Firman. Umat tak sekedar mengaminkan, tetapi perlu terlibat dalam penggalian dan penafsiran makna. Umat harus cermat, sehingga tak tersesat. Meneliti tiap kata pengkhotbah, apakah sesuai dengan pesan Alkitab. Untuk itu umat dituntut terlatih membaca dan memahami isi Alkitab.

Melengkapi bagian ini, gereja menetapkan khotbah ekspositori dalam minggu 1 s/d 3, dan menganjurkan umat untuk bersaat teduh setiap hari dengan memakai metode baca gali Alkitab, lewat buku Santapan Harian yang tersedia digereja. Gereja juga mengadakan seminar setiap minggu ke 4, dengan harapan umat terlatih untuk berdiskusi dalam memahami Alkitab dalam konteks kekinian. Nah yang terakhir, dalam memberi persembahan. Umat harus menyadari sepenuhn ya bahwa apapun yang kita miliki berasal dari DIA, Tuhan yang maha pemberi. Kita memberi hanyalah karena telah menerima, dan percaya pada pemeliharaan-NYA yang tak pernah lalai. Dia mencukupkan kita dengan rezeki maka kita memberi sebagai rasa syukur. Jadi, sungguh tak bijak, jika memberi dikaitkan dengan penerimaan kembali, apalagi dengan harapan berkali-kali lipat. Ini sama sekali tidak mencerminkan iman yang benar. Nah, karena itu, latihlan dirimu beribadah dengan benar, maka puaslah hidupmu dalam beribadah pada Allah pemilik segenap hidup kita.

            Selamat beribadah dengan benar (Matius 15 : 9,  1 Samuel 12 : 20, Ibarani 10 : 25, Titus 2 : 12) 

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top