Mengenal Alkitab

Menanti Dalam Iman

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 2 September 2015 - 11:58 | Dilihat : 1440

Setelah sebelumnya penulis Ibrani menyuguhkan teladan Iman tokoh penting di kitab suci, utamanya tokoh-tokoh penting Yahudi.  Tiba saatnya penulis kitab Ibrani mengunjukkan orang yang paling penting bagi umat Yahudi.  Dia dikenal sebagai penerima janji berkat dari Allah, dan janji itu dipercaya akan diteruskan kepada keturunannya (secara biologis).  Di kalangan Kristen sendiri, tokoh satu ini juga dikenal sebagai Bapa orang beriman.  Ya, dia adalah Abraham. 

Bagian dari pasal sebelas surat Ibrani menyuguhkan secara khusus bagaimana iman seorang Abraham.  Abraham beriman bukan karena kitab suci berkata demikian.  Tapi karena tindakannya menunjukkan keberimanannya dia.  Tindakan seperti apa sajakah itu:

  1. Taat Meresponi Panggilan Allah

Bukan mudah menaati perintah Allah.Apalagi perintah itu adalah perintah yang kalau dinalar cenderung tidak masuk akal.Betapa tidak,

 

  • Perintah dalam ketidakjelasan.

 

Abram diperintahkan Allah menuju tempat yang tidak diberikan data dengan jelas, dimanakah itu.Orang (Abram) yang sebelumnya sudah hidup nyaman di negerinya sendiri, lalu sekonyong-konyong Allah memerintahkan agar dia pindah dari daerahnya itu menuju suatu tempat yang Allah sendiri janjikan.Dimana tempatnya?Tidak jelas sama sekali dimanakah itu (11:8).

Tapi karena Iman yang Allah anugerahkan kepada Abraham, dan iman itu bekerja dan berbuah dalam dirinya, maka Abraham bisa taat sepenuhnya kepada Allah.Menjalani perintah Tuhan tanpa membantah, meski dia sendiri mahfum perintah itu tidaklah terlalu jelas dan masuk akal bagi dirinya.Bahkan mungkin saja bisa merugikan dirinya dan keluarganya.Akan jauh lebih mudah dijalani, kalau perintah itu turun kepadanya ketika dia belum berkeluarga.Tapi saat itu dia sudah berumur 75 tahun, tentu saja sudah berkeluarga (Kej 12:4).  Belum lagi keluarga besar lain, seperti keponakan Abraham, Lot, yang ikut dengannya.  Maka beban yang besar itu akan menjadi bertambah sulit kalau dia harus memulai kehidupan barunya lagi di tempat yang sama sekali baru dan belum dikenalnya. 

  • Menjanjikan Tempat yang sudah Dikuasai Orang

Kanaaan memang tanah yang dijanjikan Allah.  Tapi bagaimanapun juga tanah itu sudah dikuasai orang.  Mendapat restu dari Allah, Sang empunya tanah tidak berarti otomatis langsung bisa merampas tanah milik orang.  Kalau demikian semua orang bisa saja mengaku-ngaku atas nama Tuhan demi mendapat harta benda yang bukan miliknya. 

Inilah yang menarik dari Abraham.  Alkitab, mencatat Abraham taat dan tunduk pada perintah Allah, meskipun dia tahu tanah yang dijanjikan kepadanya sejatinya bukan kepunyaannya saat ini.  Untuk itu, karena imannya pula dia rela hidup ditengah-tengah penguasa tanah itu seperti layaknya orang asing di sana.  Padahal, sang empunya tanah sudah memberikan itu kepadanya.

  1. Menanti Kota Rancangan Allah

Karena Iman Abraham juga dia dan keturunannya yang kelak mewarisi jani Allah itu, Ishak dan Yakub, di tempat yang sudah diberikan Allah itu rela hidup dan tinggal dalam kemah (11:9).  Padahal bisa saja membangun bangunan yang lebih permanen, seperti keponakannya, Lot, yang tinggal di tanah Sodom Gomora, membangun tempat yang sudah permanen. 

Bukan tidak Abraham tidak bisa, atau tidak punya biaya untuk membangunnya.  Tapi dalam imannya Abraham menyadari tentang betapa penting menantikan Allah dalam setiap keinginan dan rancangan hidupnya.  Ada banyak harta Abraham yang dia bawa dari tanah mesir.  Bukan saja harta, tapi juga sumberdaya manusia (ratusan budak).  Bukan itu saja. Abraham juga sadar betul tentang orientasi harta yang benar, bukan sekadar tempat atau tanah atau wilayah tertentu di bumi ini, tapi tanah atau tempat yang bersifat kekal.  Abraham berorientasi pada wilayah atau kota yang Allah inginkan, yang Allah rancangkan dan dibangun oleh Allah sendiri (11:10).

Dengan memberikan teladan Iman Abraham, besar harapan penulis Ibrani, penerima suratnya dapat meneladaninya.  Kalau Abraham bisa beriman dalam “ketidakjelasan” maka seharusnya mereka (penerima Ibrani) jauh lebih mungkin bisa beriman.  Sebab semuanya sudah sangat jelas.  Dan segala perbandingan yang diberikan oleh penulis ibrani pun sudah sangat tegas.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top