Sapaan Gembala

Keluarga Yang Melayani

Penulis : Ibu Greta Mulyati | Wed, 2 September 2015 - 11:59 | Dilihat : 1952

Memperhatikan kehidupan keluarga masa kini cukup memprihatinkan. Keretakan hingga kehancuran menjadi momok menakutkan, tapi seringkali tak terhindarkan. Karena itu, sudah semestinya keluarga menjadi fokus utama bagi gereja maupun keluarga itu sendiri. Bagaimana membangun rumah tangga yang bahagia? Alkitab mengajarkan hal ini kepada kita. Paling tidak ada beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian kita ditulisan yang pendek ini.

Mulailah pernikahan dengan pilihan pasangan dan tindakan yang benar. Yang seiman menjadi tuntutan mendasar (2 Korintus 6:14). Kesatuan iman akan menciptakan kesimbangan dalam rumah tangga. Menolong keluarga memiliki tujuan hidup yang sama yaitu memuliakan Tuhan, dan menjadikan uang sebagai alat kehidupan dan bukan tujuan. Keseimanan juga akan menolong tiap pasangan dalam menyikapi dan menjalani kehidupan yang cenderung semakin sulit. Sehingga keseimbangan dalam keluarga menolong kita melewati berbagai persoalan kehidupan yang datang silih berganti. Awas jangan sampai salah pilih, apalagi sekedar berorientasi pada nilai ekonomi.

Tempatilah posisi yang semestinya, yang Alkitab sudah berikan. Suami menjadi pemimpin, dan istri menjadi penolong. Namun ini adalah satu kesatuan dan bukan pada ranah benturan. Perbedaan posisi untuk saling melengkapi dan menguatkan, bukan menjatuhkan. Istri yang tunduk dengan suami yang mengasihi, bukankah itu sangat indah (Efesus 5:22-25). Ini adalah harapan yang diberikan Tuhan bagi keluarga yang mencintai Firman Nya. Istri melukiskan kelembutan dan sikap rendah hati, mampu memberi hormat sehingga suaminya bangga akan dia. Sebaliknya suami dalam kasih bertanggungjawab penuh atas kehidupan keluarganya. Mampu memimpin keluarganya dijalan yang sesuai dengan Firman Tuhan. Tidak ada kekuatan yang mampu melemahkan hubungan suami istri, kecuali pengingkaran pasangan pada posisi yang semestinya. Untuk itu tiap pasangan harus berlomba untuk saling melengkapi. Inilah kompetisi hidup keluarga yang sesungguhnya.

Disituasi yang tidak mengenakkan, ingatlah pesan Alkitab untuk hidup saling menguduskan (1 Korintus 7:14). Hal ini berlaku dalam menghadapi berbagai persoalan yang membahayakan, maka usaha menyelamatkan adalah bersikap benar. Yang kudus menguduskan yang tidak benar, artinya berbuat benar dan bukan membalas ketidakbenaran sehingga menjadi titik kehancuran. Begitu pula jika sudah salah memilih pasangan, dan merasakan akibatnya, tidak ada jalan lain kecuali berusaha keras untuk meluruskannya seturut dengan kemurahan Tuhan. Hal ini pasti tidak mudah, namun bukan tidak bisa. Yang diperlukan adalah daya tahan kita sebagai umat, dan kebergantungan penuh pada pertolongan Tuhan. Bagaimanapun juga kita telah membuat pilihan atau tindakan salah yang mengakibatkan munculnya persoalan. Kita tidak bisa mencuci tangan sekedar mempersalahkan pasangan, tapi berdoa menjadi alat keselamatan rumah tangga.

Menjalani dan melewati badai hidup akan menjadi pengalaman hidup yang meneguhkan dan modal besar dalam melayani. Namun, sebelum badai itu datang, mulailah melayani bersama sebagai keluarga. Kebersamaan akan membuat kita kuat dan membentuk diri menjadi pelayan tangguh. Keluarga yang melayani adalah kekuatan hebat, dan akan menjadi modal besar keluarga itu sendiri karena bisa saling menasehati dan saling melengkapi. Mari berlomba menjadi keluarga yang melayani, bukan sekedar menjadikan ini semboyan, melainkan mewujudkannya secara perlahan. Tuhan tak pernah terlambat menolong keluarga, tapi keluarga memang seringkali terlambat datang kepada Tuhan. Semoga kita tidak pada posisi itu. Selamat menjadi keluarga yang melayani, membangun masa depan.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top