Mengenal Alkitab

Sempat Gagal, Namun Cepat Kembali

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Mon, 7 September 2015 - 11:38 | Dilihat : 1223

Ibrani 11:10-11

Kitab kejadian mencatat dengan sangat jelas bagaimana Allah akan memberkati Abraham dan keturunannya.  Tuhan akan membuat Abraham menjadi bangsa  yang besar, memberkati dia dan membuat namanya menjadi masyhur (Kej 12:2). Tentang janji berkat ini Sara, istri Abrah sangatlah mahfum, paham sepenuhnya.  Dan itulah yang Sara imani.  Namun sayang, umurnya yang lanjut, sekitar 90 tahun (Kej 17:17), dan kondisinya yang mati haid (Kej 18:11), membuat dia keliru menanggapi, keliru menafsirkan janji berkat Allah itu.  Lalu berusaha merasionalisasi janji itu dengan menyodorkan hambanya sebagai “pengganti” dirinya, sebagai penyambung keturunan Abraham.  Dalam konteks budaya waktu itu, hal itu dimungkinkan terjadi.  Sebab seorang hamba sepenuhnya menjadi hak kepemilikan/ penguasaan majikannya.

Walaupun secara tradisi dan hukum waktu itu legal, tapi bukan keturunan dari hambanya, atau keturunan tidak langsung Abraham yang Tuhan ingini.  Allah menentukan janji berkat itu turun kepada keturunan Abraham langsung, buah kandung Sara sendiri (Kej 17:15-16).  Seorang anak laki-laki yang akan lahir dari rahim Sara sendiri.  Hal ini tentu saja membawa kebahagiaan bagi Abraham dan istrinya. 

Kendati mendatangkan bahagia, namun bagi pasangan yang sudah uzur seperti Abraham dan Sara, hal itu tetap lah tidak mudah.  Butuh kekuatan extra untuk dapat menerima kenyataan tersebut.  Kekuatan itu tidak mungkin didapatkan dari diri Abraham dan Sara, tapi dari Tuhan yang memberikan anugerah beriman kepadanya. Dan iman itulah yang menolong Abraham dan Sara dapat setia dalam penantian.  Iman itu yang menolong sara dapat menurunkan keturunan, anak cucu bagi Abraham,  walaupun usianya sudah lewat (Ibrani 11:11).

Usia menjadi halangan tersendiri, khususnya bagi Sara.  Lanjut umurnya membuat sara tertawa geli menerima kenyataan luar bisa itu dari Tuhan.  Betapa tidak, setua itu (90) tahun, sulit membayangkan, bahkan Sara sendiri dalam pengakuannya untuk berahi kembali, setelah sekian lama layu, sementara Abraham sendiri sudah sangat tua (Kej 18:12).  Bukan hanya Sara, Abraham pun bersikap demikian,  karena umur yang uzur membuat mereka berdua merasa geli.  Mungkinkah bagi seorang yang berumur j  seratus tahun dilahirkan seorang anak dan mungkinkah Sara, yang telah berumur k  sembilan puluh tahun itu melahirkan seorang anak?" (Kej 17:17)

Karena iman pula Sara dapat bertahan dalam penantian, meskipun apa yang dinantikan itu adalah kemustahilan bagi orang di zamannya.  Bukan hanya belum pernah terjadi sebelumnya, tapi memang mustahil terjadi.  Dalam kemustahilan anggapan orang itu Sara dapat bertahan.  Itu semua tidak akan mungkin terjadi kalau dengan hanya mengandalkan kekuatan sendiri.  Hanya iman yang dapat mengerjakannya. 

Selanjutnya, iman yang sama juga berdampak besar ke dalam diri Sara.  Sebab hadirnya keturunan itu tidak sekadar menghapuskan duka bagi sara – mengingat dalam waktu itu orang yang tidak beranak dilabeli orang sebagai akibat dari dosa – tapi juga mendatangkan tawa bagi Sara. "Allah telah membuat aku tertawa;  setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku (Kej 21:6)."  Bukan tertawa karena ejekan, tapi tertawa dalam ketakjuban.  "Siapakah tadinya yang dapat mengatakan kepada Abraham: Sara menyusui anak? Namun aku telah melahirkan seorang anak laki-laki baginya pada masa tuanya. " (Kej 21:7).

Iman yang bertumbuh dalam diri Sara menolong dia untuk tetap setia menghidupi janji Allah.  Meskipun utnuk itu dia sempat mengalami dinamika jatuh bangun menghidupinya.  Namun kesetiaannya dia dalam beriman membuat dia dipakai tuhan untuk membuahkan keturunan dari satu orang, bahkan yang mati pucuk, yang tidak lagi berpotensi melahirkan anak, terpancar daripadanya keturunan dalam jumlah besar, bahkan seperti bintang di langit dan pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya (Ibr 11:12).  

Teladan seperti ini yang penulis Ibrani harapkan dimiliki oleh penerima suratnya.  Kendati hidup beriman mereka pernah jatuh, tapi tidak berhenti di situ dengan hanya meratapi nasibnya.  Tapi bangkit kembali, setia menghidupi iman itu sampai akhir.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top