Sapaan Gembala

Melawan Dosa

Penulis : Pdt Netsen | Mon, 7 September 2015 - 11:47 | Dilihat : 1837

Dosa adalah seteru Allah dan seteru orang percaya. Meski oleh karya Yesus Kristus yang telah menderita, mati di kayu salib, dikuburkan dan bangkit dari kematian telah mengalahkan kuasa dosa. Tetapi hal tersebut tidak serta-merta menjadikan hidup orang percaya untuk tidak waspada terhadap dosa. Ketika di Taman Getsemani, Yesus mengingatkan kepada beberapa muridNya; “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah"(Mrk. 14:38). Orang percaya harus berjuang terus-menerus sepanjang hidupnya. Karena, meski kuasa dosa telah hilang dan dikalahkan, tetapi ia terus berjuang untuk menjauhkan orang percaya dari persekutuan dengan Allah. Kepada jemaat di Efesus, Paulus mengingatkan mereka, supaya mereka mengenakan seluruh perlengkapan senjata Allah supaya mereka dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis (Ef. 6:11). Karena meski mereka sudah di dalam Kristus mereka akan tetap menghadapi perjuangan melawan dosa. “karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Ef. 6:12). Hal senada juga di tekankan oleh Petrus, untuk mengingatkan orang percaya yang ada di perantauan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya” (1 Pet. 5:8).

Melawan dosa, bukan sekedar melawan serangan kejahatan dari luar diri manusia, tetapi melawan keinginan di dalam diri yang tidak seturut dengan kehendak Allah. Yaitu keinginan-keinginan daging. Karena keinginan-keinginan demikianlah yang memikat, menyeret dan membuahkan dosa. “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut. (Yak. 1:14-15).

Dengarkanlah pengakuan Daud di dalam Mazmur 51: “Terhadap Engkau, terhadap Engkau saja aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kau anggap jahat, supaya ternyata Engkau adil dalam putusan Mu, bersih dalam penghukumanMu (ay. 6). Apa yang diakui Daud adalah natur asli dari dosa, pemberontakannya terhadap Allah. Hanya ketika kita berjuang melawan dosa karena dosa sama dengan melawan Allah, barulah perjuangan kita bisa mencapai suatu karakter yang suci dan lebih tinggi. Hanya ketika kita berjuang melawan musuh yang sama, bersama dengan Tuhan, barulah kita bisa datang mendekat kepadaNya. Mudah untuk melihat alasannya. Suatu musuh yang sama selalu dapat mempersatukan. Ketika kita melawan dosa demi Dia, kita menjadi sekutu Allah. Ia bahkan menyediakan persenjataannya bagi kita.

Namun setelah mengatakan hal ini, marilah kita melihat sedikit lebih dekat mengenai natur dari peperangan pribadi kita sendiri dan mengenali beberapa karakteristik dari pertempuran yang kita hadapi. Di hari-hari hidup kita, tiap-tiap kita, orang percaya akan berjuang melawan dosa yang berupaya memperdaya hidup kita, mungkin itu gaya atau sikap hidup kita yang individualistis, atau mungkin ada yang berjuang melawan sikap hidup yang materialistis, atau mungkin kita berjuang melawan sikap dalam diri yang antagonis, anrkis, egois, opportunis, hedonis dan bahkan terjebak dalam dosa religiusitas. Kita mesti berani jujur dalam diri, dan berjuang melawan dosa diri. Yaitu keingingan yang tidak memuliakan nama Allah dalam diri kita. Setiap diri manusia pernah dikuasai dosa yang sangat pribadi, atau mungkin sedang dikuasai dosa yang sangat pribadi itu, entah itu kebencian, iri hati, arogansi dll, tetapi kurang dan tidak menyadarinya karena terjebak dalam semangat religiusitas. Berjuanglah. Lawanlah dosa itu, kalahkan dan hancurkan dengan segala perisai perlengkapan senjata Allah.

Dosa harus dikalahkan. Mengetahui bahwa dosa kita dapat dikalahkan adalah langkah pertama untuk datang mendekat kepada Allah. Apa yang selalu perlu kita ingat adalah dosa kita adalah perlawanan terhadap Allah. Seperti Daud, kita jangan pernah melupakan pertempuran kosmis demi keberadaan diri pribadi kita. Dosa itu tidaklah eksistensial. Dosa itu nyata, dan Allah membencinya. Kita melayani Allah dengan baik ketika kita melawan dosa demi Dia. Ketika kita melakukannya, kita akan megalahkan suatu dosa yang kita tunjuk dengan tepat sebagai kelemahan terbesar kita, dan kita akan dalam pertempuran datang mendekat kepada Allah, Sang Komandan kita. Dia memahkotai pekerjaan kita dengan kemengan. Amin.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top