Mengenal Alkitab

Asing Di Dunia, Kekal Di Surga

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Wed, 23 September 2015 - 11:26 | Dilihat : 1501

Ibrani 11:13-16

Kepada mereka semua Allah pernah berjanji akan memberkati.  Namun sampai di akhir hidupnya, janji itu nyatanya belum penuh terealisasi.  Apakah dengan demikian orang-orang yang pernah dijanjikan lantas menjadikan itu sebagai bahan untuk mengutuki Allah?  Apakah ketidaknampakan janji Allah membuat mereka memaki-maki Allah?  Tidak!  Tokoh-tokoh iman, seperti disebut dalam Pasal 11 Surat Ibrani ini tidak berbuat demikian.  Meski belum sepenuhnya terealisasi, dan mereka hanya bisa melihatnya dari jauh dan melambai-lambai kepadanya, hal itu tidak membuat mereka menjadi kecewa (11:13). 

Bukankah Allah sendiri berjanji akan memberikan negeri yang ditempati oleh orang-orang Kanaan  itu sebagai milik pusaka bagi Abraham dan keturunan-keturunannya? (Kej 12:7). Tapi apakah sampai akhir hayatnya Abraham benar-benar sudah melihat janji itu terealisasi?  Tidak, bahkan sampai akhir hayatnya pun Abraham masih tinggal sebagai seorang asing di tanah yang dijanjikan Allah itu.  Satu-satunya penanda penting bahwa tanah itu kelak akan dimiliki oleh Abraham dan keturunannya secara penuh adalah ketika Abraham membeli tanah orang kanaaan itu untuk dijadikan pembaringan terakhir Sara yang wafat.  Sebagian tanah itu secara sah dibeli dan menjadi milik kepunyaan Abraham dan keturunannya. 

Apakah hal itu membuat Abraham dan para tokoh iman yang disitir penulis Ibrani lantas meragukan Tuhan atau menggugurkan imannya? Tidak! Belum terealisasinya janji Allah secara penuh justru semakin meneguhkan imannya, membawa pemahaman spiritualitasnya pada tanah air yang  jauh lebih baik, jauh lebih utama, yang mempunyai dasar,   yang direncanakan dan dibangun oleh Allah (11:10).  Membawa imannya pada pengakuan penting, bahwa dirinya hanyalah orang asing dan perantau di bumi ini. Mengapa penting, sebab hal ini menunjukkan sebuah sikap iman yang utama. Menunjukkan dengan begitu jelas bahwa mereka yang berpandangan demikian sedang mencari negeri yang akan menjadi tanah air mereka. (11:14).

Negeri yang dimaksudkan bukanlah negeri Bukan negeri yang sudah mereka tinggalkan sebelumnya.  Sebab kalau negeri itu yang mereka pikirkan, maka  sudah banyak kesempatan bagi mereka untuk kembali ke negeri itu (11:15).  Tetapi nyatanya yang dirindukan mereka adalah negeri yang jauh lebih baik, yaitu tanah air sorgawi (11:16).  Sikap iman yang demikian membuat Allah tidak malu disebut Allah mereka, dan karena Allah telah mempersiapkan sebuah kota  bagi  beriman seperti demikian.

Beriman sampai akhir adalah sebuah proyek iman yang panjang.  Karena itu setiap orang perlu benar-benar dan sungguh menghidupinya. Dengan menyitir model iman tokoh-tokoh penting PL, yang meskipun tidak melihat realisasi janji Allah secara penuh, namun tetatp setia kepada Allah yang berjanji.  Kepada penerima surat Ibrani yang hampir undur diri dan imannya, penulis surat ini bermaksut agar mereka belajar dari para pendahulunya dalam hal beriman.  Meskipun hidup di dunia penuh aniaya; meskipun di dunia ini kerap diisolasi, diposisikan sebagai bukan penghuni, namun Allah berjanji akan memberikan tempat yang permanen;  tempat yang abadi.  Dan itu bukanlah didunia tempat mereka selalu teraniaya.  Ya, itu ada di sana, di rumah kekal, di surga.

Untuk menuju rumah tinggal yang kekal, maka diperlukan sikap iman yang benar.  Iman yang terpusat pada tanah air surgawi, dan bukan tanah di dunia ini.  Iman yang terpusat kepada Allah yang tak pernah ingkar janji, sebab dia akan memberikan yang jauh lebih baik daripada sekadar kenyamanan duniawi.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top