Sapaan Gembala

Hidup Semakin Jahat?

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Wed, 23 September 2015 - 11:36 | Dilihat : 3792

Perkembangan zaman membuat banyak orang makin menikmati akan kehidupan ini. Banyak hal yang terus berubah, yang tidak mungkin berhenti. Hari demi hari manusia semakin merasakan manfaat dari sebuah perubahan. Hebatnya, otak manusia mampu menciptakan segala sesuatu yang menyenangkan sekalipun itu bersifat sementara. Dulu, tidak ada pemikiran manusia untuk pergi ke bulan, tapi sekarang bulan menjadi tempat wisata. Dulu tidak mengerti tentang planet mars, sekarang sedang diuji coba bertani disana, berhasilkah? Tunggu perkembangan selanjutnya. Alasan utama manusia meneropong jauh kesana, karena bumi semakin penuh, panas, dan bukan lagi menjadi tempat tinggal yang aman bagi manusia.

Bumi diciptakan Allah untuk menjadi tempat tinggal manusia. Dikelolah dengan baik dan harus dipelihara. Namun kejatuhan manusia dalam dosa membuat bumipun menjadi terkutuk. Manusiapun tidak lepas dari kesulitan hidup, tidak ada rasa aman disana. Semua kenikmatan seakan hilang dalam kehidupan. Berubah? Ya, dan sejak saat itu manusia hidup terus melawan Allah. Hal yang sangat sulit dihindari oleh manusia adalah dosa. Sekarang bagaimana dengan hidup kita sebagai penyembah-penyembah Allah?

Kejadian 6:5-6 mengataan: Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya. Dalam perikop ini sangat jelas digambarkan oleh alkitab bahwa hidup manusia bukan semakin baik tetapi justru sebaliknya semakin jahat. Menemukan orang yang berbuat jahat lebih mudah di zaman sekarang ini. Dan lebih menyedihkan lagi orang-orang Kristen ada di dalamnya.

Zaman sekarang ini, seringkali gereja bukan lagi menjadi tempat yang aman bagi si pembuat kesalahan, tetapi cemooh, caci maki, menyudutkan bahkan menghakiminya. Gereja yang satu menyalahkan gereja yang lain, jemaat yang satu merasa lebih hebat, dari yang lain, tanpa disadari sama-sama berbuat jahat. Harusnya gereja menjadi wadah yang mulia, untuk mengayomi, mengarahkan kepada pertobatan. Sehingga jemaat bertumbuh bersama dalam pengenalan akan Tuhan. Bukankah ini yang harusnya menjadi kerinduan kita?

Paulus dengan tegas mengatakan dalam Efesus 5:15-17  Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan. Paulus mengingatkan, bagaimana sebenarnya manusia itu hidup. Ia harus berusaha untuk mengerti kehendak Tuhan, bukan berlari menghindarinya dan berbuat yang jahat. Ketidaknyamanan dalam hidup tidak mungkin dihindari karena memang waktu ini adalah jahat. Ingat kemanapun kita pergi, mau diplanet apapun kita tidak akan pernah aman. Artinya, tidak ada lagi tempat yang mampu memberikan kenyamanan yang kekal, karena hati manusia cenderung jahat adanya.

Jadi, sadarilah, bahwa kita manusia yang sangat terbatas, yang sangat suka dengan kenyaman diri. Hal inilah yang akan membuat kita jauh dari Allah. Tetapi ingat, disinilah kita sangat bergantung pada pertolongan Tuhan. Setiap kita sebagai orang Kristen sudah seharusnya menjadi wadah yang menyukakan hati Tuhan. Kita berjuang bukan untuk mencari kebahagiaan yang sementara, tetapi pengabdian kepada Allah, itulah kebahagiaan kita.

Ingatlah, bahwa dunia akan semakin jahat, dan cenderung manusiapun ada disana. Tetapi bersyukurlah kepada Allah, melalui karya penebusan Kristus, kita dikuatkan dan dimampukannya untuk bertahan, seperti domba ditengah seriga. Teruslah melawan perubahan zaman, demi sebuah kehidupan yang lebih baik. Zaman memang terus berubah, tapi kita harus hidup benar dan menjadi Terang Allah.                                                                                         

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top