Mengenal Alkitab

Iman Yang Teruji

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 29 September 2015 - 14:18 | Dilihat : 1732

Ibrani 11: 17-18

“Tuhan berjanji, Tuhan pula yang mengingkari”.  Begitulah persepsi keliru orang dalam menelaah perintah Allah kepada Abraham untuk menyerahkan anaknya satu-satunya.  Cara pandang seperti ini biasa didasarkan pada pernyataan Allah sebelumnya, bahwa Allah akan memberkati Abraham.  Allah menentukan janji berkat itu turun kepada keturunan Abraham langsung, buah kandung Sara sendiri (Kej 17:15-16).   Kemudian diulang kembali  pada Kejadian 21:12; “Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: "Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.

Betapa terang dan gamblangnya pernyataan Allah tentang keturunan Abraham.  Bukanlah keturunan dari budak, tapi seorang anak laki-laki yang akan lahir dari rahim Sara sendiri.  Tapi mengapa Allah justeru menginginkan kematian anak satu-satunya Abraham yang kehadirannya pun atas anugerah Allah  juga.  Kalau demikian, bukankan lebih mudah menerima kenyataan di umurnya yang sudah tua tidak memiliki anak.  Bukankah lebih mudah menerima kenyataan bahwa anak Abraham dari Hagar, budak Sara itu menjadi pewarisnya kelak. 

Ketika kita membaca kisah Abraham ini, kemungkinan besar orang akan lebih mudah menerima.  Mengingat di kitab suci sendiri secara jelas dituliskan bahwa Abraham sedang diuci (dicoba) (Kejadian 22:1).   Tapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah Abraham ada dalam kesadaran seperti itu (dicobai) ketika dirinya diminta Allah untuk menyerahkan anak.  Kalau tahu sedang diuji, makan akan jauh lebih mudah menjalani.  Karena sudah pasti itu akan seperti “main-main” saja. Toh nanti Ishkak pasti tidak akan dibunuh beneran. 

Tidak.  Abraham tidak melakukan itu semua dalam kondisi sadar sedang diuji oleh Allah.  Tapi melakukan permintaan Allah itu dalam sikap tunduk dan takut terhadap Dia.  Abraham melakukan itu semua dalam sikap dan iman yang benar.  Karena itulah Abraham rela mempersembahkan anaknya yang tunggal kepada Allah (11:17).    Meskipun dia juga tahu bahwa Allah pernah berkata bahwa Ishaklah yang  menerima janji dari Allah itu. 

Keimanan Abraham diekspresikan dalam keyakinan dirinya tentang Ishak anaknya itu.  Bukan pada keyakinan atau kesadaran bahwa permintaan Allah itu sekadar main-main saja (ujian).  Bukan pula keyakinan bahwa Allah akan berbelaskasihan “memberi ampun” anaknya agar urung dikorbankan. Tapi keyakinan Abraham justeru melampaui itu semua.  Dari keyakinan Abraham juga kita, yang membaca tahu, bahwa dia mengikhlaskan anaknya untuk mati (11:19).  Lalu dari sana muncul iman yang luar biasa dari Abraham, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati.  Dari percayanya itu muncul keyakinan sekaligus harapan bahwa ia seakan-akan telah menerima anaknya itu kembali (11:19)

Model iman seperti ini bukanlah iman yang pasrah pada nasib. Kalau kemudian ternyata Allah benar-benar menginginkan anaknya untuk dibunuh dan dikorbankan, berarti Allah adalah Allah yang jahat, karena itu iman kepada-Nya adalah sia-sia.  Iman Abraham bukanlah iman yang coba-coba seperti itu.  Tapi iman yang didasarkan pada pengenalan yang baik, pengenalan secara pribadi dengan Allah.  Karena itu Abraham tahu percis, bahwa ketika Allah berjanji, pun Allah juga akan menepati, dan bukan sebaliknya.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top