Sapaan Gembala

Menjadi Orang Yang Dipercaya

Penulis : Pdt Bigman Sirait | Tue, 29 September 2015 - 14:19 | Dilihat : 2151

Kisah Yusuf yang dijual sebagai budak oleh saudaranya sendiri, menjadi kisah yang sangat menginsprasi hidup keimanan kita. Anak kesayangan ayahnya, membuatnya dibenci saudara-saudaranya. Menjadi budak dirumah bangsawan Mesir Potifar, Yusuf mendapat kepecayaan penuh (Kejadian 39). Sebagai orang beriman integritas Yusuf memang jempolan. Kebehasilan yang diberikan Tuhan kepadanya sejalan dengan kualitas perilakunya. Tak menelikung tuannya dari belakang sekalipun mendapat kesempatan bercinta yang disodorkan istri Potifar. Yusuf menjaga diri, menjaga kepercayaan yang diperolehnya. Namun kemalangan justru menimpanya, demi integritasnya fitnah istri Ptifar mengantar Yusuf ke penjara.

Tercatat sebagai napi, ternyata tak mengubah perilaku Yusuf. Dipenjara dia membuat catatan perilaku yang terpuji sehingga menjadi orang kepercayaan kepala penjara. Tak ada tempat dimana Yusuf tak berprestasi sebaga orang percaya. Penyertaan Tuhan nyata dalam perilakunya dan keberhasilan yang diukirnya. Luarbiasa adalah kata yang pantas ditujukan kepada Yusuf. Dan, dari penjara Yusuf meluncur ke istana. Lagi-lagi Yusuf menjadi orang kepecayaan. Kali ini dia menjadi kepercayaan penuh Firaun untuk seluruh Mesir.

Hidup sebagai orang kepercayaan yang diwarnai lalu lintas uang yang amat sangat besar sepanjang sejarah Mesir. Panen besar selama 7 tahun membuat Mesir memiliki persediaan gandum yang luar biasa banyaknya. Sementara masa kelaparan selama 7 tahun diberbagai negeri membuat Mesir menjadi tujuan akhir orang belanja gandum. Permintaan yang amat tinggi membuat Mesir menikmati keuntungan super besar. Yusuf membawa keberuntungan bagi Mesir. Namun yang patut dicatat, Yusuf tak mengambil keuntungan materi dari sana. Dia memang menjadi orang yang layak dipercaya. Dan sikap murah hatinya ditunjukkannya kepada saudara- saudaranya yang menjualnya.

Mencari orang yang bisa dipercaya dimasa kini terasa langka. Manusia modern cenderung manjadi oportunis, berwajah banyak. Dalam bertindak mereka pragmatis, apa yang bisa aku dapatkan dengan segera. Semuanya mengarah kepada benefit buat diri pribadi dan materialistis. Pengorbanan semakin tak dikenal. Situasi menyedihkan ini sekaligus menjadi kesempatan besar bagi orang beriman untuk membuktikan kualitas imannya sebagai orang yang bisa dipercaya.

Belajar dipercaya dalam kata-kata yang terucap. Lakukanlah apa yang kita katakan, dan tepati janji yang kita buat. Ini memerlukan komitmen untuk menjadi seorang yang berharga. Sungguh tak bisa dimengerti jika seorang murid Kristus kata-katanya tak bisa dipercaya. Jangan membuat ukuran besar kecil, kita harus dipercaya dalam skala apapun juga.

Jangan menelikung dari belakang. Dalam bisnis kotor hal seperti ini biasa. Moral dipinggirkan, kawan ditelikung. Sungguh menyedihkan jika itu terjadi pada umat kristen. Umat dituntut bepikir panjang dalam mengambil sebuah tindakan, dan tidak melatih diri untuk berdalih. Dengarkanlah nurani dengan tindakan etis, karena jika bukan kita yang mendengarkan nurani diri maka hati nurani akan mati. Apalagi telikungan dengan argumen pelayan, akan semakin sulit dipahami, bahkan oleh orang bukan Kristen sekalipun. Hal seperti ini hanya mencoreng kekristenan saja. Kita perlu bijak, dan berpikir panjang, dalam bertindak.

Kembali kekisah Yusuf sebagai orang kepercayaan, maka Tuhan tampak jelas menyertainya. Orang disekitar menjadi saksinya. Bukan sekedar kesaksian diri yang seringkali direkayasa dengan bombamtis, tapi tak nyata bagi orang disekitarnya. Bagaimana dengan kita? Jangan sampai terjadi, ada banyak kesaksian kita, namun sindiran atau sikap sinislah yang tiba. Karena perkataan kita tak bisa dipercaya. Mari kita berlomba menjadi orang yang bisa dipercaya, dan menikmati berkat keberhasilan yang Tuhan berikan sebagai buah orang yang bisa dipercaya. Jangan sampai sebaliknya.

Selamat menjadi orang yang bisa dipercaya, karena kini adalah giliran kita.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top