Sapaan Gembala

Baju Tahanan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 15 October 2015 - 12:17 | Dilihat : 913

Dengan berpakaian rapi, ditambah jas dan dasi, terlihat begitu gagah pendeta ini.  Penuh semangat dia melangkahkan bersiap untuk segera berkhotbah.  Bukan ke gedung menjulang, tapi menuju ke tempat terbawah, ke tempat orang mengasingkan diri atau lebih tepatnya dipaksa diasingkan. Di Bui. 

Semangat yang semula menggebu menjadi turun sedikit, menjadi agak marah karena perlakuan aparat penjaga lembaga pemasyarakatan (rumah tahanan) terhadap dirinya.  Betapa tidak, sipir penjaga meminta dia menanggalkan pakaian rapi plus jas dan dasinya untuk digantikan dengan pakaian tahanan.  Bukan lantaran gengsi atau merasa harga dirinya diturunkan, tapi lantaran baju yang dikenakan adalah baju seorang tahanan.  Bukan karena baju tahanan tidak nyaman, atau karena model dan bentuknya tidak rapi, bukan, bukan itu, tapi karena label yang tersemat di baju.  Ketakutannya lebih kepada kalau-kalau ada orang yang memotret dia, lalu foto itu disalahtanggapi orang yang melihatnya.  Seolah-olah bapak pendeta ini pernah melakukan tindak kejahatan besar, yang membuat dia pernah dipenjara. 

Ini bukan kisah rekaan, tapi pengalaman pribadi seorang Pendeta senior yang setia melayani Tuhan. Pernah diceritakan dalam khotbahnya yang kemudian dibukukan dengan judul sama: “Yesus Kristus JuruSelamat Dunia”  Dia adalah Pdt. Dr. Stephen Tong. 

Cerita itu tidak berhenti sampai disitu.  Dalam bukunya, Pak Tong menceritakan betapa pengalaman memakai baju tahanan dalam berkhotbah itu kemudian menjadi pengalaman yang sangat berharga dalam hidupnya.  Dengan pengalaman itu, seperti diceritakannya, Ia justru bisa merasai makna dari pengorbanan Tuhan.  Dia, Kristus yang tidak mengenal  dosa, tidak pernah berbuat jahat itu kemudian harus dijadikan jahat, tergantung di kayu salib layaknya para penjahat kelas berat yang memang setimpal perbuatannya dengan hukuman mati. 

Bukan sakit hati, atau merasa direndahkan yang terus dirasakan Pak Tong, tapi justru rasa syukur yang besar.  Sebab Tuhan berkenan memakai pengalaman itu untuk memaksimalkan pelayanannya di penjara.  Dengan memakai baju yang sama dengan tahanan, dia semakin bisa menyelami apa yang mereka rasakan.  Bisa bersimpati dan empati, mengidentifikasikan diri seperti dengan para tahanan.  Jika para narapidana pernah berbuat salah dan dosa, yang dengan itu membuat dia dipenjara.  Dia pun pernah melakukan dosa juga.  Sebab Allah tidak pernah membedakan apakah dosa itu besar atau kecil.  Dari kualitasnya dosa itu sama saja di hadapan Allah. 

Baju tahanan Pak Tong semakin mudah mengotbahkan tentang siapa juruselamatnya.  Sebab dirinya dengan baju yag dikenakan sudah menjadi ilustrasi yang sangat kontekstual dan mudah dimengerti oleh audiennya.  Baju tahanan tidak membuat pak Tong risih.  Sama-sama mengenakan baju tahanan membuat dia tetap leluasa berkhotbah, menyatakan apa itu kebenaran dan mengutuk keras keberdosaan, tanpa sedikitpun memaklumkannya. 

Baju tahanan memang cerminan tentang tindakan dosa yang pernah dilakukan, karena itu harus dipertanggungjawabkan.  Tak jarang terdengar slentingan ditelinga bagaimana labelisasi pendosa selalu melekat didiri mereka.  Bahkan ketika sudah bertobat pun penghakiman seperti itu tetap saja terhindari. 

Mengenakan baju tahanan, bukan karena dia melakukan kejahatan, tapi demi pelayanan membuat orang disadarkan, dikendalikan untuk tidak mudah melakukan penghakiman.  Seolah-olah tindakan orang dengan baju tahanan tidak mungkin terampuni.  Seolah tidak ada pintu pertobatan lagi yang terbuka  buat dia.  Seolah-olah itu cara Tuhan menghukum dia sampai akhir hayatnya.  Mengenakan baju tahanan bagi mereka yang tidak seharusnya memakainya membuat orang semakin bisa merasakan rasa dan tekanan dari label pendosa.

Tidak banyak orang punya pengalaman berharga seperti ini.  Bersyukurlah orang pernah mengalaminya.  Sebab dia akan merasai bagaimana orang yang tidak bersalah, karena baju yang dikenakan dibuat sama dengan orang bersalah.  Tidak berbuat jahat, dengan baju yang dikenakan membuat dia menjadi seolah-olah seperti penjahat dan karena itu dia di penjara.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top