Tokoh

Gutenberg Pengaruhnya Bagi Kekristenan

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Mon, 9 November 2015 - 09:38 | Dilihat : 1403

Satu hal yang jelas, Gutenberg merupakan salah satu orang jenius yang dipakai oleh Tuhan. Mesin cetak yang dihasilkan oleh Gutenberg mengambil peranan yang sangat vital dalam penyebaran Alkitab.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, buku merupakan sesuatu yang sangat mahal. Demikian halnya dengan Alkitab sehingga tidak sembarang orang bisa memilikinya. Dengan penemuan Gutenberg ini, semua orang dapat memiliki Alkitab, meskipun masih dalam bahasa Latin. Setidaknya hal ini sudah memberikan akses kepada masyarakat awam, khususnya yang mengerti bahasa Latin untuk membaca Alkitab.

Meski terlibat dalam pencetakan surat indulgensi pada masa-masa berikutnya, ciptaan Gutenberg ini sangat berperan dalam Reformasi. Bahan-bahan seperti traktat, pamflet, khotbah, maupun Flugschriften yang ditulis oleh para reformator seperti Martin Luther, Martin Bucer, John Calvin, termasuk Ulrich Zwingli, dengan mudah dapat diperbanyak19. Sekali lagi hal ini memudahkan akses masyarakat luas terhadap kebobrokan gereja selama ini. Sehingga banyak mata yang terbuka dan mulai melihat kebenaran yang sesungguhnya.

Meski karya Gutenberg diakui sebagai karya yang luar biasa, ternyata Gutenberg bukanlah penemu mesin cetak yang pertama. Jauh sebelum Gutenberg berhasil menciptakan mesin cetak dengan kepingan potongan logam yang dapat dipindahkan, Chae Yun-eui dari Dinasti Goryeo telah menciptakan mesin cetak pertama pada tahun 1234. Sedangkan, perangkat cetak dengan kepingan yang dapat dipindahkan diciptakan pertama kali di Tiongkok oleh Bi Sheng, antara tahun 1041 -1048.

Tidak banyak informasi yang bisa diperoleh mengenai masa kecil Gutenberg. Ia dilahirkan antara sekitar tahun 1394-1404. Sebagian menyebut tahun lahirnya pada tahun 1398. Ayahnya bernama Friele Gensfleisch zur Laden dan ibunya Else Wirich. Sebagai anak bangsawan, kemungkinan ia menempuh studi di Universiteit of Erfurt. Namun, sekali lagi tidak ada bukti otentik bahwa Gutenberg pernah mengenyam studi di sekolah tersebut.

Setelah mengalami kebangkrutan, disebutkan kemudian, kehidupan Gutenberg belakangan ditopang oleh Keuskupan Mainz sampai akhir hayatnya. Karena Gutenberg dikenal sebagai seorang peminum ia akan membelanjakan uangnya hanya untuk alkohol, pihak keuskupan memutuskan untuk memberikan makanan dan tempat tinggal daripada uang. Meski demikian, ada sumber lain yang menyebutkan bahwa menjelang akhir hidupnya, Gutenberg bergabung dalam ordo Fransiskan. Ia mengabdikan dirinya dalam doa, ketaatan, dan melakukan hal-hal yang baik. Setelah gagal meraih kesuksesan duniawi, ia beralih mencari kesuksesan surgawi.

Dalam pandangan Armstrong, perubahan dalam diri Gutenberg ini merupakan bukti dari cinta kasih Tuhan. Ia tetap mengasihi mereka yang Ia karuniai talenta sehingga ketika mereka ini terjerat dalam dosa, Ia sama sekali tidak membiarkan mereka. Banyak cara yang bisa Ia lakukan untuk memanggil kembali umatnya, diantaranya melalui suatu kejatuhan yang menyakitkan.

Berdasarkan sebuah buku yang dicetak setelah kematiannya, disebutkan bahwa Gutenberg meninggal pada tanggal 3 Februari 1468. Ia kemudian dimakamkan di sebuah gereja di Saint Frances. Sayangnya gereja itu kemudian dihancurkan sehingga makamnya tidak dapat ditemukan lagi.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top