Tokoh

Don Richardson

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Thu, 26 November 2015 - 09:54 | Dilihat : 2005

Don Richardson lahir di Kanada tahun 1935. Ia adalah seorang misionaris Kristen Kanada, guru, penulis dan penyuara internasional yang bekerja melayani orang pedalaman Irian Jaya, Indonesia. Ia tamatan dari Prairie Bible Institute, suatu lembaga pendidikan kependetaan Kristen Protestan, di Alberta, Kanada. Lembaga ini didirikan 1922 dan kemudian berkembang menjadi lembaga pendidikan Kristen terbesar di Kanada, dan sangat menekankan penginjilan ke luar negeri. Carol Soderstrom istrinya berasal dari Amerika Serikat. Tamatan dari lembaga yang sama. Richardson mengambil keputusan untuk menjadi penginjil bagi suku-suku terasing di Irian Jaya pada tahun 1955, suatu keputusan yang kemudian didukung isterinya. Sebagai persiapan tambahan bagi pekerjaannya pada masa depan, Don Richardson memelajari linguistik dan Carol ilmu keperawatan. Pada bulan Juli 1962, pasangan ini bersama Steven, putera mereka yang pertama, mulai tinggal dan bekerja sebagai keluarga penginjil di antara suku Sawi yang saat itu termasuk ke dalam wilayah Dutch New Guinea (sekarang Irian Jaya) di bawah pelayanan Regions Beyond Missionary Union. Orang Sawi terkenal sebagai suku pemburu kepala ("headhunters") yang bersifat kanibal.  Hidup di antara penduduk tersebut pada waktu itu berarti terisolasi dari dunia modern dan menghadapi bahaya penyakit malaria, disenteri, dan hepatitis, selain juga bahaya kekerasan, karena suku itu suka berperang.

Pertumpahan darah sering terjadi sebab tiga desa yang bersifat kesukuan selalu dalam peperangan satu sama lain. Karena tidak tahan melihat pertumpahan darah tersebut, maka keluarga Richardson mempertimbangkan untuk meninggalkan daerah itu. Selama ini Don sudah membantu penduduk memperbaiki cara hidup mereka dengan teknologi modern dan Carol merawat orang-orang sakit serta balita sehingga tingkat kematian menurun dengan peningkatan pelayanan medis yang drastis, selain mengajar orang-orang membaca dan menulis. Untuk menahan agar keluarga Richardson tidak pergi, orang-orang Sawi dari suku-suku yang berperang memutuskan rapat bersama dan berdamai di antara orang-orang yang saling membenci itu. Upacara pendamaian itu dilakukan dengan cara menukarkan seorang bayi di antara dua suku. Bayi itu diantarkan oleh pemimpin suku ke desa musuhnya dan memberikan anak itu untuk dibesarkan di suku musuh itu. Selama "anak pendamaian" itu hidup, maka kedua suku itu hidup dalam damai, dan tidak akan berperang satu sama lain. Melihat hal itu, Richardson menulis: "(menurut orang Sawi) jika seorang laki-laki mau memberikan anaknya sendiri kepada musuhnya, maka orang itu dapat dipercaya!" Dari gambaran yang unik ini tampaklah analogi atas pengorbanan Allah dengan memberikan Anak-Nya Yang Tunggal ke dunia ini untuk memperdamaikan. Orang Sawi mulai memahami pengajaran tentang Kristus yang menjelma ke dalam dunia menurut Injil setelah Richardson menjelaskan perihal kasih Allah dengan cara ini.

Setelah peristiwa itu, banyak orang desa memeluk Kekristenan, terjemahan Perjanjian Baru dalam bahasa Sawi diterbitkan, dan hampir 2.500 pasien orang Sawi diobati oleh Carol. Bangunan berbentuk lingkaran terbesar di dunia yang dibangun hanya dari batang-batang pohon yang tidak dipotong tipis, didirikan pada tahun 1972 sebagai tempat pertemuan orang Kristen di wilayah suku Sawi. Keluarga Richardson kemudian meninggalkan orang Sawi, selanjutnya diurus oleh para penatua gereja dari kalangan mereka sendiri dan dibantu oleh para misionaris lain, untuk mulai bekerja di kalangan pemakai bahasa Auyu.

Sumber: Wikipedia

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top