Mengenal Alkitab

Hukuman Adalah Didikan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Thu, 26 November 2015 - 09:58 | Dilihat : 2556

Ibrani 12:5-8

Pernahkah kita berpikir bahwa orangtua kita adalah orangtua yang jahat, orang tua yang tidak menyayangi anaknya.  Mungkin tidak semua, tapi sebagian dari kita pernah mengalaminya.  Penilaian itu begitu cepat bersarang di benak lantaran orangtua, menurut kita waktu itu sangat keras menghukum.  Bukan Cuma disiplin yang ketat, tapi juga tak jarang ada hukuman fisik yang kita terima. 

Pertanyaannya, benarkah orangtua yang menghukum kita seperti itu bisa disebut jahat dan tidak menyayangi kita?  Bukankah waktu orangtua menghukum, kadangkala dengan cambukan, karena kita berbuat salah, sehingga perlu dihukum?  Bukankah ketika orangtua menghukum, lantaran ingin agar anaknya mengerti kesalahan yang diperbuatnya, sembari berharap kelak tidak mengulanginya.  Andai saja kita waktu itu bisa berpikir sedikit lebih dewasa seperti itu, maka mungkin kita bisa mengerti, memahami maksud dari hukuman yang dijatuhkan, adalah demi kebaikan anak itu sendiri.  Menunjukkan mana yang baik, yang benar dan mana yang keliru.  Justru orangtua yang tidak menghukum dan membiarkan saja anaknya berbuat salah, dengan kepasifannya tidak menghukum, menjadikan anak tersebut kelak tidak mengerti mana yang baik dan mana yang tidak baik. Mana yang dilarang dan mana yang boleh.  Mana yang benar bila dilakukan dan mana yang salah bila dilakukan.  Ya, tentu saja hal ini bukan melulu soal moral dan norma, tapi soal apa yang Allah kehendaki anak itu perbuat. 

Ketika orangtua masih mau mengingatkan, menegur dan menghukum, itu menunjukkan bagaimana orangtua sangat peduli terhadap keselamatan anaknya.  Orangtua masih peduli dengan moralitas anaknya.   Hal ini menunjukkan bahwa anak tersebut masih diaku sebagai anak, dan bukan anak yang tak dianggap.  Bukan anak yang terbuang, yang segala hal bisa dilakukan sebebas-bebasnya, sementara orang tua hanya menutup mata, atau masa bodo dengan anaknya. 

Hubungan Ayah dan anak seperti ini digunakan oleh penulis Ibrani untuk menjelaskan maksudnya.  Ketika penerima suratnya diperingatkan Allah, dididik dengan aneka rupa “hukuman”, ganjaran dan cobaan, yang sepertinya terlalu berat disandang, hal itu semata menunjukkan bahwa Allah masih mengasihi mereka.  Sebab Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak (12:6).  Ketika Tuhan berkenan memberi ajaran, mendidik dan menegur, hal itu menunjukkan bahwa Dia masih mengasihi umatNya, seperti seorang ayah kepada anak yang disayangi (band Ams 3:11-12)

Untuk itu penulis Ibrani mengingatkan kembali kepada penerima suratnya agar tidak lupa dengan ajaran nasihat dari Amsal Salomo ini.  Penulis Ibrani juga mewanti-wanti benar agar penerima suratnya tidak menganggap enteng didikan dari Tuhan, meskipun itu diwujudkan dalam anekaragam bentuk, yang kadangkala membuat sakit.  Mewanti-wanti agar tidak lekas putus asa apaabila Allah sedang memberi pengajaran kepada mereka melalui rupa-rupa bentuk persitiwa.  Dan ketika ganjaran  itu datang, ketika didikan Tuhan menghampiri, penulis Ibrani menegaskan, bahwa hal itu menunjukkan Allah masih menganggap dan memperlakukan seseorang itu sebagai anak (12:7).  Sebab seperti dikatakan  Amsal 13:24, Siapa (orangtua) yang tidak menggunakan tongkat, sesungguhnya benci kepada anaknya.  Benci di sini menggunakan kata “ans sane” yang artinya bukan sekadar ketidaksukaaan, tapi juga berarti musuh.  Artinya, dengan tidak mengunakan tongkat, dengan tidak mendidik anak itu dengan disiplin yang benar, maka orang tua sedang memposisikan anak sebagai musuhnya.  Tetapi siapa mengasihi anaknya, akan menghajar (mendisiplinkan) mereka  pada waktunya.

Selanjutnya di ayat ke 8 penulis Ibrani memberikan semacam pernyataan reflektif kepada penerima suratnya, agar menilik ke dalam diri, kalau semua orang mendapat ganjaran yang harus di derita, seperti dia sendiri “bebas” (membebaskan diri) lantaran hal-hal tertentu, hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut bukanlah anak-anak Allah yang sejati.  Kalau anak-anak Allah sejati pasti tak akan lari atau coba membebaskan diri dari didikan dan ganjaran Tuhan, Sebaliknya, dia akan tekun menghidupi dan memaknai dengan benar didikan itu.  Sehingga dengan demikian dia tidak disebut anak-anak gampangan.  Anak-anak yang maunya hanya kenikmatan dan bukan didikan yang seringkali menyakitkan.  Slawi

Lihat juga

Komentar


Group

Top