Sapaan Gembala

Hidup Dalam Damai

Penulis : Pdt Netsen | Fri, 4 December 2015 - 19:43 | Dilihat : 1955
Tags : Pdt Netsen

Hidup dalam damai adalah rindu tiap manusia. Tetapi di manakah menemukan dan bagaimanakan memilikinya, mengingat Dunia di mana kita berada adalah dunia yang tidak ada damai. Yang ada hanya kejahatan. Kejahatan bergerak dan berkembang dengan leluasa. Peperangan, pembunuhan, penindasan, penganiayaan, fitnahan terus terjadi. Tidak sedikit manusia menjalani hari-hari mereka dengan penuh pertengkaran, kebencian dan tanpa sukacita. Mereka mengalami dan menjalani hari-hari dengan tidak menyenangkan. Damai tidak mereka rasakan.

Manusia berupaya mencari dan membangun damai melalui kecantikan, ketampanan, kesehatan, karier atau peklerjaan, materi atau finansial jabatan atau kekuasaan dalan lain sebagainya. Namun semuanya menghasilkan damai yang imitasi. Karena ternyata di saat yang sama di sana terdapat ketidakdamaian. Damai manusia dibangun di atas kefanaan dan hanya bersifat kesementaraan.

Hidup dalam damai adalah anugerah Allah bagi orang yang kepadaNya Dia berkenan. Tanpa kasih karunia Allah, manusia hanya hidup dalam damai yang palsu. Yaitu damai yang dibangun di atas hawanafsu yang mematikan. Tetapi oleh dan di dalam kasih karunia Tuhan, oleh Yesus Kristus, orang percaya hidup dalam damai yang sesungguhnya. Yaitu damai yang dari surga. Itu adalah pemberian Allah dalam diri Yesus Kristus. Kepada para muridNya, Yesus berkata; “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu” (Yoh. 14:27).

Kita orang percaya memang tinggal di dunia yang menampilkan berbagai kejahatan dan yang tidak memiliki damai. Kita dengan mudah melihat dan mendengar tetapi jangan terjebak di dalamnya apalagi menjadi pemeran di dalam kejahatan yang meniadakan damai. Menciptakan suasana kasih tidak hanya akan memutuskan permusuhan dan meredakan amarah, tetapi juga pada saat yang sama dapat membawa kita lebih dekat pada Allah. Memberi cinta sebagai ganti sakit hati menjadi lebih mudah bagi mereka yang telah diperdamaikan oleh Allah dalam Kristus Yesus. Karena kasih dan damai dari Allah telah mengaliri seluruh sendi kehidupan mereka. Dan mereka dengan tanpa beban melakukan itu. Sekali seseorang belajar untuk menahan diri, maka selanjutnya ia dengan lebih mudah menemukan melakukan lagi dan lagi.

Tetapi jangan terjebak. Kita tidak berbicara tentang damai yang murahan. Yang tanpa harga. Damai yang kita miliki adalah damai yang mahal. Damai yang telah mengorbankan Nyawa yang mahal. Dia adalah Anak Tunggal Allah, yang rela turun ke dunia, tinggalkan tahta dan kemuliaan-Nya. Hiduplah dalam damai-Nya dan bertempurlah dengan tiada hentinya. Karena siapa yang takut masuk dalam pertempuran di dalam damai-Nya niscaya ia memperoleh kebenaran dan sukacita yang dari pada-Nya.

Kita telah dipanggil untuk hidup dalam damai sejahteranya Allah, dan membawa damai kepada orang-orang di sekitar kita. Karena kita telah hidup dalam damainya Allah. Kepada orang-orang di Korintus, Paulus menasihatkan supaya mereka sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu (2 Kor. 13:11). Tidak perlu seorang yang jenius untuk tahu bahwa cara pertama menciptakan kasih dan damai, cara kedua, kepahitan dan kegeraman, kita perlu anugerah Allah untuk bertindak berdasarkan pengetahuan itu melakukan yang baik dan mengasihi, bahkan dalam perbedaan pendapat. Jika hormat dan keramahan ditunjukkan, kasih dapat berkembang meskipun ada perbedaan. Tetapi terlalu banyak perpecahan dalam hidup atau di antara manusia karena perbedaan pendapat yang dilubangi oleh senjata api dari pada dirajut dengan kebaikan dan saling menghormat. Biarlah salah satu ucapan Tuhan Yesus “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Mat. 5:9) akan menjadi bagian dari hidup kita. Amin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top