Mengenal Alkitab

Orang Yang Percaya? (Mat 6 : 25 33)

Fri, 4 December 2015 - 19:55 | Dilihat : 1583
Tags : Orang Percaya

Kita sering mendengar saat berdiskusi sesama orang kristen bahwa kita selalu mengidentitaskan diri sebagai orang percaya, bahkan tidak jarang orang kristen melabelkan dirinya sebagai anak Tuhan. Memang secara umum hal tersebut tampaknya benar, namun bila kita teliti lebih mendalam sejauh mana kepantasan kita menyandang identitas orang percaya tentunya perlu perenungan yang lebih mendalam, hal ini kita lakukan supaya kita tidak asal menyandang label tersebut yang sebenarnya tidak pas karena ternyata hidup kita tidak berpadanan dengan apa yang diajarkan oleh Alkitab.

Seperti halnya pada Mat 6:25 Tuhan Yesus mengatakan bahwa hidup lebih penting dari makanan dan tubuh lebih penting daripada pakaian, kalau kita cermati memang secara value, hidup bernilai jauh lebih tinggi dari sekedar soal makanan dan tubuh nilainya lebih tinggi dari sekedar soal pakaian, dengan kata lain makanan dan pakaian memang penting tetapi fungsinya tetap lah merupakan pendukung daripada hidup dan pelengkap daripada tubuh, walaupun dalam perkembangannya tren dan mode pakaian menjadi lahan bisnis dan juga bisnis kuliner merajalela, namun secara esensi tetap saja makanan dan pakaian merupakan pendukung dan pelengkap daripada  hidup (kebutuhan fisik).

Atas hal tersebut maka Tuhan Yesus pada Mat 6:26-31 menegaskan kepada kita bahwa seharusnya kita sebagai orang percaya tidak perlu mencemaskan atau mengkawatirkan hal-hal yang merupakan pendukung dan pelengkap hidup, karena burung-burung dan bunga bakung yang notabene adalah mahluk yang Tuhan ciptakan lebih rendah dari manusiapun, ternyata mengalami pemeliharaan hidup walaupun mereka tanpa bekerja dan memintal.

Lalu bagaimana seharusnya kita menjalani hidup itu sendiri? Apakah kita tidak perlu bekerja/berusaha? Dalam Mat 6:33 Tuhan Yesus mengatakan “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah  dan kebenarannya , maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. Sebagai orang percaya kita diajarkan untuk mendahulukan atau memprioritaskan yang utama dan bukan yang pendukung/pelengkap (kebutuhan fisik). Prioritas utama yang diajarkan kepada kita adalah mendahulukan Kerajaan Allah dan Kebenarannya, hal ini bukan berarti kita selalu beraktivitas rohani seperti persekutuan, kebaktian, doa semalaman,dll. Mendahulukan Kerajaan Allah dan Kebenarannya memiliki makna ketundukkan kita kepada Allah yang adalah Raja yang berotoritas di dalam hidup kita, kita hidup dalam Kebenaran FirmanNya, sehingga hidup yang kita hidupi, kita kerahkan atau kita usahakan sesuai dengan yang dikehendakiNya dan bukan lagi kehendak diri kita, sehingga tujuan hidup dan segala aktivitas kita apapun juga, termasuk bekerja dan berusaha, semuanya itu kita lakukan untuk membangun kerajaanNya.

Jika hidup kita mendahulukan kerajaanNya maka Tuhan yang akan mencukupkan kebutuhan fisik tersebut menurut ukuran kasih karuniaNya karena Dia tahu apa yang cukup untuk kebutuhan kita. Berbeda dengan bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah (Mat 6:32), mereka akan mencari dan mendahulukan kebutuhan fisik (kebutuhan pendukung/pelengkap), kebutuhan fisik di sini tidak hanya terbatas pada makanan dan pakaian saja, tetapi dapat kita artikan lebih luas lagi menjadi kebutuhan fisik lainnya seperti uang dan, harta duniawi. Oleh karena itu ketika orang yang hidupnya selalu mendahulukan kebutuhan fisiknya, maka tidak heran jika orang tersebut mudah dibeli dengan uang dan berusaha dengan menghalalkan segala cara, dll.

Bagaimana dengan hidup kita? mungkin aktivitas kita adalah pelayanan, tapi bisa saja kita sedang memenuhi kebutuhan diri/uang/materi, mungkin kita bekerja/berusaha, tapi bisa saja dorongan kita hanya sebatas ingin menimbun harta? Jika memang demikian tepatkah kita masih disebut orang percaya? barangkali kita lebih cocok seperti orang yang tidak mengenal Allah (Mat 6:32) karena ternyata hidup yang kita jalani hanya sebatas mendahulukan diri, uang, dan materi.

Lihat juga

Komentar


Group

Top