Tokoh

Ludwig Ingwe Nommensen

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Tue, 22 December 2015 - 09:37 | Dilihat : 1775

Nommensen adalah seorang tokoh pengabar Injil berkebangsaan Jerman yang terkenal di Indonesia. Hasil dari pekerjaannya adalah berdirinya sebuah gereja terbesar di wilayah suku Batak Toba. Gereja itu bernama Huria Kristen Batak Protestan (HKBP). Tidak berlebihan, jikalau ia diberi gelar Rasul Batak. Ia sudah memberikan seluruh hidupnya bagi pekerjaan pengabaran Injil di tanah Batak. Nommensen lahir pada 6 Februari 1834 di sebuah pulau kecil, Noordstrand, di Jerman Utara. Nommensen sejak kecil sudah hidup di dalam kemiskinan dan penderitaan. Sejak kecil ia sudah mencari nafkah untuk membantu orang tuanya. Ayahnya adalah seorang yang miskin dan selalu sakit-sakitan.

Pada suatu hari, ia membaca Yohanes 16:23-26, yaitu tentang kata-kata Tuhan Yesus bahwa siapa yang meminta kepada Bapa di Surga, maka Bapa akan mengabulkannya. Nommensen bertanya kepada ibunya, apakah perkataan Yesus itu masih berlaku atau tidak. Ibunya meyakinkannya bahwa perkataan itu masih berlaku. Ia mengajak ibunya untuk berdoa bersama-sama. Saat Nommensen sakit, ia meminta kesembuhan dan dengan janji, jikalau ia sembuh maka ia akan pergi memberitakan Injil. Doanya dikabulkan, dan beberapa minggu kemudian kakinya sembuh. Setelah sembuh, Nommensen kembali menggembalakan domba. Janjinya selalu menggodanya untuk segera memenuhinya. Oleh karena itu, ia melamar untuk menjadi penginjil pada Lembaga Pekabaran Injil Rhein (RMG). Beberapa tahun lamanya ia belajar sebagai calon pengabar Injil.

Tahun 1861 ia ditahbiskan menjadi pendeta. Lalu ia berangkat menuju Sumatera dan tiba pada bulan Mei 1862 di Padang. Ia memulai pekerjaannya di Barus. Iabelajar bahasa Batak dan bahasa Melayu, dengan cepat dapat dikuasainya. Sekarang ia mulai mengadakan kontak-kontak dengan orang-orang Batak, terutama dengan raja-raja. Ia tidak jemu mengadakan perjalanan keliling untuk menciptakan hubungan pergaulan yang baik. Nommensen meminta izin untuk masuk ke pedalaman namun dilarang oleh pemerintah, karena sangat berbahaya bagi seorang asing. Namun Nommensen tidak takut. Ia memilih Silindung sebagai tempat tinggalnya yang baru. Ia mendapat gangguan yang hebat di sini, namun ia tidak putus asa. Ia berhasil mengumpulkan jemaatnya yang pertama di Huta Dame (Kampung Damai). Tahun 1873 ia mendirikan sebuah gedung gereja, sekolah, dan rumahnya sendiri di Pearaja. Sampai sekarang Pearaja menjadi pusat HKBP.

Pekerjaan Nommensen diberkati Tuhan, sehingga Injil makin meluas. Kemudian dia pindah tempat tinggal ke kampung Sigumpar pada tahun 1891, dan ia tinggal di sana sampai dia meninggal. Nommensen memberitakan Injil di tanah Batak dengan berbagai macam cara. Ia menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru (PB) ke dalam bahasa Toba dan menerbitkan cerita-cerita Batak. Ia juga berusaha untuk memperbaiki pertanian, peternakan, meminjamkan modal, menebus hamba-hamba dari tuan-tuannya, serta membuka sekolah-sekolah dan balai-balai pengobatan.

Dalam pekerjaan pengabaran Injil, ia menyadari perlunya mengikutsertakan orang-orang Batak. Maka dari itu, dibukalah sekolah penginjil yang menghasilkan penginjil-penginjil Batak pribumi. Juga untuk kebutuhan guru-guru sekolah, dia membuka pendidikan guru. Karena kecakapan dan jasa-jasanya dalam pekerjaan penginjilan, maka pimpinan RMG mengangkatnya menjadi Ephorus pada tahun 1881. Pada hari ulang tahunnya yang ke-70, Universitas Bonn memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Nommensen. Ia meninggal pada umur yang sangat tua -- 84 tahun. Ia meninggal pada tanggal 12 Mei 1918. Dan dikuburkan di Sigumpar, di tengah-tengah suku bangsa Batak setelah bekerja dalam kalangan suku bangsa ini selama 57 tahun lamanya.

Lihat juga

Komentar


Group

Top