Pelita

Ibu Mertua Sahabat Menantu

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Tue, 22 December 2015 - 09:39 | Dilihat : 1850

Semua rumah tangga pasti merindukan kondisi seperti judul di atas, terutama pasangan hidup kita! Sudah bukan hal yang mengejutkan lagi jika salah satu konflik yang paling sering muncul dalam sebuah rumah tangga adalah konflik dengan mertua. Seperti dikutip dari Daily Mail, lebih dari 133 pengantin baru wanita yang disurvei menyatakan merasa cemas terhadap hubungan mereka dengan ibu mertuanya. Rata-rata takut sang mertua akan berbicara hal-hal buruk tentangnya kepada suami, atau terlalu jauh ikut campur dalam rumah tangga mereka. Hasil penelitian terbaru ini mendukung studi sebelumnya yang dilakukan psikolog dari Cambridge University, Terri Apter pada 2008; Ia menemukan ada 60% wanita yang merasakan ketegangan dengan ibu dari suami mereka, sementara pria hanya 15% saja.
Di dalam RUT 1:11-19, kita dapat belajar bagaimana menjadi mertua yang baik melalui pribadi Naomi, yaitu: Naomi bersikap manis terhadap kedua menantunya, kehilangan kedua anak lelaki tidaklah membuat ia menyalahkan kedua menantunya dan ia menganggap kedua menantunya sama seperti anaknya sendiri. Naomi juga berhasil mempersaksikan imannya kepada menantunya (1:16-17) dan memikirkan kebaikan menantunya (Rut 3:1-5
Di sisi lain, sikap Rut sebagai menantu juga pantas diacungi jempol, bagaimana tidak? Rut menganggap mertuanya sebagai orang tuanya sendiri yang perlu ditemani, dirawat, dan dikasihi (2:23). Ia menjadi seorang menantu yang rajin dan berinisiatif untuk bekerja (2:2a dan 7b), serta bersedia mendengar nasihat mertuanya (3:5).
Ada 1 kesaksian dari seorang ibu muda sebagai berikut: Saat belum menikah, terus terang saya tidak bisa memasak, karena di rumah kami ditangani oleh pembantu; tapi ketika menikah, mau tidak mau saya juga harus belajar memasak. Awalnya sungguh sulit sekali. Suatu ketika saya menanak nasi terlalu keras, bahkan sampai gosong bagian bawahnya. Ketika makan malam, saya takut diomelin mertua. Tapi tahukah apa yg dikatakan ibu mertua kepada suami saya?"Wah,.... kamu sungguh beruntung memiliki istri yang tahu selera makan kamu. Nasi hari ini sungguh cocok dgn kuah sayur panas mengepul ini. Ayo makan lebih banyak lagi.“ Pernah suatu kali, saya kebanyakan menaruh airnya sehingga nasinya seperti bubur kental. Saat makan, ibu mertua saya berkata penuh kasih: "Pa.. Coba lihat, menantu kita sungguh mengerti. Tahu gigi kamu sudah gak begitu kuat, hari ini ia khusus memasakkan nasi lembut tambah sambal enak. Makan yg banyak ya?“ Saat saya mengutarakan pada ibu mertua betapa malunya saya, beliau hanya tersenyum & berujar: "Kamu sedang belajar menjadi menantu yang baik. Keluarga kami sungguh beruntung dgn adanya kamu yg membantu mengurusi anak & keluarga. Bagaimana mungkin saya bisa marah? Mama tahu kamu sudah berusaha yg terbaik. Mama bisa mengerti karena mama juga seorang menantu. Mama adalah menantunya nenek. Jadi mama sungguh paham bagaimana perasaan seorang menantu.“
Ibu mertua sahabat menantu... tentu tidak mustahil terjadi di tengah-tengah keluarga kita. Seperti Naomi dan Rut yang saling mengasihi dan memperhatikan, ayo saatnya mengambil peran kita! Bagi yang sudah memiliki peran sebagai mertua/menantu, maukah kita juga mengasihi menantu /mertua kita? Kiranya Tuhan menolong kita untuk mau mempraktikkannya di dalam keluarga kita. Amin

Lihat juga

Komentar


Group

Top