Sapaan Gembala

Manusia Menggeser Tuhan

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Tue, 22 December 2015 - 09:45 | Dilihat : 875

Esklusif, itu pasti. Toleran, boleh juga disebut seperti ini.  Dua kutub bertolak belakang menjadi satu di dalamnya, esklusif sekaligus inklusif.   Itu “roh” gerakan ini.  Mungkin bukan isu yang baru, karena fenomenanya sudah muncul sejak lama.  Gerakan spiritual atau praktik keagamaan ini sudah muncul sejak tahun 1970.  Gereja ini pun sudah mengadakan seminar tentang hal ini berkali-kali, namun nyatanya roh dari gerakan ini tak juga beranjak dari kekristenan, kelihatannya justru makin mendalam dan masuk.  “New Age Movement” (NAM) nama gerakannya.    

Sebagai sebuah gerakan spiritual, NAM adalah percampuran dari banyak agama dan aliran kepercayaan.  Maka tak heran jika inklusifitas seperti melekat padanya.  Toleransi semu yang merangkul semua agama inilah menjadi dayak tarik gerakan ini. NAM sama sekali berbeda dengan agama formal yang  memiliki buku suci, pusat organisasi, keanggotaan yang formal, pemimpin agama yang ditahbiskan, dogma, keyakinan, dll.  Gerakan ini mengalir bebas begitu saja tanpa terpusat  pada suatu jaringan kepercayaan atau praksis keyakinan.   Penyebaran keyakinan, atau tuturtinular ajaran lebih dilakukan melalui seminar, konvensi, buku dan diskusi kelompok informal, menggantikan khotbah dan pelayanan keagamaan.  Tak heran gerakan ini berkembang luas dan pesat melalui  latihan-latihan pengembangan diri, seminar pengembangan diri, yoga, waitankung, seminar motivasi, dll.  

Dari sisi ini sepertinya tidak ada masalah dengan ajaran, praksis gerakan  dan serangkaian seminar-seminar dari NAM.  Dibalik cita-cita membangun sebuah spiritualitas tanpa batasan dengan mengakomodasi aneka dogma, gerakan ini justru menimbulkan persoalan ajaran berat.   Alih-alih meletakkan dogma ajaran dalam keunikannya,  bersikap terlalu terbuka dengan aneka macam dogma dan ajaran yang banyak diantaranya bertolak belakang, NAM sejatinya justru sedang mendekonstruksi sebuah dogma.  Mendekonstruksi kekhususan, keunikan dan keesklusifan dogma setiap ajaran agama.   Apa lagi dogma yang dihasilkan sejatinya tak lebih dari sebuah dogma baru, campuran atau sinkretisitas dari banyak dogma, yang an sich sama partikularnya dengan dogma-dogma lainnya.   

Persoalan lain lagi ada pada soalan ajarannya.  Terkait wahyu misalnya, seperti ditulis Herlianto, NAM sangat percaya dengan adanya wahyu yang khusus dan terus menerus (semacam wangsit) dari kekuatan/misteri semesta (macro cosmos).  Wahyu itu diberikan kepada manusia (micro cosmos) melalui perantara-perantara (mediator) seperti nabi-nabi agama, medium, channeler, dan banyak lagi sebutan lainnya.  

Begitu juga dalam ajaran tentang Tuhan, pandangan NAM tentang Tuhan, masih seperti dicatat Herlianto,  bersifat sangat panteistik. NAM percaya bahwa semua adalah tuhan dan tuhan adalah semua. Yang disebut Tuhan tidak lain adalah suatu kekuatan (power/force), kesadaran atau energi kosmis yang tidak berpribadi (macro cosmos). Yang mereka sebut sebagai Tuhan (kekuatan semesta) pada dasarnya baik dan menjadi sumber kebaikan (monisme), tetapi sekaligus mempunyai sisi terang maupun gelap dalam dirinya.

Meski tidak terang-terangan, model beragama berpusat pada mediator (perantara) wahyu seperti diatas sudah meresap masuk ke dalam gereja.  Meski ajaran seperti ini lebih dekat dengan ajaran spiritualitas timur daripada doktrin agama di barat, tapi nyatanya gereja seperti dengan sengaja mempersilakan ajaran itu masuk ke dalam, kalau enggan mengatakan gereja telah  menconteknya mentah-mentah.  Betapa tidak, fenomena keberagamaan di gereja dewasa ini lebih kental nuansa sentralitas pada perantara, daripada menghantarkan umat agar tersentral dan dependent pada Tuhan.  Ada kesan kuat, dalam praktik beragama seperti ini peran Tuhan mulai dikurangi, digantikan oleh sosok mediator yang lebih nampak, ada dan nyata.  Ini tentu saja berbahaya bagi kekristenan.  Sebab siapapun dia, entah hamba Tuhan, rasul, nabi, atau imam itu sesungguhnya adalah ciptaan yang tak akan mungkin lebih besar dari pencipta.  Hamba Tuhan tak lebih dari sekadar alat di mata Tuhan dan bukan pusat berita.  Karena itu, dengan menjadikan diri sebagai sentral beragama banyak mediator itu telah memposisikan diri sebagai Tuhan.    

Dari pengajaran NAM tentang tuhan juga teramat jelas konsekuensi logisnya.  Pertama, jika tuhan memiliki sisi terang dan gelap dalam dirinya, hal ini menunjukkan bahwa sejatinya tidak ada absoluditas dalam tuhan.  Tuhan tidak mutlak dan tidak dipandang mutlak.  Tuhan dianggap tidak sepenuhnya benar, sebab pada dasarnya tuhan punya sisi gelap, sisi kebersalahan.  Bukankah tuhan pada dasarnya sama saja dengan manusia yang punya dosa dan bisa berbuat kebaikan.  Ya, oleh NAM tuhan diposisikan demikian, jika “semua adalah tuhan, dan tuhan adalah semua, seperti dipercaya NAM, maka “manusia, AKU adalah tuhan juga”.  Jika aku adalah tuhan maka yang aku ingini pasti terlaksana.  Dalam konsep timur mungkin hal ini tidak bermasalah, karena ajaran mereka memang dekat ke sana.  Tapi ketika berbicara dalam tataran kristiani, maka itu menjadi masalah besar.    

Begitu jelas kentara bagaimana NAM  membuat orang menjadikan diri sebagai pusat pemelihara hidupnya.  Peran tuhan sebagai sang pemelihara seperti diabaikan begitu saja.  Tuhan tak lagi dianggap ada.  Kalau diri bisa memuaskan nafsu sendiri.  Kalau keinginan diri bisa terpenuhi hanya dengan mengucapkan itu dan ini, maka sesungguhnya Tuhan tak diperlukan lagi.  Inilah yang terjadi dewasa ini, karena itu patutlah kita berhati-hati.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top