Tokoh

Immanuel Kant (1724-1804)

Penulis : Pdt Netsen | Thu, 11 February 2016 - 12:01 | Dilihat : 1557

Perjuangan Hidup Sang Filsuf  

Immanuel Kant, lahir pada 22 April 1724 di Konigsberg, Prusia Timur (Russia). Kant dikenal sebagai seorang filsuf yang menawarkan sebuah analisis tentang rasio teoritis, moral dan kemampuan penilaian manusia. Dia memiliki pengaruh yang besar dalam pergerakan intelektual di abad ke-19 dan 20. Kant merupakan anak keempat dari sembilan bersaudara dari pasangan Johann Georg dan Anna Regina Kant. Ayahnya adalah seorang pengrajin atau pembuat baju zirah, dan mereka hidup dalam kesederhanaan. Keluarga Kant adalah salah satu anggota dari suatu kelompok keagamaan Protestan Pietis. Gerakan keagamaan Jerman ini memiliki kepercayaan yang kuat dalam pengalaman keagamaan dan studi Alkitab. Bagi mereka, keagamaan sangat menyentuh setiap aspek di dalam hidup. Khan merupakan seorang yang kritis akan agama formal, dia terus mengagumi "perilaku/perbuatan baik" Kaum Pietis. Kant adalah anggota Protestan Pietis dan sempat belajar di sekolah Pietis. Di sekolah itu pula ia memperoleh apresiasi yang mendalam untuk sastra-sastra Latin klasik, khususnya penyair Lucretius.

Kematian ayahnya pada tahun 1746 membuat Kant kehilangan dukungan finansial dari keluarganya. Filsuf, yang tertarik pada bidang matematika dan ilmu alam ini harus berjuang keras untuk membiayai pendidikannya. Dia menjadi seorang pembimbing privat, menerbitkan beberapa makalah ilmiah, hingga mempersembahkan sebuah risalah Latin "On Fire" untuk memenuhi syarat gelar doktornya. Kant menghabiskan 15 tahun (1755-1770) sebagai seorang dosen. Untuk bertahan hidup, dia mengajar selama kira-kira dua puluh enam hingga dua puluh delapan jam dalam seminggu. Terlepas dari beban berat untuk mengajar, Kant terus menerbitkan makalah dalam berbagai topik. Pada akhirnya, dia memperoleh jabatan guru besar di Königsberg pada tahun 1770. Saat berusia 57 tahun, Kant menerbitkan edisi pertama dari "Critique of Pure Reason" (Kritik atas Rasio Murni). Karyanya ini adalah salah satu dari buku-buku yang terpenting dan tersulit dalam pemikiran Barat. Tujuan dari kritik tersebut adalah untuk menjelaskan bagaimana pengalaman dan rasio berinteraksi di dalam pemikiran dan pemahaman. Kritik atas rasio murni adalah sebuah metodologi tentang bagaimana "pemahaman dan rasio dapat tahu/mengetahui terlepas dari pengalaman". Maksud dari proposal revolusioner ini adalah bahwa pikiran mengatur pengalaman-pengalaman kita ke bagaimana dunia terlihat dan bagaimana pendapat kita tentang dunia. Kant mengungkapkan bahwa teori-teori tentang Allah, kebebasan, dan amoralitas tidak untuk "dibuktikan" atau "tidak dibuktikan" melalui penggunaan rasio, tidak juga penggunaan metode ilmiah untuk "membuktikan" atau "tidak membuktikan" eksistensinya. Gagasan tentang hal-hal tersebut di luar alam pengalaman manusia.

Pemikiran Kant akan rasio, bahwa rasio teoritis terkait dengan pengetahuan, rasio praktis terkait dengan keinginan. Hal ini hanya untuk menjelaskan bahwa setelah rasio itu memutuskan apa yang dapat ia ketahui, ia harus menentukan bagaimana ia akan bertindak. Maka, kehendak bebas menentukan bagaimana seseorang akan menuntun hidupnya. Iman Kristen sejati percaya bahwa hidup ini dituntun oleh Allah bukan oleh kehendak bebas. Pelanggaran terhadap tuntunan Allah adalah kebinasaan. Tetapi bagi Kant, prinsip yang masuk akal dan mendasar dari moralitas bebas adalah beberapa hukum yang umum dan penting yang mengikutinya. Prinsip ini disebutkan oleh Kant sebagai "keharusan kategoris", yang menyatakan bahwa seseorang seharusnya bertindak dengan cara yang dapat diterima dan dapat diterapkan kepada semua orang. Dalam menanyakan hasil dari kebebasan manusia, Kant bersikeras bahwa rasio praktis mengasumsikan amoralitas jiwa dan keberadaan Allah sebagai kondisi/syarat untuk kebebasan yang sejati. Perlu diperhatikan bahwa manusia tidak punya kebebasan sejati, melainkan hidup di bawah hukum dan kedaulatan Allah. Kebebasan manusia adalah kebebasan yang terbatas.

Kegigihan Kant yang terus menulis hingga sesaat sebelum kematiannya, tentu menjadi kegairahan bagi orang yang menyadari bahwa belajar adalah seumur hidup. Hanya sebuah kehidupan yang memiliki disiplin diri luar biasalah yang memampukannya untuk mencapai tugasnya. Seiring usia yang terus berjalan, kesehatannya pun sangat rawan. Namun, sayangnya, menjelang akhir hidupnya, dia menjadi sangat antisosial serta mengalami kepahitan atas kehilangan ingatannya dan kapasitasnya untuk bekerja yang terus menurun. Kant menjadi benar-benar buta dan akhirnya meninggal pada tanggal 12 Februari 1804 di tanah kelahirannya. (netsen)

Lihat juga

Komentar


Group

Top