Mengenal Alkitab

Salibnya

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Fri, 26 February 2016 - 14:02 | Dilihat : 848

“Bila kuingat salibNya disitu Tuhan di paku” salah satu lirik lagu yang dituliskan Issac Watts, menceritakan pengorbanan Sang Juruselamat. Salib penderitaan yang diterima Anak Domba Allah. Yang Mulia namun terhina, demi kasihNya bagi kita.

“Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” Filipi 2:8. Arti kata salib (Yunani:stauros; kata kerja, stauroo; Latin crux, crucifigo) yang pertama ialah kayu sulaan atau balok yg didirikan tegak. Arti kedua, kayu sulaan sebagai alat untuk menghukum dan menghukum mati seseorang. Salib dalam Perjanjian Baru menjadi lambang yang memalukan dan menghinakan, namun juga menjadi lambang hikmat dan kemuliaan Allah.

Bagi orang Roma, salib bukan hanya sebagai alat menyiksa dan menghukum mati, tapi juga sebagai alat untuk menghukum orang dengan cara yang sangat memalukan di depan umum, untuk penjahat ulung dan keji. Sedangkan bagi orang Yahudi, penyaliban berarti kutukan. Inilah yang dialami Yesus Kristus. Ia tekun memikul salib dengan mengabaikan kehinaan. Ia terhukum demi kita yang berdosa.

Di salib, Kristus tergantung. Tangan dan kakiNya dipaku, lambung yang tertikam, darah yang tertumpah, mahkota duri melingkar, menusuk kepalaNya. Cambuk yang tajam menggores tubuhNya. Luka sayat menyelimuti seluruh tubuhNya, Ia merintih kesakitan, tetapi tidak ada yang menolongNya. Betapa jahatnya manusia, tidak mampu lagi membedakan antara baik dan jahat. Salib menjadi tempat pembunuhan yang paling mengerikan, namun Kristus menerimanya dengan penuh ketaatan. Adakah kita menyadarinya?

Salib menjadi lambang penebusan dosa. Di kematian namun memberi kehidupan. Kita dipanggil bukan hanya untuk mengingat salib penderitaan Kristus, namun lebih dari itu, menderita bagi Dia. “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga menderita untuk Dia”, (Filipi 1:29). Sangkal diri, pikul salib, ikut Dia dalam ketaatan melalui keseharian hidup kita.

Selamat mengikut Tuhan dengan hidup penuh kesungguhan. Menyalibkan keinginan diri untuk melakukan kehendakNya. ?Julius

Lihat juga

Komentar


Group

Top