Sapaan Gembala

Hidup Dalam Kebenaran

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Fri, 26 February 2016 - 14:10 | Dilihat : 975

Yesaya 33:15-16

Hidup dalam kebenaran di dalam segala ruang lingkup kehidupan memang sangat diperlukan dan tentu sangat menyenangkan bila dijalankan dengan sikap yang takut akan Tuhan.  Tanpa kebenaran, perkataan yang kita ucapkan menjadi sia-sia dan hambar adanya. Kebenaran yang sesungguhnya tak bisa ditawar, tak bisa ditambah atau dikurang. Bila ya, maka katakan ya dan bila itu tidak, maka katakan tidak.  Yesus, sejak kelahiran-Nya, kematian, dan kebangkitan bahkan sampai pada kenaikan-Nya ke surga, segala perkataan dan perbuatan-Nya adalah kebenaran itu sendiri yang tidak bertolak belakang dengan seluruh nubuat yang ada dalam kitab suci PL dan yang tak terbantah dalam seluruh penggenapannya di dalam sejarah.  Yesus berani berkata dengan lantang, “Akulah Kebenaran!” Sebab orang yang hidup benar, mereka berkata jujur, tidak mengada-ada dan tak ada dusta di dalamnya. Berani menyatakan jati diri yang sesungguhnya. Dan membiarkan diri diperiksa serta diuji oleh siapa saja.  Jujur dalam pikiran, hati dan perkataan serta tindakan.  Bila semuanya tidak bertolak belakang maka itulah kebenaran.  Namun bila hati, pikiran dan perbuatan serta tindakan bertolak belakang, itu bukanlah kebenaran. Kebenaran yang sesungguhnya harus mengikut sertakan dan mengikat ketiga bagian tersebut.  Itu sebab ketika Allah marah, bangsa Israel gentar dan terkejut. Sebab menurut mereka mereka orang benar dan sudah melakukan hal yang benar, namun melalui hati nurani, melalui pikiran mereka segera tahu bahwa mereka sudah tidak hidup benar.  Kebenaran yang sesungguhnya selalu berdiri sebagai hakim yang menghakimi diri di setiap bagian dan sudut kehidupan kita.  Allah tentu pribadi yang tahu sampai kelubuk hati yang terdalam sekalipun, baginya tidak ada yang tersembunyi.  Di dalam kebenaran Allah semua telihat sangat jelas dan terang.

 

Orang benar selalu berlaku jujur di segala aspek hidupnya.  Kejujuran itu sekaligus menjadi modal perjalanan kehidupan.  Jujur mungkin bagi kebanyakan orang adalah kebodohan.  Namun Alkitab menyebut orang jujur sebagai orang yang sedang berjalan di jalan yang rata (Amasl 15:19).  Mereka tidak akan pernah tersandung dan jatuh lalu menapaki hari-hari dengan percaya diri dan pasti. Tanpa kejujuran seseorang akan mengalami ketakutan dan kepuasan semu yang menakutkan.  Tentu tak ada nikmat sejati di dalamnya. Sebetulnya, mereka yang tidak jujur tanpa mereka ketahui sebenarnya mereka telah menaruh lobang di depan jalannya. Suatu saat, cepat atau lambat mereka akan tersandung dan jatuh dalam jeratnya yang membinasakan.  Karena itu menjadi jujur adalah panggilan hidup kita sebagai orang percaya.  Bila ternyata hanya kita sendiri berdiri sebagai orang jujur maka jangan pernah takut. Walaupun harus sendiri tidak mengapa karena dengan demikian setidaknya kita sendiri telah menjauhkan diri dari cara hidup yang jahat; pemerasan dan menerima suap, dll.  Bila kita telah jujur dan karena kejujuran itu kita justru diperlakukan dengan tidak adil maka itulah salib yang Tuhan ijinkan untuk kita pikul. Namun sebaliknya, bila kita tidak jujur dan benar biarlah kiranya hati kita tersentak dan gentar,  jangan sampai api Tuhan segera datang atasmu! Karena itu jangan pernah silau dengan berbagai tawaran dunia yang mengiurkan.  Pemeliharan Tuhan selalu cukup bagi mereka yang berlindung padanya.  Pertarungan melawan ketidakbenaran memang seharusnya dilakukan agar kehidupan kita sebagai orang benar segera bercahaya di dalam kegelapan.  Maka dari itu, hiduplah dalam kebenaran dan warnai dunia dengan kebenaran yang telah kita peroleh dari firman Tuhan.

Oleh: Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top