Tokoh

Yohanes Amos Comenius (Bapak Pendidikan Modern)

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Mon, 7 March 2016 - 13:28 | Dilihat : 2140

Comenius lahir pada tanggal 28 Maret 1592 di sebuah desa bernama Nivnice, di Morawi Tanggara, dekat tapal batas Hongaria. Pada masa kanak-kanaknya, Comenius menjalani hidupnya dengan bahagia karena keluarganya cukup berada dan dapat memberikan tunjangan kehidupan yang baik. Keluarga besarnya juga memberikan pembinaan iman yang baik kepadanya. Namun, ketika ia berusia sepuluh tahun, ayahnya meninggal. Satu tahun kemudian, ibunya juga meninggal. Tidak lama berselang, kedua kakaknya juga meninggal. Saat masih berusia sebelas tahun, Comenius sudah menjadi yatim piatu dan merasakan hidup seorang diri. Namun, setelah itu, ia diasuh oleh bibinya sampai usia enam belas tahun.

Pada usia enam belas tahun itu, ia pindah ke Prerov untuk meneruskan pendidikan di sebuah sekolah berkualitas, yaitu sekolah yang dikelola oleh Gereja Persaudaraan Morawi. Kurikulum sekolah tersebut berbasis Bahasa Latin sehingga para guru menggunakan Bahasa Latin sebagai bahasa pengantar studi. Comenius sebelumnya tidak fasih dalam menggunakan Bahasa Latin. Akan tetapi, ia memiliki kemauan dan usaha yang sungguh-sungguh untuk mempelajari bahasa tersebut sehingga ia dapat dengan cepat menguasainya dengan baik. Di lingkungan sekolahnya, nama famnya yang adalah "Komensky" diganti sesuai ejaan Bahasa Latin menjadi "Comenius". Bukan itu saja, pada namanya juga ditambahkan nama "Amos" yang dalam Bahasa Latin berarti "yang mengasihi". Setelah selesai menjalani studi di Prerov, Comenius memutuskan untuk menjadi seorang pendeta.

Tepatnya pada tanggal 30 Maret 1611, Comenius meneruskan studi di perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Gereja Reformasi. Selama belajar di Herborn, Comenius menyusun Kamus Ceko-Latin yang dilengkapi dengan aturan tata bahasa. Karya tersebut merupakan sumbangan ilmiah Comenius yang pertama sebelum ia menulis beberapa karya lainnya. Comenius belajar di Herborn selama dua tahun. Sesudah itu, ia berlibur ke Belanda, yang saat itu baru saja merdeka dari Spanyol. Setelah kembali dari liburannya di Belanda, ia kemudian melanjutkan studi di Universitas Heidelberg. Universitas tersebut menganut nilai Gereja Reformis Calvin. Di Heidelberg, Comenius mulai mengembangkan perpustakaan pribadinya, yaitu dengan mengumpulkan buku-buku. Comenius juga membeli naskah asli karangan Copernicus yang berjudul "De revolutionibus orbium coelstium".

Pada tahun 1616, Comenius menyusun buku pertamanya di Ceko, yaitu buku ensiklopedia yang terdiri dari 16 jilid. Buku tersebut dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan, "Teater Segala Sesuatu". Isi dari buku tersebut mencakup semua yang ada sejak penciptaan pertama sampai saat ini. Kemudian, buku yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan dengan "Sepucuk surat yang dialamatkan ke Surga". Isi dari buku tersebut adalah bentuk keprihatinan terhadap hubungan antara kaum kaya dengan kaum miskin. Dan, buku yang dalam Bahasa Indonesia dapat ditulis dengan "Peringatan Melawan Daya Tarik Anti Kristus". Buku ini merupakan bentuk penentangan terhadap dominasi Gereja Roma di Morawi.

Comenius kembali menulis beberapa buku pada tahun 1621-1631. Dalam menelurkan beberapa buku tentang metode pendidikan, Comenius sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kristiani. Hal itu ditunjukkan melalui dasar pendidikan yang ia terapkan dalam buku-buku pendidikannya. Comenius berpendapat bahwa pendidikan yang ia maksudkan selayaknya dinamakan pendidikan agama Kristen. Sebab, nilai dari pendidikan tersebut berpusat pada iman Kristen. Jadi, teologi dianggap sebagai dasar pertama yang menyoroti teori dan praktik pendidikan. Dalam teori pendidikannya, Comenius begitu menyoroti teologi tentang manusia yang dihubungkan dengan pendidikan. Ia mengambil Kejadian 1:26 sebagai titik awal dari metode pendidikannya.

Tiga hal yang paling mendasari setiap usaha dan pemikirannya dalam penyusunan karya pendidikannya: 1. Comenius melihat pendidikan sebagai daya pemersatu umat manusia. Ia yakin bahwa pendidikan universal dapat turut memelihara perdamaian dunia. 2. Comenius juga mengaitkan pengetahuan keilahian. Ia percaya bahwa dengan memperoleh pengetahuan, umat manusia pada akhirnya diarahkan kepada Allah. 3. Comenius juga menulis tentang caranya memimpin pengajaran, ia menulis, "Para siswa hendaknya tidak terlalu dibebani dengan pelajaran yang tidak cocok dengan usia, daya pemahaman, dan keadaannya pada saat itu."

Comenius meninggal pada tanggal 4 November 1670 di Amsterdam dan dimakamkan di Naarden. Sampai saat ini, sejarah dunia menempatkan Yohanes Amos Comenius sebagai Bapak Pendidikan Modern yang telah menciptakan berbagai metode pembelajaran berkualitas dan berdedikasi sebagai pengajar. /Julius/dbs

Lihat juga

Komentar


Group

Top