Sapaan Gembala

Dosa Jadi Alat Surga

Penulis : Pdt Slamet Wiyono | Mon, 21 March 2016 - 12:15 | Dilihat : 752

INI berita bukan lagi baru.  Mungkin kita juga sudah berkali-kali mendengar dan membaca sendiri. Kabar yang membuat kita kemudian mengelus dada.  Betapa tidak, sebuah lembaga umat yang menjadi ujung tombak dalam pendidikan keagamaan pun tak luput disasar oleh bandar narkoba.  Ya,sungguh memprihatinkan, lembaga pendidikan keagamaan milik umat islam (pesantren) pun tak luput diobok-obok oleh para penjual narkoba.  Alhasil, tak cuma para santrinya (pelajar/siswanya) yang menjadi korban, tapi juga para Kyai-nya (gurunya) pun berhasil diperdaya oleh bandar narkoba.   Seperti diberitakan Rimanews, (9/3/16) lalu, para bandar itu berhasil menipu para Kyai dan santri lantaran menyebut narkoba berjenis ineks atau ekstasi itu sebagai obat kuat untuk Zikir.  Menurut wikipedia, Zikir atau Dzikir adalah sebuah aktifitas ibadah dalam umat Muslim untuk mengingat Tuhannya. Di antaranya dengan menyebut dan memuji nama-Nya.  Umumnya ritual itu dilakukan dengan menggeleng-gelengkan kepala ke kanan dan kiri sembari menyebut Asma (nama) Tuhan.  Tak heran kalau muslihat para bandar narkoba berjaya memperdaya,  sebab, dengan doping konsumsi ekstasi – senyawa kimia yang sering digunakan sebagai obat rekreasi yang membuat penggunanya menjadi sangat aktif – ritual Zikir itu menjadi lebih bersemangat dan  tahan lebih lama.

Tulisan ini sama sekali tak ingin  menyoal latar agama atau lembaga tertentu.  Tapi menilik ironi dibalik fenomena yang kiranya bisa ditarik makna dari sana.  Dari fenomena ekstasi di lembaga pendidikan keagamaan seperti pesantren membuka mata semua, betapa narkoba telah merasuk ke seluruh sendi kehidupan.  Tipu daya para bandarnya bahkan telah berjaya memperdaya para guru agama dan para siswa yang bahkan sejak mula ada dan datang untuk memperdalam ilmu agama. Ini Ironi, karena tipudayanya justru menyasar para calon cerdik cendikia di bidang agama yang kelak akan menjadi para pengajar ilmu agama.  Ironi, karena tipudayanya justru menjadikan narkoba yang tentu saja ditentang keras oleh agama itu sebagai satana penunjang ritual ibadah.  Bukankah ibadah adalah salah satu instrumen positif untuk  memberi dan membentengi diri dari aktifitas yang menjurus ke arah negatif seperti mengonsumsi narkoba?  Tapi karena tipu daya, narkoba yang ingin dihindari, jauhi dan untuk itu diri dibentengi, yang salah satu instrumennya adalah menjalankan ibadah, justru menjadikan narkoba sebagai alat penunjangnya. Lagi-lagi ini adalah ironi!

Itu fenomenanya. Itu juga faktanya. Tapi bukan berarti menyaksikan realita yang ada boleh membuat kita menepuk dada sambil berkata:”kami (kristen) beda!” Sebab apapun agamanya atau seperti apa latar hidup kita, laki atau perempuan; rohaniawan atau olahragawan; imam atau awam, tidak satupun dari kita yang imun terhadap dosa, pun narkoba.  Bukankah tidak sedikit, kalau enggan menyebut banyak kali, terdengar slentingan di telinga tentang pendeta anu, atau anak dari pendeta itu mengonsumsi narkoba? Silakan bukan mesin pencari anda dan cari disana betapa tidak sedikit hamba Tuhan  yang terjebak di dunia narkoba, bahkan beberapa diantaranya memanfaatkan Metamfetamin yang dikenal di Indonesia sebagai sabu-sabu. Salah satunya adalah pendeta dari kelompok Injili satu ini, Ted Haggard (www.en.wikipedia.org/wiki/Ted_Haggard).  Bukan tidak mungkin tujuan mengonsumsi Metamfetamin, yang berdampak secara psikoaktif dan membuat tubuh manusia berfungsi maksimal dalam jangka waktu yang relatif lama itu, dimanfaatkan sebagai salah satu cara penunjang pelayanan para televangelis itu. “Memaksimalkan” pelayanan para pelayanan yang sering plesir ke pelbagai tempat dan negara, yang konon mengatasnamakan pelayanan.  Bukan cuma di negri yang jauh di sana, di tanah air kita sendiri kita juga sering mendengar bagaimana para pelayanan Tuhan itu mengonsumsi minuman beralkohol agar lebih lancar berbicara.  Sampai ada istilah baru untuk air yang diminum sebagai “air kata-kata”. 

Lagi-lagi ini adalah ironi. Demi optimalisasi jangkauan pelayanan, demi memaksimalkan diri agar lancar bicara ketika melayani orang rela menghalalkan segala cara dan sarana sebagai penunjangnya.  Memakai sarana dosa sebagai penunjang ritual surga.  Benar, bukan tidak mungkin Tuhan tetap dapat memakai orang yang keliru laku seperti itu sebagai sarana menyampaikan FirmanNya.  Tapi lagi-lagi ini ironi kalau sampai orang yang dilayani ada dalam sentuhan dan dipelukan Allahnya, sementara si pewarta sendiri justru ada di sisi lainnya, di mana Tuhan tidak berkenan kepadanya.  Slawi

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top