Mengenal Alkitab

Korban Yang Berkenan Kepada Allah

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Mon, 21 March 2016 - 12:16 | Dilihat : 1361

Ibrani 13:9-16

Orang Yahudi mempunyai hukum yang ketat mengenai makanan (band. Imamat 11).  Mereka percaya bahwa mereka dapat melayani dan menyenangkan Tuhan dengan makan makanan tertentu saja.  Kemungkinan besar pada waktu itu ada beberapa orang yang merasa perlu kembali menempatkan diri di bawah kuk hukum dan peraturan-peraturan Yahudi mengenai makanan.  Mereka menyangka bahwa dengan berbuat demikian mereka akan memperkuat kehidupan rohani mereka.  Namun ada juga orang-orang Yunani yang telah dipengaruhi oleh pemikiran Pythagoras dan Gnostik memiliki pemikiran tertentu tentang makanan.  Mereka beranggapan bahwa badan itu secara keseluruhan jahat, dan bahwa manusia harus memusatkan diri pada roh yang keseluruhan baik.  Akhirnya mereka mengurangi makanan sampai batas minimum dan juga berpantang makan daging.  Dengan demikian mereka merasa telah menguatkan hidup rohani mereka dan membebaskan nyawa mereka.

Yang dipersoalkan oleh mereka sebetulnya tidak satupun yang benar.  Korban – korban itu adalah merujuk pada korban penghapusan dosa yang dikerjakan Kristus.  Dan memang menjadi masalah ketika mereka yang beribadah menghendaki makan daging korban itu, mereka tidak diperkenan sebab korban itu harus dibiarkan terbakar habis di suatu tempat di luar perkemahan (band. Imamat 16:27).  Penulis surat Ibrani memberi penekanan secara serius kepada Yesus sebagi korban yang sempurna.  Korban penebusan itu jelas bertujuan untuk menguduskan umat-Nya dengan darah-Nya sendiri.  Suatu gambaran yang sangat penting bahwa Kristus sama seperti korban penghapusan dosa itu, Ia disalibkan di luar pintu gerbang.  Disingkirkan dan diasingkan dari manusia dan digolongkan sebagai orang yang durhaka.  Penulis Ibrani juga memberitahukan bahwa kita juga harus memisahkan diri dari kehidupan duniawi dan bersedia menanggung penghinaan seperti Kristus.  Pengasingan dan penghinaan dapat saja dialami oleh orang Kristen, sama seperti yang dialami oleh Juru-selamatnya.  Penulis Ibrani juga mengingatkan bahwa di dalam dunia kita hanyalah seorang musafir yang tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, cepat atau lambat kemah tubuh kita akan dibongkar dan kita akan pergi ke kota abadi.

Penulis Surat Ibrani lebih lanjut menegaskan bahwa sebagai orang percaya kita perlu terus-menerus mempersembahkan puji-pujian dan rasa terima kasih kepada Allah serta ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.  Rasa terima kasih yang mendalam akan cinta kasih dan pengorbanan yang besar dengan mengutus Anak-Nya yang Tunggal sebagai pendamai antara manusia dengan Allah.  Dan kita juga dapat mempersembahkan kehidupan yang benar melalui perbuatan-perbuatan baik yang dilakukan kepada sesama dan itu sama seperti doa seorang Kristen zaman dahulu, “Aku mengharap supaya hatimu berbuah dan kamu berbakti kepada Allah, Pencipta alam semesta, dan supaya kamu terus menerus mempersembahkan doamu dengan cara bermurah hati; karena kemurahan hati yang dinyatakan oleh manusia kepada sesamanya adalah korban tak berdarah dan suci di hadapan Allah.”  Yesus pun pernah berkata, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku ‘ (Matius 25:40).  Dengan demikian tahulah kita bahwa korban yang paling baik untuk dipersembahkan kepada Allah ialah memberi bantuan kepada salah seorang dari anak-anak-Nya yang memerlukan.  Sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah. Oleh: Nikodemus Rindin

Lihat juga

Komentar


Group

Top