Tokoh

Dwight L. Moody, Penginjil Berhati Kristus Yang Inovatif

Penulis : Pdt Netsen | Mon, 21 March 2016 - 12:19 | Dilihat : 2300

Dwight Lyman Moody, lahir di Northfield, Massachusetts, dalam sebuah keluarga tukang tembok Unitaris. Ayahnya meninggal ketika Moody berusia empat tahun, meninggalkan sembilan anak untuk dibesarkan oleh Betsey, ibunya. Ibunya tidak pernah mendorong Moody untuk membaca Alkitab. Moody tidak seberuntung anak-anak lainnya yang lengkap orang tua dan punya harta kekayaan. Ia hanya mendapatkan pendidikan dasar. Moody berjuang untuk hidupnya. Pada usia 17 tahun ia menjual sepatu di toko milik pamannya. Di tengah kesibukannya, Moody menyempatkan diri untuk pergi ke kelas-kelas khusus para pemuda Kristen yang disebut YMCA (The Young Men's Christian Association) dan sekolah minggu, di mana ia menjadi seorang Kristen pada usia 18 tahun. Namun orientasi hidupnya masih pada mengumpulkan harta. Tidak lama setelah itu, ia pindah ke Chicago untuk menjual sepatu dan bekerja demi mencapai tujuannya yaitu mengumpulkan uang sebesar $100.000.

Perlahan-lahan menjadi jelas bagi Moody bahwa dalam terang kepercayaannya yang baru, hidupnya tidak seharusnya dihabiskan untuk mengumpulkan kekayaan sebanyak seperti membantu para fakir miskin. Pada tahun 1858, ia mendirikan sekolah minggu misi di permukiman kumuh di Chicago. Sekolah itu segera berkembang menjadi sebuah gereja. Pada tahun 1861, ia meninggalkan bisnisnya untuk berkonsentrasi pada pekerjaan sosial dan penginjilan. Ia menarik anak-anak dari para imigran kelas bawah yang berasal dari Jerman dan Skandinavia kepada misinya dengan permen dan mengendarai kuda poni, dan ia menarik orang-orang dewasa melalui persekutuan doa malam dan kelas bahasa Inggris. Ia meyakini bahwa, "Jika Anda bisa membuat seseorang percaya bahwa Anda mengasihinya, Anda telah memenangkannya."

Moody menjadi presiden YMCA selama empat tahun. Ia memperjuangkan misi-misi penginjilan seperti membagikan traktat ke seluruh penjuru kota, serta mengadakan persekutuan doa siang. Selama Perang Saudara, ia menolak untuk ikut berseteru, ia berkata, "Dalam hal ini, aku adalah seorang Quaker," tetapi ia bekerja melalui YMCA dan Komisi Kristen United States untuk menginjili para prajurit sekutu. Dengan tidak kenal lelah, ia berusaha mencari dan mendapatkan dukungan dana untuk seluruh proyeknya dari pengusaha-pengusaha Kristen kaya seperti Cyrus McCormick dan John Wanamaker. Dalam semua usahanya tersebut, ia mencoba untuk menggabungkan pekerjaan sosial yang efektif dengan penginjilan. Kebakaran besar Chicago pada Oktober 1871 menghancurkan gereja misi Moody, rumahnya, dan YMCA. Ia pergi ke New York untuk menggalang dana demi membangun ulang gerejanya dan YMCA, tetapi ketika sedang dalam perjalanannya, ia merasakan apa yang dideskripsikannya sebagai "sebuah hadirat dan kuasa" yang tidak pernah diketahuinya sebelumnya, begitu kuat sehingga ia berteriak dengan keras, "Tahan Tuhan, itu sudah cukup!" Ia kembali ke Chicago dengan visi yang baru: mengabarkan tentang Kerajaan Allah, bukan pekerjaan sosial, yang akan mengubah dunia. Kemudian, ia mendedikasikan energinya yang begitu besar semata-mata hanya untuk penginjilan dunia.

Moody merupakan seorang penginjil yang inovatif dan berhati Kristus. Ketika melalui penginjilannya, banyak orang dituntun datang kepada Kristus (bertobat) dan popularitasnya semakin menigkat, namun Moody mengakui, "Saya tahu persis bahwa ke mana pun saya pergi dan berkhotbah, masih banyak pengkhotbah yang lebih baik ... daripada saya; yang bisa saya katakan tentang itu adalah bahwa Tuhan memakai saya."

Di dalam kehidupannya, Moody selalu berupaya menggunakan kesempatan untuk berkhotbah. Dan salah seorang misionaris besar, Hudson Taylor yang menjadi misionaris di China adalah lahir dari pelayanan seorang Moody. Dalam panggilan pelayanannya, Moody juga melatih tentara Allah. Ia melihat adanya kebutuhan akan sebuah tentara yang terbentuk dari orang-orang awam yang dilatih dengan Alkitab untuk melanjutkan pekerjaan penginjilan di dalam kota. "Apabila dunia ini ingin dijangkau," ia berkata, "saya yakin bahwa hal itu harus dilakukan oleh para pria dan wanita dengan talenta rata-rata. Lagi pula, hanya ada relatif lebih sedikit orang di dunia ini yang memiliki talenta yang besar." Demikian Tuhan mengukir hidup dan pelayanan Dwight Lyman Moody. (netsen/dbs)

Lihat juga

Komentar


Group

Top