Mengenal Alkitab

Layaknya Seorang Pemimpin

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Tue, 29 March 2016 - 12:56 | Dilihat : 936

Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu (Ibrani 13:17)

Menaati adalah terjemahan dari kata kerja Ibrani mendengar (Yes 42:24), atau memegang perintah-perintah. Kata tunduklah: mengakui kekuasaan (seseorang), tunduk/menyerah/takluk kepada penguasa. Penulis Ibrani sedang mengingatkan supaya umat bukan hanya “mendengar” atau “memegang” teguh nasihat yang disampaikan, tetapi harus berani mengakui dan menaklukan diri kepada penguasa (pemimpinmu). Inilah gambaran ketaatan Kristus kepada Allah . “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib” (Filipi 2:8).

Taat dan tunduk kepada pemimpin dijelaskan pada ayat sebelumnya, “Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu” (Ibr. 13:7a). Kata “menyampaikan” berarti: memberikan, memenuhi kewajiban, menunaikan, mencukupkan. Maka Pertama, pemimpin disini adalah mereka yang menyampaikan firman Allah kepadamu secara terus menerus. Tak ada keluh kesah disana, tapi sukacita memenuhi kewajiban dalam menunaikan tugas.

Kedua, pemimpin dimaksud adalah orang-orang yang telah memelihara dan bertumbuh dalam iman(Ibr. 13:7b). Sebagaimana Sadrakh Messakh dan Abednego dalam Daniel 3:16-17. Lalu Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." Maka, pemimpin yang benar adalah mereka yang bukan hanya berani menyampaikan firman Tuhan, tetapi berani menerima resiko apa pun demi kebenaran. Bagaimana dengan kita?

Pemimpin memiliki pekerjaan yang berat. Dikatakan mereka harus berjaga-jaga atas jiwamu (Ibr. 13:17b). Kata “berjaga-jaga” adalah: tidak tidur semalam suntuk, bersiap-siap; bersiap sedia; berawas-awas; berhati-hati. Inilah tugas seorang pemimpin. Para pemimpin umat Allah, seperti Pendeta atau Penatua, yang wajib selalu memelihara kesejahteraan kehidupan rohani jemaatnya, melalui pengajarannya, dan memperingatkan mereka agar mewaspadai bahaya rohani (ajaran-ajaran yang berbeda dengan Injil).

Hal lain juga yang diingatkan Penulis kitab Ibrani adalah tanggung jawab(Ibr. 13:17c). Kata bertanggung jawab artinya berkewajiban menanggung; memikul tanggung jawab, menanggung segala sesuatunya. Tiga kali Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. (Yoh.21:16-19). Bertanggung jawab adalah melakukan segala sesuatu sesuai dengan perintah, tanpa memandang besar kecilnya beban yang diberikan.

Maka penulis kitab Ibrani mengingatkan selayaknya para pemimpin rohani adalah mereka yang penuh tanggung jawab dan dedikasi, penuh sukacita memimpin umatNya untuk hidup dalam kebenaran. Sebaliknya umat yang dipimpin hidup dalam ketaatan untuk mengikuti kebenaran yang diajarkan.

Kristus adalah pemimpin sejati, ketaatan dibuktikanNya sampai mati di atas kayu salib. Selamat memimpin dengan penuh ketaatan akan kebenaran!

Lihat juga

Komentar


Group

Top