Sapaan Gembala

Jalan Yang Sulit

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Mon, 9 May 2016 - 09:46 | Dilihat : 800

Lukas 9:23;13:24

Jalan yang Sulit tentu tak banyak orang yang suka karena dunia lebih senang menerima dan menapaki jalan hidup yang mudah dan lebar sehingga menghindari pemberitaan tentang jalan salib atau jalan sengsara tetapi lebih senang mendengar para motivator berbicara tentang jalan hidup yang mudah dan hidup meraih sukses sebanyak-banyaknya. Sayangnya gereja pun ikut terpeleset dan ambil bagian dalam menebar pemberitaan tentang jalan sukses itu sehingga ajaran ini masuk lebih mulus, tumbuh dan menjalar ke dalam gereja melalui para pengajar teologi sukses - kemakmuran.  Baginya, ikut Yesus pasti sukses, diberkati berlimpah-limpah dan jalan hidup lebih baik dari sebelumnya.

Namun Yesus dengan tegas menolak ajaran itu dan mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikut-Nya harus memikut salibnya setiap hari dan berjuang untuk masuk melalui pintu yang sesak atau yang sulit itu.  Sesungguhnya bahwa tidak ada jalan yang mudah bagi orang yang mengaku percaya kepada-Nya. Di dalam Dia kita diproses, dibentuk, dihancurkan, dan diijinkan mengalami kebangkrutan diri sebagai bagian dari penyangkalan diri untuk dibangun menjadi manusia baru. Di dalam kebangkrutan diri kita menyadari ketidakberdayaan, ketidakmampuan dan kekosongan hidup tanpa Kristus yang bertahta di dalamnya. Dia yang menjadi pemimpin dan yang berkuasa penuh atas hidupku karena hidupku adalah milik-Nya seutuhnya. Tantangan dan salib bukan menjadi sesuatu yang terlalu berat dipikul dan membuat kita cengeng sehingga harus dihindari. Oswald Smith mengatakan, jika kekristenan dikabarkan dengan sesungguhnya, maka tidak akan menjadi berita yang populer. Inilah kekristenan sejati! Namun bukan berarti kita gemar memberitakan tentang penderitaan dan pergumulan hidup serta memaksa orang untuk hidup menderita. Yang dikatakan Yesus Kristus adalah jika kita ikut Dia, maka hal-hal ini tak terelakkan. Karena nabi-nabi bergumul, rasul-rasul bergumul, bapa-bapa gereja dianiaya, maka kita pun seharusnya rela dan berani menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan berjuang dalam memelihara iman yang murni serta mengikut Yesus dengan sungguh-sungguh. Berani hidup benar meski tidak disukai.  Berani berkata benar meski seorang diri.  

Mengapa jalan ini sulit? Ini bukanlah jalan yang dapat diusahakan oleh kecakapan, kebaikan, kesucian dan kepintaran manusia. Karena siapakah manusia yang layak dihadapan Allah dan mampu memperkenankan-Nya melalui hidupnya sehingga Tuhan harus menerimanya dan menyelamatkannya.  Itu sebab di dalam jalan sulit ini kita hanya perlu anugerah Tuhan dan memerlukan tangan-Nya terbuka menyambut kita.  Mengikut-Nya dan diselamatkan itu hanya karena kehendak-Nya semata.  Dan dijalan itu, kita boleh memikul salib setiap hari sebagai bagian dari tanggungjawab hidup orang yang sudah ditebus.  Itu sebab anugerah tanpa salib menjadi anugerah yang murahan dan bisa salah pengertian bahkan bisa saja terjadi penyelewengan. Merasa sudah diselamatkan dan boleh berbuat dosa karena anugerah Allah selalu tersedia, seperti konsep pemikiran hyper-grace. Padahal anugerah Allah adalah anugerah yang disertai dengan tanggungjawab si penerimanya, yakni menyangkal keinginan daging dan memikul tanggungjawab sebagi orang yang percaya. Namun salib tanpa perjuangan iman, tidak akan pernah membentuk seseorang menjadi tangguh dan bertumbuh dengan sehat di dalam kerohanian.  Di dalam realita perjuangan iman yang dihadapi orang percaya, kita akan diproses di bentuk dan di bangun di dalam Dia sehingga terus berdiri dalam iman yang kokoh. Perjuangan iman menolong seseorang untuk bertumbuh dalam anugerah-Nya dan menghasilkan kematangan rohani untuk tetap teguh dalam iman percaya.   Akhirnya, marilah kita terus berjalan di jalan yang sulit ini dengan setia dalam pertandingan iman dan mengakhirinya dengan baik. 

Oleh: Nikodemus Rindin

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top