Sapaan Gembala

Makin Lama, Makin Kuat

Penulis : Pdt Nikodemus Rindin | Mon, 23 May 2016 - 13:30 | Dilihat : 960

Mazmur 84:1-13

Oleh: GI. Nikodemus Rindin

Pemazmur bani Korah adalah suatu keluarga dari suku Lewi yang pandai bernyanyi.  Puji-pujian yang indah dinaikan kepada Tuhan, dengan penuh sukacita dan dengan penuh keagungan.  Syiarnya yang indah menambah rasa kegaguman kepada Allah yang disembah.  Perjalanan imannya yang begitu agung dituangkan dalam bentuk kerinduannya yang mendalam akan Allah yang dipercayai.  Mempercayai Allah dan menikmati kekaguman akan Dia itulah yang terjadi. Sang pemazmur pun mengungkapkan bahwa ia senang dengan tempat kediaman Tuhan. Kerinduan yang begitu dalam membuat jiwanya hancur karena merindukan tempat yang khusus itu. Apakah memang tempat itu yang menjadi alasannya? Tentu saja tidak, namun tempat itu menjadi simbol kerinduan akan Pribadi Allah itu sendiri.  Memang seharusnya, Allah dan kehadiran-Nya menjadi hasrat kita.  Semakin dalam kita mengenal Dia, maka kita dibuatnya semakin rindu dan haus akan Dia.  Daud sampai merasakan ada kalanya Tuhan dirasa begitu jauh dan adakalanya Ia terasa begitu dekat.  Gambaran jauh dan dekat seolah menjadi ukuran dalam kebersaman dengan Tuhan. Tentu saja hanya mereka yang pernah dekat dengan-Nya bisa merasakan situasi seperti itu. Yang pasti Tuhan tidak pernah jauh dari kita, yang ada hanyalah kita yang menjauh daripada-Nya.  

Pernahkah anda merasakan jiwa yang hancur karena merindukan Tuhan? Rindu yang disertai semangat yang kuat untuk menikmati hadir-Nya. Bukan karena rutinitas dalam melakukan kewajiban agamawi saja. Sebab seharusnya Allah menjadi pusat yang mendatangkan kebahagiaan yang sejati.  Itu sebab segala puji-pujian dinaikan kepada Allah dan mereka merasa ketika mereka meninggikan nama-Nya ada kekuatan yang mengalir di dalam seluruh kehidupan yang menuntun mereka untuk bergerak, berkata-kata dan berani membayar harga karena Dia layak menerima-Nya.  Bila Allah tidak menjadi kebagiaan kita maka sebenarnya kita telah kehilangan makna kebagiaan dalam  hidup.  Semua kebahagiaan yang ditawarkan oleh dunia ini adalah semu adanya. Kita hanya dibuat senang sementara dan sedih selamanya.  Namun di dalam Dia kita memiliki kebahagiaan yang kekal.  Kebahagiaan inilah yang memimpin kita untuk terus semangat dalam perjuangan dan pertandingan iman di dalam dunia ini.  

Bila seseorang berjalan di dalam perjalanan iman yang benar maka secara progresif perjalanan imannya semakin lama, makin kuat. Perjalanan yang keras sekalipun tidak pernah dapat melemahkan langkah mereka.  Bahkan apabila mereka melintasi lembah baka, mereka tidak pernah putus asa, namun mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air. Sebab Allah adalah sumber kekuatan mereka. Tak ada satupun persoalan dapat menghambat langkah orang yang berserah penuh kepada Tuhan.  Bahkan dalam kesukaran hidup pun, kebaikan-Nya dapat dirasakan oleh mereka yang bersandar pada-Nya. Kasih dan kemuliaan-Nya, Ia berikan.  Ia mendengarkan doa orang percaya yang meminta pertolongan. Ia bahkan menjadi perisai. Dan Ia menjadi tempat perteduhan yang menyukakan hati.  Sama seperti seorang ayah atau ibu yang selalu ingin melakukan kebaikan kepada anak-anaknya, demikian juga dengan Allah kita.  Ia rindu memberikan kebaikan-Nya itu, dan kita dianggap-Nya layak menerimanya.  Sebab itu, Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela. Berbahagialah mereka yang percaya kepada Tuhan.

Lihat juga

jQuery Slider

Komentar


Group

Top