Tokoh

Thomas Woodrow Wilson, Politikus Kristen

Penulis : Pdt Julius Mokolomban | Sun, 10 July 2016 - 10:45 | Dilihat : 807

Thomas dilahirkan di Staunton, Virginia. Sepanjang hidupnya, ia tetap memegang nilai-nilai tradisi kehidupan serta warisan pengajaran keluarganya. Ayah Wilson adalah seorang pendeta dari Presbiterian Selatan. Sejak awal, orang tua Wilson sudah melihat bakatnya berbicara. Mereka pun mendorong Wilson untuk memerdalam pengetahuannya dalam menulis, berdebat, berpidato, dan membekalinya dengan iman Kristen. Ia dilatih dalam kebiasaan mengadakan saat teduh yang terus dipertahankan sepanjang hidupnya.
Sepanjang hidupnya, Wilson mengalami sejumlah besar pengalaman Kristen. Ia mengalami pertobatan yang murni pada tahun 1872 -- 1873. Pada saat di Wesleyan, ia begitu tergerak oleh khotbah D.L. Moody yang mengubahkan Wilson dari kebiasaannya menulis doa-doa sebelum mengajar, menjadi doa yang spontan dalam kata-kata sendiri. Saat dia memulihkan kesehatannya akibat serangan stroke, ia menulis cara pandangnya tentang kekristenan bukan sebagai etika atau "suatu filsafat altruisme (mengutamakan kepentingan orang lain)", tetapi sebagai "kasih, berpandangan jernih, setia, pribadi" sebagaimana yang diperlihatkan Kristus yang "datang bukan untuk menyelamatkan diri-Nya, tetapi untuk menyelamatkan isi dunia".
Dalam keseimbangan itu, iman Wilson lebih bertumpu pada moral dari pada bersifat injili. Lebih menggali sumber-sumber etika daripada penyampaian pesan kasih karunia. Salah satu tujuannya ialah mendukung keyakinannya dalam kemajuan kemanusiaan. Saat Wilson menyampaikan ceramahnya pada tahun 1911 yang menekankan karakter politik. Kitab Suci merupakan "Magna Carta" dari jiwa manusia". Dalam ceramahnya itu, dia mendapat sambutan yang baik. Wilson mengakhiri ceramahnya dengan: "Saya meminta setiap pria dan wanita di hadapan saya menyadari bahwa sebagian nasib bangsa Amerika terletak pada penyelidikan harian dari kitab yang berisi pernyataan Allah. Jika ingin melihat kebebasan dan kemurnian di Amerika, maka mereka akan membuat semangat tetap murni dan bebas melalui baptisan Kitab Suci."
Sebagai negarawan Kristen, Wilson juga memiliki keterbatasan. Dia terlalu menyamakan cita-cita Amerika dengan cita-cita Kitab Suci. Dia dianggap buta terhadap pengajaran Alkitab mengenai dosa manusia dan keperluan akan kasih karunia untuk membuat dunia lebih baik. Tetapi jika ini terbatas hanya pada pemikiran Wilson, maka dibutuhkan suatu kekuatan yang luar biasa. Wilson tidak menganggap politik sebagai suatu perjuangan untuk memeroleh sesuatu, atau diplomasi internasional hanya sebagai satu-satunya cara untuk mengamankan negaranya sendiri. Tetapi lebih kepada pandangannya bahwa manusia diciptakan Allah untuk menikmati kebaikan serta kasih karunia-Nya.
Mereka diciptakan Allah supaya merdeka. Mereka diciptakan untuk merefleksikan keagungan Pencipta mereka. Apapun kesalahan yang dapat ditemui dalam visi Wilson, cita-citanya yang tinggi patut kita hargai. Dalam suatu abad yang penuh dengan penderitaan dan pertumpahan darah di mana bangsa-bangsa bersaing dan berperang, gagasan seperti itu kontradiktif. Itulah gagasan-gagasan yang berasal mula dari pendidikan Kristen yang diterima Wilson ketika masih kecil dan dalam iman Kristen yang dicurahkannya sepanjang hidupnya. Itu merupakan gagasan-gagasan yang bercikal bakal pada janji-janji Allah. /Julius/db

Lihat juga

Komentar


Group

Top